Gadis Virgilio

Gadis Virgilio
11


“Jangan menggunakan kekuatan Virgiliomu di depan umum” suara berisik di kupingku, suara kelinci itu bukan berasal dari suara Karan. Aku berhenti berjalan dan melotot padanya. Sosok laki-laki berusia 20 tahun dan tersenyum padaku. Bagaimana dia bisa tahu, orang-orang biasa bahkan penyihir hebat pun tidak tahu kalau aku memiliki kekuatan Virgilio, hanya sesama Virgilio lah yang dapat melihatnya.


Aku melihat dada kirinya yang memiliki pola sama denganku walaupun tertutup baju dan jaketnya, dia juga seorang Virgilio, tandanya masih berwarna hitam yang berarti kekuatan yang masih lemah sedangkan tandaku berwarna putih yang berarti kekuatanku jauh lebih besar darinya.


Laki-laki tinggi berbadan besar berkulit coklat itu ada di hadapanku, dia tersenyum dengan melipat kedua tangannya di dadanya. Lki-laki itu membungkuk sedikit dan mendekatkan wajahnya ke arahku “Biar aku bawa kopermu”


Tiba-tiba karang yang dari belakang mendorong laki-laki itu, Karan menjatuhkan kopernya dan berhadapan dengan laki-laki itu. Wajah Karan menjadi sangat galak, lalu laki-laki itu membersihkan bahunya dari dorongan Karan tadi, laki-laki itu tersenyum menggoda seakan menantang Karan untuk berkelahi.


“Karan sudah” aku menarik tangan Karan ketika Karan memajukan langkahnya. Laki-laku itu melambaikan tangan padaku dan pergi, ketika laki-laki itu menghilang tubuh, Karan berbalik ke arahku dia menaikkan satu alisnya sebagai pertanyaannya “aku tidak tahu siapa dia Karan”


Karan tidak berekspresi apa-apa itu berarti jawabanku belum cukup untuknya, keringat dingin keluar dari tubuhku. Aku seperti melakukan kesalahan dan diinterogasi untuk kesalahan itu. “Dia hanya menawarkan diri untuk membawa koperku Karan”


“Apa karena aku tidak membawa kopermu, kamu meminta orang yang tidak dikenal membawakannya” perkataan Karan merendahkanku, Karan kelewatan galak hanya untuk hal seperti ini. Aku tidak menjawab apa-apa dan berjalan melewatinya dengan koperku.


Stasiun sudah terlihat, tidak jauh lagi aku sampai. Tiba-tiba Karan ada disamping-Ku berjalan beriringan denganku, dia menggenggam jari-jemariku dengan lembut. Aku melihat wajahnya sedang menatapku dengan tatapan dalam, kualihkan pandanganku lurus ke depan. Selama berjalan kita tidak saling berbicara, kita berdua sama-sama sedang kesal.


Sesampai di stasiun aku melihat lagi tabung-tabung teleportasi, tabung-tabung di setiap ruangan berbeda, di setiap ruangan adalah daerah asal atau tujuan yang akan dituju. Aku dan Karan berjalan ke ruangan yang terpampang nama Hollywings yang cukup besar.


Petugas wanita yang cukup tua itu tersenyum kepada kami. “apa kau akan ke Hollywings Karan?” tanya dengan heran, sepertinya Karan terkenal di sini banyak para gadis dan penduduk desa ini yang mengucapkan selamat padanya.


Karan tersenyum bangga kepada petugas itu “iya Bu”


“Apakah ini tuanmu?”


Karan mengangguk, aku menyalaminya dan perkenalkan namaku sepertinya Karan dan wanita ini cukup dekat.


“Kau cantik sekali”


“Terima kasih”


“Karan dan anak gadisku cukup dekat, mereka sangat cocok bahkan aku ingin menjodohkan Karan dengan anakku, Karan laki-laki yang baik semua gadis ingin bersamanya”


Aku hanya mengangguk-angguk tersenyum, rasanya aku tidak suka percakapan ini. Ada apa denganku, jangan bilang aku cemburu, yang benar saja Karan hanya penjagaku.


Bercakap-cakap ini pun selesai karan yang tersenyum-senyum malu saat membicarakan anak gadis dari wanita ini. Apakah gadis itu lebih cantik, pintar dan kuat dariku, sepertinya tidak.


