
“Karin apa kau sudah siap, kita harus sampai di sana sebelum jam 7” Maryam yang tergesa-gesa mengenakan dasinya.
“Aku sudah siap Maryam bahkan sebelum kau bangun, tapi lihatlah sekarang sudah jam 7.05 kita pasti terlambat” aku menunggu Maryam di depan pintu Maryam terlambat bangun sehingga kita terlambat untuk datang lebih awal di lapangan.
Hari ini ada masa perkenalan sekolah seperti biasa para senior-senior akan mencari kesalahan-kesalahan dan memarahi kami. Masa perkenalkan ini berlangsung selama 2 hari setelah itu peresmian murid dan pembagian kelas.
Kemarin aku dan Evans menghabiskan waktu bermain sampai petang dan ketika aku di pondok Karan yang menunggu di depan pondok memarahiku karena terlalu lama bermain namun aku tidak mendengarkannya jangan langsung ke kamarku.
Saat ini aku dan Maryam berlari sekuat tenaga ke lapangan besar, di sana sudah berkumpul kalah calon murid dan senior-senior. Maryam memegang bajuku dia takut kalau dihukum oleh para senior.
“Kenapa kamu telat?” seorang senior perempuan membentak kami, wajahnya sangat galak begitu pun 4 senior lainnya. Para senior ini memarahi kami habis-habisan di depan murid lainnya, sempat aku menengok ke arah gedung di sana banyak para senior tingkat 2 dan tingkat 3 melihat kami termasuk Karan dengan wajah yang datar di sana dan di sampingnya ada gadis itu, dia tersenyum kepadaku.
“Kalian tidak tahu disiplin kalian HAH”
“Ada apa ini?” sosok laki-laki yang mengajakku mati kemarin, dia menghampiri kami dengan seragam dan jubahnya, dia terlihat sangat berkarismatik.
“Evans lihatlah dua anak ini telat di hari pertamanya” para senior itu mengaduh tak henti-henti aku melihat Maryam yang hampir menangis karena locehan amarah dari para senior. “Habislah kalian, Evans adalah pemimpinnya” senior itu tersenyum miris kepada kami berdua.
Menatap Evans dengan penuh harapan, dia pun menatapku dengan tajam sepertinya dia tidak akan membantuku. Hari ini akan menjadi hari yang penuh tekanan batin.
“Biarkan mereka duduk dengan yang lainnya” kelewat senang aku hampir memukul lengan Evans namun aku tarik lagi tanganku. Aku berusaha tidak tersenyum agar para senior tidak marah tapi tetap tidak bisa, aku tersenyum lepas melihat Evans.
“Apa Evan, Baga-“
“Bergabung dengan teman kalian” Evans menyuruhku dan Maryam bergabung dengan yang lainnya.
Selama di lapangan tidak ada yang berani bicara sedikit pun karena para senior yang mondar-mandir mengelilingi kami bahkan Abi dan Saddam dan tiga penjaga temanku hanya bisa saling menatap.
Evans sebagai pemimpin berdiri di kursi di sisi lapangan, merasa semua sudah terkumpul Evans memberikan sepatah dua patah untuk memulai ini. Evan memberi kami misi pada kami, yang dapat menyelesaikannya mendapatkan jubah sebagai murid di sini dan tidak harus mengikuti masa perkenalan besok.
“Misinya, kalian akan dibagi menjadi kelompok, setiap kelompok terdiri dari 2 orang dan hanya sisa satu orang yang tidak memiliki kelompok. Misi kalian adalah mendapatkan bola kekuatan, bola kekuatan itu terbagi menjadi 4 bola kekuatan udara, bola kekuatan tanah, bola kekuatan api dan bola kekuatan air, pada jam 5 bola itu harus diserahkan ke saya dengan lengkap, saya tidak menerima kalau hanya 1, 2, 3 harus 4. PAHAM” Suara Evan sangat keras bahkan tanpa pengeras suara.
“SIAP PAHAMM”
Saat ini orang-orang sedang sibuk mencari kelompok, teman-temanku sudah bersama dengan penjaganya dan tinggal aku yang belum. Aku tidak berniat untuk mencari kelompok karena aku bisa sendiri menyelesaikan misi ini sendiri. Karna angkatan seluruh tingkat 1 berjumlah 45. Toh Evans sudah bilang akan ada satu orang yang tidak memiliki kelompok.
