Gadis Virgilio

Gadis Virgilio
17


Aku terpaksa bangun oleh matahari yang memaksa masuk dari jendela yang tertutup tirai tipis berwarna putih. Aku menguap, kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7.30, aku baru ingat kalau hari ini teman-temanku telah menyelesaikan misi ke 2. Aku buru-buru mandi dan bersiap untuk ke lapangan.


Hari ini hari kedua masa perkenalan dan hari terakhir untuk para junior dimarahi oleh para senior dan besok adalah hari pengesahan sebagai murid dari Hollywings.


Selesai bersiap-siap aku langsung pergi ke lapangan melihat apakah teman-temanku bisa menyelesaikan misi ini atau tidak, karena aku saja jarang sekali bertemu duyung, aku lebih sering melihat dan berteman dengan para peri di hutan Nevan.


Sesampai di lapangan aku disuguhkan oleh 4 akuarium besar yang tertutup oleh kain berwarna hitam, berarti acara ini belum dimulai. Karena aku melihat teman-temanku yang sedang duduk di Ruang Makan tadi, mereka sedang makan nasi bubur putih seperti kemarin malam.


“Hai Karin” aku tahu suara itu, aku menoleh pada Ines yang ada di sampingku, dia tersenyum manis padaku. Dia sendiri, tidak bersama Karan. “Aku ingin bicara padamu sebentar boleh?”


Aku mengangguk, dia tidak seperti biasanya kalau bersama Karan, dia mungkin akan bertingkah manis dan membuat suara manis tapi sekarang dia bersikap sangat biasa, sangat, sangat berbeda kalau bersama Karan.


Ines bercerita dia dan Karan teman dekat saat di kawasan para penjaga, ketika Karan sakit Ineslah yang merawatnya. Dari kecil sampai besar Ineslah teman baiknya, bahkan ketika Ines di sakiti dan di lecehkan oleh tuannya dulu, Karanlah yang membantu Ines. Sampai akhirnya ketika Ines sudah besar, dia menyadari kalau dia mencintai Karan lebih dari seorang teman. Namun Karan sering bercerita tentangku, saat itu Ines menyadari kalau Karan mencintaiku. Dia tidak mau kalau Karan bersama orang lain karena ini mencintainya.


Ines memintaku untuk tidak terlalu dekat dengan Karan dan memperjelas kalau aku dan Karan hanya sebatas Tuan dan Penjaga tidak lebih. Aku tidak kaget dengan pernyataan dari Ines, aku sudah menduganya dari awal. Aku hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Inez, tidak ada kata-kata untuk menjawabnya.


Karan datang dari belakang Inez dan ketika itu juga Ines berubah menjadi seorang gadis manis lagi di depan pasangannya. Kemarin malam Karan memperjelas hubungannya dengan Ines hanya sebatas teman tidak lebih dan lebih menyayangiku dibandingkan Ines.


“Karin apa kau sudah sarapan?”.


“Belum Karan, aku ingin melihat duyung-duyung ini dulu”.


Aku terpaku pada akuarium yang paling depan di sebelah kiri, Akuarium itu memiliki gelombang aneh dibandingkan ke-3 akuarium lainnya. Aku melihat Evans yang berada di tepi lapangan bersama para senior lainnya, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu, dia juga sesekali melambaikan tangan padaku.


Karan menghadang penglihatanku dengan tubuhnya, dia tidak suka kalau aku dekat dengan Evans tapi dia sendiri dekat-dekat dengan Ines. ”Kamu lupa apa yang aku bicarakan semalam” suara Karan terdengar seperti seseorang yang sedang cemburu sedangkan Ines menatapku dengan penuh harap.


Akuarium pertama terlihat seekor duyung perempuan, dia terlihat masih kecil dengan ekornya yang terlihat indah. Akuarium kedua juga sama seperti akuarium pertama, seekor duyung yang masih kecil. Akuarium ketiga terlihat seekor duyung dewasa berjenis kelamin laki-laki, badannya terlihat sangat kekar, sepertinya duyung itu sering bertarung dengan hiu di lautan sana sehingga badannya terlihat sangat berotot.


Aku menunjuk akuarium ketiga pada Karan. “Lumayan” Karan menutup mataku dengan 1 tangannya, aku berusaha melepas tangannya terlihat wajah Karan yang sinis.


Akuarium ketiga ada seekor duyung wanita cukup tua, tapi warna tubuhnya berbeda dari yang lain. Ketiga duyung lain berwarna kulit putih pucat sedangkan duyung keempat berwarna biru gelap dan wajahnya yang seram.


Aku melihat keempat akuarium dengan seksama, akuarium ke-4 terlihat bukan seperti duyung biasanya. “Itu Siren” ucapku ketika aku melihat matanya yang hitam. Siren itu berbeda dari duyung walaupun mereka sama-sama duyung tapi Siren termasuk duyung jahat. Siren adalah duyung pemakan para jantung penyihir untuk menambah kekuatan mereka. Siren memikat para penyihir dengan nyanyiannya yang merdu dan wajah mereka yang tampan dan cantik.


Tiba-tiba akuarium di tempati oleh Siren itu pecah dan ketika itu juga dia mengeluarkan teriakan yang cukup membuat telinga sakit. Karan menutupi kedua kupingku dengan tangannya sedangkan dia menunduk di antara dua lengannya.


Teriakannya berhenti, Karan memastikan aku baik-baik saja tiba-tiba. Lalu dengan sangat cepat, Siren itu mengeluarkan sebuah cairan berwarna biru tua dari mulutnya, dia memuntahkan cairan itu ke segala arah dengan jarak yang cukup jauh bahkan sesampai di tempatku.


Karan melindungi Ines ketika cairan itu mengarah ke arah Ines tapi Karan lupa kalau aku di dekat mereka, otomatis aku terkena cairan biru itu. Rasanya sangat perih dan sangat panas, rasanya seperti terbakar.


Aku melihat Karan dia melindungi Ines dengan jubahnya agar tidak terkena cairan itu. aku menangis karena cairan ini sangat menyakitkan, aku memindahkan rasa sakit ini pada Karan hingga tubuhku hanya sebuah luka tanpa ada rasa sakit. Ketika Karan menerima rasa itu, dia menoleh padaku dengan raut wajah bersalah.


Kakiku merasa lemas dan ingin jatuh, tapi entah dari mana Evans datang dan menggendong tubuhku dengan kedua tangannya sebelum aku jatuh. Wajahnya sangat panik, dia membawaku ke ruang kesehatan. Sempat aku melihat ketiga temanku dan penjaganya di lorong dekat lapangan, lalu mereka mengikuti kami ke ruang kesehata.


Evans menaruh tubuhku di salah satu kasur dekat dengan pintu di ruang kesehatan dan disusun oleh para senior yang terkena cairan dari Siren. Mungkin ada 20 orang yang terkena cairan biru tua itu. Siren memuntahkannya dengan sangat cepat, sehingga orang-orang yang di sekitar lapangan pun belum siap melindungi diri tapi syukurlah teman-teman seangkatanku tidak ada yang kena.


“Bagaimana bisa kau kena Karin?” Suara Maryam yang khawatir, aku menjawabnya dengan senyuman.