
Malam ini adalah malam pengikatan antara tuan dan Penjaganya, bukan hanya aku dan Karan yang akan diikat, ada 4 Penyihir dan 4 Penjaga lainnya. Aula yang penuh dengan para Penjaga karna ini acara yang sangat sakral untuk para Penjaga.
Ada panggung kecil di depan, aku duduk di sebelah kiri bersama para Penyihir lain dan Karan di sebelah kanan bersama Penjaga lainnya. Para guru berada di tengah ruangan aula, dan yang lain berada di sisi-sisi aula.
Guru Cakra berdiri dari duduknya dan naik ke atas panggung, seisi telah mengerti apa yang harus dilakukannya.
“Selamat malam para Penyihir terhormat, para murid murid kesayanganku. Malam ini akan kita menyaksikan acara yang sangat sakral bagi Penyihir dan Penjaga...”. pidato dari guru Cakra untuk memulai acara sakral ini.
Salama guru Cakra berpidato, aku terus menatap Karan. Sesekali dia tersenyum tipis padaku. Sebentar lagi aku dan Karan akan diikat menjadi sahabat selamanya. Sesosok laki-laki yang akan terus menjaga aku dengan segenap hati dan raganya tanpa pamrih.
Guru Cakra telah selesai berpidato, ia turun dari panggung dan berganti Master Laiz yang naik ke panggung . Sempat dia tersenyum pada saat jalan menaikkan panggung.
“Ayo kita mulai acaranya”.
Seisi aula bertepuk tangan, aku melihat Gadis, Erly dan Erik, mereka menyemangatiku dengan kepalan di tangannya.
“Para Penyihir dan Penjaga maju ke depan”. aku dan yang lainnya naik ke panggung. Posisi para Penyihir berhadapan dengan Penjaganya, begitu pun aku yang sedang berhadapan dengan Karan. Karan terlihat sangat siap untuk acara ini.
Seorang guru cewek naik ke atas panggung dengan membawa nampan yang berisi 5 pisau. Da memberikan pisau kepada setiap Penjaga.
“Kalau begitu mulailah dan ucapkan kata-kata sumpah kalian” suara Master Laiz tanpa pengeras suara. “setelah kalian di ikat, kalian akan menjadi Penjaga seutuhnya, mereka akan mengerti isi pemikiran kaliannya, pe-“
“Membaca pikiran” potongku.
“Iya”
Dengan kata lain, Karan bisa membaca pikiranku, yang aku tahu hanya telepati dan pemberian rasa sakit. Karan tidak boleh tahu apa yang ada di pikiranku.
“Kalau begitu mulailah” Master Laiz menatapku. “Ada apa Karin, apa kamu kurang puas dengan Karan?”
Aku menatap Karan, wajahnya tersenyum manis padaku. Karan memegang tanganku dengan lembut. “Aku kan berjanji akan menjadi Penjaga, teman, sahabat dan saudara untukmu. Menerima rasa sakitmu dan menjagamu, aku akan ada selalu di sisimu dan menyayangimu Karin”
Dia melepas tanganku. Tangan kirinya memegang pisau, dia menggores telapak tangan kanannya. Terlihat berdarah di sana, lalu dia memberikanku pisau, aku sempat terdiam sejenak. Penjaga lainnya sudah melakukan pengikatan tinggal, aku dan Karan yang belum.
Kuambil pisau itu di tangannya, aku gores juga tapak tangan kananku, rasanya sangat perih. Karan menempelkan telapak kanannya dan pada telapak tanganku. Rasanya darah Karan masuk ke dalam tanganku, begitu pula dengan dia rasanya. Tidak lama goresan telapak tangan kami berdua menghilang, dan menyisakan tanda nama di telapak tangan kami berdua. Di telapak tangannya ada namaku, dan di telapak tanganku ada namanya.
Tidak lama telapak tanganku dan Karan mengeluarkan kilatan-kilatan putih. Para guru dan seisi aula berdiri, di tanganku dan Karan menyisakan tanda berwarna putih bercahaya di sana. Sampai akhirnya kilatan itu berhenti tepat di atas jantung.