“apa kau yakin Karin?” tanya Abi yang kasihan melihatku tidak memiliki kelompok.
“Kalian tenang saja, aku akan mengalahkan kalian semua” jawabku dengan bangga.
Sebelum misi dimulai aku menggunakan kekuatan Virgilioku untuk mengetahui keberadaan bola itu, bola api dan bola udara berada di kawasan Aurora, bola air berada di dasar danau kawasan Petrichor dan yang terakhir bola tanah berada di hutan.
Ketika semua sudah berpencar ke segala arah hanya aku yang diam, aku menatap para senior menatapku dengan heran namun Evans tahu apa yang aku lakukan, berjalan santai menuju Taman, sempat saat berjalan menuju Taman mengedipkan mata aku ke Evans.
Bunga-bunga Tulip berwarna-warni persebaran di sini dipadu udara yang sejuk menambah keasrian Hollywings, sekarang masih jam 8 untuk menunggu jam 5 itu sangat lama. Aku memutuskan mengambil 4 bola kekuatan dan pergi tidur di sini.
Aku duduk di tengah hamparan bunga-bunga Tulip dan memegang dadaku dengan kedua tangan. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan dengan fokus di titik bola Air, seketika bola air ada di tanganku. Aku menarik nafas dan menghembuskannya lagi bola kekuatan udara sudah di tanganku. Menarik nafas dan menghembuskannya dengan fokus di titik bola api dengan segala kekuatan hingga kekuatan bola api ada di tanganku dan terakhir aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan bola kekuatan tanah ada ditanganku.
“Bukankah ini sangat mudah, kau memang keren Karin” ucapku pada diriku sendiri yang bangga telah menyelesaikan misi dengan mudah, 4 bola kekuatan itu aku simpan di dalam tubuhku sampai nanti jam 5 akan kuberikan kepada Evans.
Aku berbaring di hamparan bunga-bunga Tulip, merasakan sejuknya udara dan memejamkan mata.
“Kau sangat curang Karin”
Aku membuka mata terdapat Evans yang tersenyum di atasku, aku bangun dari tidurku dan menatap dengan datar. “Bukankah tidak ada peraturan”
Evan tertawa sebentar dia duduk di sampingku. “kau tidak takut dengan Agus si iblis jahat itu Karin?”
“Aku lapar” aku berdiri dan membersihkan baju dan rok dari sisa-sisa tanah, aku tidak mengucapkan apa pun dan pergi meninggalkannya sendiri.
Tujuanku sekarang adalah kantin, banyak para senior melihatku aneh tapi aku tidak peduli. Kantin cukup sepi hanya beberapa senior tingkat 2 sedang makan. Aku mengambil makanan, menu hari ini adalah sup daging rusa sebenarnya aku tidak suka tapi bagaimana mau lagi hanya ini yang bisa aku makan.
Aku duduk di depan meja makan, saat aku sedang asyik dengan makanan yangku makan. Karan tiba-tiba duduk di depanku dengan muka datarnya, aku menatapnya sebentar dan langsung mengalihkan mataku ke makananku. Karan tidak bicara hanya memperhatikanku makan, kemarin kita hanya bertemu saat petang, hubunganku dengan Karan sedikit meregang.
“Karan” Gadis itu lagi, dia duduk di samping Karan. Dia tersenyum padaku dan mengulurkan tangannya kanannya. “Aku Ines, pasti kamu Karin”
Aku menyalaminya dan mengangguk, aku sudah tidak berselera makan karena mereka. Gadis itu Ines namanya, dia bercerita betapa dekatnya dia dengan Karan. Aku hanya mengangguk-angguk dengan wajah datar.
“Aku merestui kalian” aku pergi dari meja makan dan pergi menjauh dari mereka, aku sangat malu pada Karan, aku seperti gadis yang sedang cemburu pada kekasihnya. Aku berjalan menuju pondok untuk tidur, entah berapa lama Karan mengikutiku dari belakang tanpa Ines.
Membuka pintu kamarku dan menutupnya namun ditahan oleh ujung sepatu Karan, aku membuka pintu dan menaikkan satu alisnya sebagai sebuah pertanyaan.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Sangat-sangat sehat” aku menutup pintu dan menguncinya aku langsung tidur di kasurku yang rapi, kasur Maya masih berantakan karena dia terlambat bangun tadi pagi.