
Dua hari setelah pengikatan, hubunganku dengan Karan tidak baik. Dia selalu datang ke kamarku dan meminta maaf, sesekali juga dia membawa makanan untukku. Dan selama 2 hari itu juga, aku tidak keluar dari kamarku, terkadang Erly dan Gadis ke kamarku membawa sarapan dan makan malam di kamarku.
Karena hari ini akhir pekan, aku ingin berjalan-jalan sendiri di desa Chora. Aku sudah memakai sweater berwarna merah muda dan rok di atas lutut berwarna hitam dengan rambut tergerai cantik dan tidak lupa memakai tas selempang kecil berwarna merah muda pula .”Selesai”
Ketika aku membuka pintu terlihat Karan mengenakan sweater hitam dan jeans hitam. Dia tersenyum kepadaku, dia memberikan sebuah tangkai mawar yang masih segar. “Karin, aku minta maaf”
“Baiklah” aku terima mawar itu dan pergi. Aku tidak mau banyak bicara dengannya, aku masih kesal padanya.
Tiba-tiba Karan menggenggam jari-jariku. Aku menoleh padanya dia tersenyum “Aku akan menemanimu berkeliling di desa kora Karin”.
“Tidak perlu aku bisa berjalan sendiri, toh juga aku tidak akan jauh-jauh dari kawasan ini” ucapku dengan melepas genggamannya. Aku pergi berjalan lebih cepat agar Karan tidak mengikutiku.
Tidak sengaja aku berpapasan dengan Master Laiz di lorong kelas. Aku pura-pura tidak melihatnya, Master Laiz sudah melukai hatiku.
“Karin” ucapnya namun tidak kudengar.
Aku melewati lapangan besar untuk menuju gerbang di depan. Ada banyak para Penjaga kecil yang sedang bermain kejar-kejaran dengan temannya, aku sempat berpikir, bagaimana bisa mereka tumbuh tanpa orang tua. Walaupun para Penjaga yang lebih dewasa menjaga mereka, tapi tetap saja mereka seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya.
Gerbang tidak dikunci karena ini akhir pekan, para Penjaga libur semua dari aktivitasnya. Jadwalku hari ini ke pasar desa Chora untuk membeli sesuatu sebagai kenang-kenangan aku di sini, lalu membeli makanan khas di desa Chora dan terakhir, aku ingin pergi ke pantai Ora. Pantai yang sangat terkenal akan keindahannya, banyak para duyung yang ada di sana. Aku sangat tidak sabar kesana.
“Karin tunggu”. Tak jauh aku berjalan dari gerbang, ada sebuah tangan yang menarik tanganku. “Kita tidak bisa seperti ini terus Karin”.
Aku berusaha melepas tangannya namun nihil, tangannya terlalu kuat. “Ada apa lagi sih?” dengan kesal aku menggigit tangannya, namun cengkeramannya menjadi lebih kuat. “Karam cukup, aku kira kita bisa menjadi sahabat tapi nyatanya” aku menghela nafas untuk menurunkan emosiku. “Aku tidak mau membahas vir-”.
Tiba-tiba Karan memelukku, hingga aku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat. “Maafkan aku Karin, aku tidak mau kehilanganmu” pelukannya menjadi sangat erat. Tiba-tiba kupingku tertetes sebuah air, sepertinya itu air mata Karan. Apakah aku sepenting ini untuknya. “Tanda di tangan kita mulai memudar, tolong jangan sampai hilang”.
Seorang laki-laki seperti Karan bisa menangis untukku, mungkin karena dua hari aku tidak keluar kamar, dia menjadi khawatir dan tanda di tangan. Karan benar tanda itu memudar. Yangku tahu jika tanda itu memudar berarti hubungan Penyihir dan Penjaganya tidak baik dan kalau sampai hilang, hubungan ini juga akan hilang. Tidak ada ikatan antara Penjaga dan Penyihir.
“Kalau begitu biarkan hilang, kau bebas ke mana saja tanpa harus menjagaku, menjadi Penjaga kebanggaan desa Chora” aku melepas pelukan ini namun karena mengunci dengan tangannya. “Bahkan banyak para Penjaga yang senang karena hilang hubungan dengan tuannya bukan”
Deg, mencintaiku? Bagaimana ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa ,badanku memanas, aku terkejut. Aku mencoba melepas pelukannya dan berhasil. Dia langsung menghapus air matanya dan tersenyum. “Apa?”
Karan tersenyum, dia menarik tangan kananku dan mencium punggung telapak tanganku. Setelah itu genggaman jari-jariku dengan jemarinya. “Tidak salahkan jika aku mencintaimu sebagai seorang pria. ayo kita pergi bersama”
Emosiku menghilang, tapi sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus senang atau marah, Karan adalah Penjagaku, Bagaimana bisa dia bilang seperti itu. Aku tahu cinta antara Penyihir dan Penjaga tidak dilarang namun tetap saja Karan ‘Hanya Penjagaku’. Di sisi lain aku senang ada seorang yang tampan, kuat dan pintar mencintaiku bahkan berusaha yang terbaik untukku.
Kami sudah berada di pasar desa Chora, selama di perjalanan aku tidak berbicara sedikit pun jam. Aku menoleh ke samping melihat wajahnya, aku mengingat ketika aku ke kamarnya, di sana banyak sekali foto-fotoku, mungkin itu bukti kalau Karan benar mencintaiku. Aku dan Karan masih berusia 15 tahun, mungkin cinta Karan itu akan hilang dengan seiring waktu jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan perasaannya.
“Ada apa Karin?” Karan menyadari aku memperhatikannya sejak tadi, dia mengelus tanganku dengan jemarinya yang berada di genggaman, matanya yang sayu menambah ketampanannya.
Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku dan menyadarkan pikiranku darinya. “tidak apa-apa”
“Kau masih marah padaku?”
“Tidak”
“Kau ingin sesuatu?”
“Kau punya uang?” Karan mengeluarkan dompetnya dan memberikannya padaku. Aku kaget ada fotoku di dompetnya, foto aku sedang tersenyum dan membawa banyak bunga. Aku ingat foto itu diambil ketika ayah sedang berulang tahun.
“Banyak sekali” Aku tidak percaya Karan memiliki banyak uang. Di dompetnya terdapat uang 10 Lak 5 lembar, 5 Perlak 10 lembar dan 10 Perlak 2 Lembar. Bahkan harga sweaterku hanya 15 Lak. “Dapat uang ini dari mana Karan?”
“Bekerja” aku menganga mendengarnya.”Hahaha wajahmu lucu sekali, aku sering membolos kelas untuk bekerja, banyak para penduduk yang meminta para penjaga untuk membantu mereka dan aku mengambil beberapa pekerjaan dan itu upahnya”
aku mengangguk-angguk mengerti, pantas saja waktu ketika pertama kali aku ke sini ada beberapa penduduk di ruangan kecil sebelah pos dekat gerbang.
“Itu untukmu, belilah sesuatu yang kamu suka”