Para seisi aula terlihat kaget. Aku dan Karan pun tidak mengerti apa yang terjadi. Master Laiz terkejut dan membawa kami keluar, sempat kulihat Guru Cakra berjalan ke atas panggung dan menggunakan sihirnya untuk menghapus ingatan para seisi aula termasuk para guru.
“Apa kau mempelajari Virgilio?”tanya Karan yang membuatku terkejut, dari mana dia tahu bahkan ayah saja tidak tahu. Pantas saja aku merasa kekuatanku sedikit hilang.
Kututup rapat-rapat pikiranku hingga dia tidak bisa memasuki pikiranku lagi.
“Virgilio!!” suara keras dari Master Laiz, aku terkejut mendengarnya baru kali ini melihatnya marah. “masuk!” Master Laiz membuka pintu sebuah ruangan yang agak jauh dari aula. “Dari mana kamu tahu tentang Virgilio?” tanya Master Laiz. Aku hanya menatap tanpa berkata apapun lalu dia beralih ke Karan untuk meminta jawaban.
“Aku hanya melihat dia mengatakan Virgilio dengan seorang peri” Aku menatap karena aku tidak percaya kalau dia benar-benar membaca pikiranku.
“Sejauh mana kau membaca pikiranku Karan?” Aku marah pada Karan, dia menatapku dengan rasa bersalah. Karan mendekatiku namun aku mundurkan tubuhku menjauh darinya.
“Itu tidak penting sekarang, aku tanya sekali lagi padamu Karin dari mana kau tahu Virgilio” Master Laiz memegang kedua bahuku dan meminta jawaban dari mulutku. Aku hanya menggeleng untuk jawabannya. “Karan apa kau tahu si iblis August, mereka sedari dulu mengincar kekuatan Virgilio atau orang yang paham tentang virgilio kekuatan it-“
“Buku itu sudah kumusnahkan” potongku.
Dulu kala iblis August ingin menguasai dunia sihir, dia diam-diam mengambil jiwa-jiwa para Penyihir. Penyihir yang mempelajari tentang kekuatan Virgilio akan menjadi jackpot besar untuknya. Maka dari itu kekuatan Virgilio dilarang.
Sebenarnya aku berbohong, buku itu aku simpan di tempat tak ada orang lain yang tahu. Lagi-lagi Karan masih membaca pikiranku. “bisakah kau keluar dari pikiranku Karan, Aku tidak suka” suaraku agak tinggi.
“Buku itu masih ada Master”. Aku tidak percaya padanya, aku merasa dikhianati olehnya. Aku membencinya. “maaf Karin ini bukan masalah yang kecil”.
Aku berjalan mendekatinya dengan antusias dia juga berjalan ke arahku. Aku taruh satu tangan kananku di dada kirinya, kuambil lagi tanda putih di jantungnya. Tanda itu kekuatan Virgilio. Dia merintih kesakitan, dia memegang tangan kananku dan menjauhkan dari dadanya. Tanda itu kembali padaku. “Dengan begini, kau tidak bisa membaca pikiranku Karan”
kulepaskan tanganku di dadanya dan kudorong sedikit dadanya. Karan yang masih kesakitan di jantungnya, dan tanda putih itu adalah kekuatan Virgilio. Ketika acara peningkatan, kekuatan itu terbagi sedikit untuk Karan. “Aku tidak menyukaimu Karan”
Seharusnya kalau Karan diam saja, masalah ini cepat selesai. Tapi dia menghianatiku, Ayah bohong katanya Penjaga akan menjaga dan menuruti setiap perkataan tuannya, semua itu bohong. Padahal baru tadi kita saling mengikat, tapi sekarang dia mengkhianatiku.
Sontak aku melihat Master Laiz, Ini pertama kalinya aku melihat dia segalak ini dan aku pun tidak kalah galak padanya “Kau pikir ini lelucon aku rasa ibumu menyesal melahirkanmu”.
Aku tidak percaya apa yang dikatakan Master laiz, berapa jam yang lalu dia memelukku di saat aku menangis tapi sekarang dialah yang membuatku menangis.
“Iya benar, mungkin ibu menyesal melahirkanku” suaraku sedikit gemetar. Dan ketika itu Karan memegang tanganku danku llepas dengan paksa. “Aku membencimu Karan”