“Pasti akan aku sampaikan”


Wanita itu membuka pintu tabung, aku terlebih dahulu masuk dan disusul oleh Karan. Karan menatapku dengan tersenyum sepertinya dia bahagia karena ingin bertemu gadis itu, aku memutar bola mataku dengan malas.


Tabung ini tertutup teleportasi ke Hollywings sangat berbeda, ketika aku ke desa Chora rasanya sangat sesak dan pening sedangkan tabung ke Hollywings hanya seperti naik prosotan.


Aku dan Karan sudah sampai di sebuah ruangan tanpa ada petugas hanya beberapa tabung yang membawa para murid. Aku dan Karan keluar dari tabung dengan membawa koper masing-masing, kami berjalan keluar dari ruangan teleportasi ini lalu aku disuguhkan oleh bangunan yang sangat tinggi bangunan seperti dongeng-dongeng kerajaan, terlihat kuno namun sangat megah dikelilingi pohon-pohon besar, pohon yang bisa menutupi sinar matahari oleh daunnya, udaranya sangat sejuk namun cukup dingin.


“KARAN” suara seorang gadis yang berlari dan langsung memeluk Karan, aku sangat terkejut dengan kehadiran Gadis itu. Gadis berambut pendek sebahu, bertubuh kurus dan berkulit putih, sepertinya gadis ini anak dari petugas tadi. Pelukan mereka terlepas terlihat wajah gadis itu sangat senang seperti sepasang kekasih yang tidak bertemu bertahun-tahun lamanya.


Aku seperti nyamuk di sini l, merasa tidak dianggap aku berjalan entah ke mana menjauhi mereka. Rasanya tidak suka melihat mereka saling bermesraan di depanku.


Udara yang cukup dingin ini membuat tubuhku kedinginan, Harusnya aku mengenakan sweater dan jaket tadi. Aku berjalan di jalan setapak yang dikelilingi pepohonan yang tinggi.


“Karin” suara teman-temanku yang sangat kurindukan, suara itu berasal dari Maryam, Saddam dan Abi. Aku memeluk mereka satu persatu menumpahkan semua rinduku pada mereka.


“Aku sangat merindukanmu Karin” aku dan Abi berpelukan sebentar.


“Aku juga”


Saddam dan Maryam menggoda kami berdua dan menjauh beberapa langkah untuk menyisakan ruang aku berbicara berdua dengan Abi. Ketika aku berbicara pada Abi, Karan dan Gadis itu berjalan ke arahku, mereka bergandengan tangan, Karan menatapku dengan datar dan aku memutar bola mataku.


“Ayo tunjukkan kamarku” aku menggandeng Abi dengan tangan kananku sama seperti yang dilakukan gadis itu dan Karan. Aku seperti wanita yang sedang cemburu tapi tidak mungkin, aku hanya malas melihat Karan.


Aku dan Abi berjalan di depan disusul oleh Saddam dan Maryam, mereka menggodaku kata mereka aku sedikit menghitam ketika di desa Chora, mereka benar kulitku agak gelap mungkin ketika aku dan karang di pantai Ora di cukup lama.


Kami memasuki bangunan megah dan besar, melewati beberapa ruangan, memiliki atap yang tinggi sekitar 5 meter dari aku pijak, tersusun lampu-lampu bulat di setiap satu meternya. Mereka membawaku ke sebuah gedung yang tampak seperti pondok asrama. Pondok yang dominan berwarna kecokelat-cokelatan, pondok asrama laki-laki di berada di sebelah kanan dan pondok perempuan berada di sebelah kiri.


Ketika aku berbelok ke sebelah kiri, aku melihat kanan dan gadis itu bercanda tawa, aku merasa sebal beberapa hari yang lalu aku dan Karan menghabiskan waktu bersama , mengungkapkan perasaannya tapi sekarang lihat dia bersama gadis itu seperti sepasang kekasih. Sepertinya Karan bohong kalau dia mencintaiku, dia hanya ingin maafku waktu itu. Sebal rasanya kalau mengingat akhir pekan kemarin bukan lagi hal yang menyenangkan tapi hal yang menyebalkan.


Aku sekamar dengan Maryam, terlihat dua kasur di sana, kasur yang cukup untuk 1 orang tidur. Aku menaruh koperku dan aku rasanya tidak sabar mengelilingi Hollywings.