
Aku mengangguk, peri kecil itu benar aku bisa mempengaruhi pikirannya agar ikut denganku hidup-hidup jadi aku tidak perlu membunuhnya. “Terima kasih peri kecil”.
Aku mengelus kepala peri dengan jari telunjuk. Rusa itu mendengarku dan lari, aku melompat dari dedaunan dan mengejarnya rusa itu berlari dengan cepat. Aku sulit mengejarnya, mengikat kakinya dengan akar-akar pun sangat sulit karena rusa itu terus berlari. Aku melompat dari akar-akar yang menjulang tinggi dan berayun dengan batang pohon yang terurai ke bawah.
“Maafkan aku” Aku berayun ke arah Kenan karena Rusaku mengarahnya, alhasil rusa yang di hadapannya pun ikut berlari.
“KARIN!” teriak Kenan membuat seisi hutan menjadi kacau, Rusa yang diamati puja pun ikut berlari sebab terkejut dengan suara Kenan.
“KENAN!” teriak Puja yang kesal pada Kenan, aku sedikit tertawa melihat mereka.
“Aww” Aku tertabrak pohon besar di hadapanku, aku terlalu fokus pada Kenan dan Puja di belakang sehingga tidak melihat pohon di depan. Karena tabrakan ini jidat dan daguku terluka. Puja dan Kenan tertawa, aku kesal tidak mendapatkan Rusa tapi mendapatkan luka. Aku fokus pada Rusa yang sedang berjalan ke arah dedaunan, hutan sudah mulai sepi lagi. Rusa itu berhenti, dengan cepat aku mengarahkan akar-akar di bawahnya untuk melilit keempat kakinya. Rusa itu memberontak, sayangnya dia tidak bisa terlepas dari ikatan itu. Aku berjalan ke arah Rusa itu dan memegang kepalanya. Aku mempengaruhi isi pikirannya, Rusa ini harus mengikuti aku tanpa perlawanan.
Rusa ini tidak lagi memberontak, itu berarti aku berhasil mempengaruhi isi pikirannya. “Maafkan aku rusa” aku membawanya dan berjalan ke arah puja yang sedang duduk di batu dengan rusa mati di kakinya. Aku bertepuk tangan padanya dan memberi dua jempol kepadanya. Kenan pun datang dengan Rusa yang di gedong kedua bahunya. Kami akan kembali ke sekolah dengan membawa rusa masing-masing.
“Bagaimana kamu bisa membuat rasa itu menjadi penurut Karin?” terlihat dari wajah Kenan yang terheran melihat Rusaku yang menurut.
“Itu rahasia”
Suasana tengah lapangan saat ini sunyi, pukul 10 malam. Aku dan teman seangkatanku menunggu wali kelas kita masing-masing. Aku menyandarkan wajahku di pundak Puja, kami semua sangat mengantuk. Aktivitas dari pembelajaran, menjalankan kewajiban dan sekarang menjalankan misi, memeras susu naga.
Susu naga memang memiliki banyak manfaat, salah satunya dijadikan bahan untuk obat, contohnya salep luka. Tapi melihat naga saja aku tidak pernah apalagi memeras susunya, aku tertawa kecil membayangkan hal itu, rasanya sudah membuatku geli sendiri sebelum melakukannya.
“Apakah tidak menggelikan memeras susu naga?” racauku pada kedua temanku, Kenan yang sedang tertidur di antara kedua kakinya dengan tangan menopang wajahnya.
Kenan melihatku dan tersenyum, wajahnya terlihat lesu, mungkin karna tadi siang kita melakukan banyak aktivitas. “Aku tidak bisa membayangkannya”.
“Kau membuatku malu Karin”
Aku tertawa, Kenan menyentil jidatku, sentilanya sama sekali tidak sakit. Aku menendangnya dari samping, dia terjatuh dengan mudah. Kenan membalas dengan menendangku hingga membuat Puja terusik.
“Kenan” bentak Puja
Tak lama di Para Master keluar dari dalam gedung dan berjalan menuju anak muridnya masing-masing. Master Wafi berjalan ke arah kami, dia membawa 6 buah ember. Ember itu akan dijadikan wadah susu para naga nanti.
“Kalian semua berdiri” Master Wafi memberikan tiap kelompok 2 ember. “Kalian sudah tahu tugas kalian bukan, saya hanya mengingatkan tidak ada yang boleh membawa tongkat sihir. Pertama, para naga sangat sensitif pada sihir jadi kalian tidak boleh menggunakan sihir, kedua kalian buat satu naga saja terbangun maka kalian semua akan membangun para naga. Naga akan menyerang siapa saja yang asing bagi mereka, mengerti?”
“MENGERTI”
Aku menghela nafas panjang lagi-lagi tongkat sihir tidak diperbolehkan aku mengacak rambutku karena pusing. Para murid pun banyak mengeluh, mereka sudah lelah dengan aktivitas di siang hari, dan di tambah dengan tugas yang satu ini.
aku, puja dan Kenan saling menampilkan wajah masam dan malas. kenapa harus naga, melihatnya saja aku tidak pernah, belum lagi memeras susunya.
dan mana ada naga yang tidak bangun ketika susunya di peras, itu sangat tidak logis. ya, karna aku seorang perempuan juga. aneh dan sangat aneh.
jika memeras susu naga tanpa membuatnya bangun, menurutku itu sangat mustahil. sedikit aneh, sangat aneh, tapi iinadalah dunia sihir.
"Siapp, waktu kalian tidak lama."