Gadis Virgilio

Gadis Virgilio
18


“Bagaimana bisa kau kena Karin?” Suara Maryam yang khawatir, aku menjawabnya dengan senyuman.


Evans dan yang lainnya membantu membawakan air dan mereka membersihkan cairan itu dari tubuhku. Tubuhku memerah akibat cairan itu dari tanganku, sedikit di bagian betis dan sedikit di bagian wajah kiriku. Mereka sangat telaten merawat diriku, lalu mereka mengeluarkan cairan kental seperti salap pada tubuhku yang terkena cairan itu.


Aku tidak merasakan sakit sedikit pun karena rasa itu aku transfer pada Karan. Melihat senior-senior yang terkena cairan itu mereka berteriak-teriak, rasanya pasti benar-benar sangat sakit tapi aki tidak peduli pada Karan yang sakit karena aku. Dia memilih melindungi Ines daripada aku tuannya.


Ruang kesehatan seketika menjadi sangat penuh, Evans dan teman-temanku membantu para senior yang lain yang terkena cairan setelah membantuku. Sebenarnya aku bisa menggunakan kekuatan Virgilio untuk menyembuhkan lukaku dengan cepat tapi aku tidak bisa menggunakan di sini, karena mereka akan curiga kalau aku sembuh tanpa ada pengobatan.


“Karin” suara Karan membuatku kaget, tiba-tiba dia datang dan langsung memegang tanganku. Dia terlihat panik, dia tidak seperti merasa kesakitan. Dia menitikkan air matanya, karna melihatku penuh dengan luka merah. Dia mengelus luka yang berada di wajah kiriku. “Aku minta maaf”


“Karan pergilah” aku melepas tanganku dari tangannya, aku tidak mau bertemu dengannya saat ini.


“Karan!” suara Maryam dari tengah ruangan, dia berjalan cepat ke arahku dan Karan. Maryam terlihat sangat marah, Maryam mendorong tubuh Karan, dia memarahi habis-habisan Karan. “Bagaimana bisa kau melindungi penjaga lain dibandingkan tuhanmu sendiri?, apakah pacarmu sepenting itu sehingga kau lupa dengan tugasmu, kalau begitu pergilah dengan pacarmu biar aku dan yang lainnya yang menjaga Karin”


Karan hanya diam dan menunduk. Karan tahu, Karan salah sebenarnya aku juga kasihan melihat Karan yang dimarahi oleh Maryam, Maryam seperti kakak perempuanku, dia selalu menghawatirkanku.


“Maryam cukup Karan pergilah”


“Aku ingin menjagamu di sini”


Ambil semua rasa sakitku pada Karan, Karan menatapku dengan bingung “Karan pergilah, aku sudah tidak membutuhkanmu”


***


“Karin kenapa kau tidak membangunkanku, aku ada praktik hari ini” lagi-lagi Maryam terlambat bangun, sebelumnya Maryam tidak memberi tahu aku kalau dia ada praktik hari ini.


“Seharusnya kau bilang lebih dulu agar aku bisa membangunkanmu” aku memakai sweater yang aku beli dengan Karan waktu akhir pekan, aku ingin mencari uang untuk mengisi waktu luangku. Karna hari ini hari Sabtu, tidak ada kelas dan tidak ada praktik.


Setelah kejadian dua minggu yang lalu ketika masa pengenalan selesai dan pengesahan waktu itu, aku dan kanan tidak pernah bertemu lagi. Karan menghilang entah ke mana selama dua minggu, minggu lalu Ines datang padaku menanyakan kabar Karan. Ines juga tidak bertemu dengan Karan. Aku merasa bersalah pada Karan, mungkin kata-kata aku saat itu membuatnya hati terluka.


Aku bertanya pada Erik, karna dia teman sekamar Karan. Erik bilang Karan pulang larut malam dan pergi pagi-pagi buta, Erik juga tidak tahu apa yang dilakukan Karan di luar sana. Aku merasa khawatir pada Karan, apakah kalian baik-baik saja atau tidak. sesekali aku melihat air gelang di tangan kiriku, air gelang itu berubah-ubah warnanya, terkadang hitam dan terkadang merah sepertinya Karan masih merasa bersalah atas kejadian yang menimpaku. Selama dua minggu pun proses pembelajaran belajar berjalan lancar, pembelajaran pun lebih banyak praktik di bandingkan teori.


Aku berjuang jalan ke ruang pos di dekat ruangan tabung teleportasi, sempat aku berpas-pasan dengan Evans, dia sedang ujian praktik. Evans berada di kelas Halcyon sama sepertiku, kelasnya berada di lantai 3 sedangkan aku di lantai 1 dan Karan di lantai 2.


“Karin kau ingin mengambil tugas lagi?” seorang petugas laki-laki cukup tua, dia yang menerima surat-surat permintaan dari penduduk.


“Iya, aku bosan tidak ada kesibukan”


“Tapi hari ini pekerjaan harus dilakukan oleh dua orang karena cukup sulit tugasnya” petugas itu memberiku surat-surat permintaan penduduk. Aku hanya sendiri tidak ada partner untuk menjalankan tugas, minggu kemarin Evans bersamaku untuk menjalankan tugas. Tapi sekarang karna Evans sedang ada praktik, mau tidak mau aku sendirian.


“Ayolah pak, aku bisa dengan mudah menyesuaikan tugas ini sendiri” aku mohon untuk pergi sendiri menjalankan tugas ini, petugas bilang tidak bisa karena ini sudah menjadi permintaan penduduk.


“Kami mengambil ini” tangan yang memiliki banyak urat itu mengambil surat di tanganku. Aku menoleh suara itu, aku tidak mendengar suara itu selama dua minggu ini. Karena tersenyum tipis padaku, rambutnya makin memanjang tepat di bawah telinganya, kulitnya sedikit menggelap, dan matanya yang terlihat lelah. Karan juga memakai sweater yang sama denganku.


“Nah seperti itu, kalian terlihat serasi dengan baju itu, yang satu cantik dan yang satu lagi tampan” petugas itu mengambil surat dari tangan Karan, tugas itu berisi untuk mencari hewan peliharaan yang salah satu penduduk yang hilang.


Petugas itu mempersilahkan kami masuk ke tabung teleportasi. Aku dan Karan memasuki tabung teleportasi, petugas itu mengirim kami ke sebuah desa yang cukup modern. Aku dan Karan berjalan ke rumah penduduk yang memberikan surat permintaan ini. Kita tidak saling bicara, kita hanya diam dengan kesibukan pikiran kita masing-masing.


“Karin”


“Karan”