
“Kamu lelah Kenan?” tanyaku pada Kenan di sampingku dengan wajah lesunya yang tidak sama sekali semangat.
“Tentu saja, kamu pikir aku robot?” Kenan bersandar padaku, kasihan juga melihatnya.
“Tapi,” aku melihat kedua teman dekatku ini, “Apa naga tidak bangun ketika kita memeras susunya? Kamu mengerti kan Puja, kayaknya hal yang mustahil kalau naga itu tidak menyadari keberadaan kita.”
Puja mengaguk-angguk, “Itu yang aku pikirkan dari tadi.” Puja mencabut beberapa rumput dan melemparnya ke depan, sepertinya dia sedang kesal, “Aku yakin ini hanya menguji kekuatan kita, mereka sengaja membuat kita berhadapan dengan naga, orang waras nama yang tidak merasakan organ intimnya di pegang-pegang.”
“Sayangnya mereka bukan orang waras, mereka seorang hewan, paham.” Suara master Wafi membuat kamu terkejut bukan main, dia tiba-tiba datang, entah dari mana.
“Master membuat kita terkejut saja.” Kesal Kenan pada master Wafi, dia seperti anak kecil yang sedang uring-uringan.
Master Wafi bersedekap dada, ia mengetuk-ngetuk tanah dengan ujung sepatunya, “Kenapa kalian masih ada di sini? Yang lain sudah berangkat sedari tadi.”
“Kami malas Master, lelah sekali harus memeras susu naga, jika susu sapi, aku siap Master.” Kenan menendang-nendang udara kosong di depannya.
“Cepat pergi, jika kalian tidak bisa tugas ini, akan aku beri kalian hukuman.”
Aku melihat Master Wafi dengan penuh harap, jika hukuman lebih masuk akal dari memeras susu naga, maka aku lebih memilih hukuman itu, “Apa itu master?”
Kenan langsung semangat, “Cepat katakan master.”
“Kalian tau, para penjaga akan melakukan pertandingan dalam waktu dekat dengan ular aksara.” Master Wafi mengetuk udara hingga membentuk seperti televisi yang menggambarkan seekor ular besar dan ganas di sana, “Jika kalian tidak mau mencari susu naga, kalian bisa ikut mengalahkan Ular aksara, bagaimana?”
Aku memutar bola mataku, tubuh puja juga berbalik menjauh pada Master Wafi, dan Kenan mengambil sapu terbangnya dan terbang di atas sana.
Tentu saja jawaban kami tidak, entah ular apa itu, yang namanya pertandingan, pasti ular itu sangat kuat. Walaupun aku merasa yakin bisa mengalahkan Ular itu, tapi aku tidak merasa yakin dengan teman-temanku. Mereka memang kuat, tapi tidak untuk melawan hal seperti itu.
Perjalanan menghabiskan waktu lama, sangat lama. Aku dan Kenan serta puja sering berhenti sekedar istirahat dan mengisi perut kami. Dan ini yang ketiga kali kami berhenti untuk istirahat.
“Aku kira ini dekat, ternyata sangat lama, sangat lama sekali.” Desah resah Kenan di sana dengan air di tangannya,
Untung saja kami tidak jauh lagi sampai di tempat para naga, tapi suara-suara sudah mulai terdengar.
“sepertinya ini sudah pagi, itu berarti para naga sedang beraktivitas, kita tunggu saja sampai malam lagi, dan kita beristirahat dulu.” Aku dan Kenan mengangguk setuju pada Puja. Mereka dan aku butuh istirahat.
“Tapi apakah aman kita tidur di sini? Kita dekat dengan kawasan para naga, bagaimana jika ada hewan-hewan lainnya? Seperti ular aksara mungkin.” Ucapku berhasil membuat wajah Kenan dan puja menjadi datar.
“Kita cari tempat yang aman, dan membuat beberapa alarm alami dan jebakan, agar kita tahu kalau ada yang mendekat.” Ucap puja.
Aku terkesan banyak pada puja, dia benar-benar teman terbaik, pintar dan mempunyai banyak ide, dia juga berani dan sedikit galak.
Akhirnya kami mencari tempat yang aman, membuat jebakan dan alarm untuk mengetahui siapa yang mendekat.
Tidak lama, kami bertemu dengan sebuah pohon besar, tidak terlalu lebat daunnya. Mungkin kita bisa beristirahat di atas sana, di salah satu batang pohon.
Kenan dan punya membuat alarm dan jebakan, sedangkan aku membuat tempat yang nyaman untuk kami bertiga.
“Sudah?” tanya puja dan Kenan yang baru datang.
Aku mengaguk, “sudah siap.”
Kenan langsung tidur di tempat sudah aku siapkan, “Selamat tidur teman-teman.”