
“Karin”
“Karan”
Kami berbicara bersamaan, aku merasa canggung sekali. Aku rasa aku harus lebih dulu minta maaf pada Karan.
“Aku minta maaf”
“Aku minta maaf” kami meminta maaf secara bersamaan, aku dan Karan tertawa bersama-sama.
“Berjanjilah kalau kita tidak akan bertengkar lagi” Karan menyodorkan jari kelingkingnya di hadapanku dan kusambut jari kelingkingku dengan antusias.
“Aku berjanji”
Karan memelukku dan aku membalasnya, dia menggenggam jari-jariku dengan jemarinya. Akhirnya kami berbaikan, aku juga bertanya dalam dua minggu dia ke mana saja, Karan hanya menjawab ‘rahasia’. Terkadang Karan memang menyebalkan.
Kami sudah sampai di depan gerbang rumah penduduk yang meminta bantuan. Kami berjalan masuk, rumahnya terlihat sangat megah dan mewah sepertinya pemilik rumah ini sangat kaya. Ada seorang gadis keluar dari rumah itu, dan menyambut kami. Dia bernama Zarin, Zarin gadis yang cantik memiliki langsung pipit ketika dia tersenyum, Zarin memakai gaun yang indah dan mewah, kulitnya putih bersih dan rambutnya yang bagus.
Aku membandingkan diriku dengan Zarin, selama aku di Hollywings kulitku menggelap karena banyak latihan praktik di setiap minggunya, bajuku hanya itu-itu saja dan yang belikan oleh Karan waktu akhir pekan dan rambutku agak kasar. Berbeda jauh dengan Zarin, Zarin sangat menawan, anggun dan manis.
Karan mengelus rambutku dan mencium tangan di genggaman tangannya, sepertinya Karan tahu apa yang kurasakan. “Kau sangat cantik” Karan membisiki telingaku.
Aku memukul lengan Karan, aku tersipu malu. Bagaimana bisa Karan bilang seperti itu dengan mudah, aku berjinjit dan berbisik di telinga Karan. “Kau sangat tampan” Karan mencubit pipiku, kita seperti sepasang kekasih yang lama tidak bertemu.
“Kau memang kekasihku”
Aku menatap Karan, bagaimana dia bisa tahu pikiranku. Karan harus memiliki kekuatan cukup besar untuk mengetahui pikiranku. Apakah Karan mempelajari ilmu terlarang atau memakan jiwa penyihir yang lebih hebat, jadi selama dua minggu Karan pergi, dia-.
Saat ini aku dan Karan berada di ruang tamu rumah besar ini, bernuansa emas dan silver, di tembok, sofa, tirai dan karpetnya, sehingga terlihat sangat mahal. Aku tidak berharap memiliki rumah seperti ini tapi aku ingin memiliki keluarga yang hangat dan memiliki banyak anak. Aku membayangkan betapa ramainya rumahku kalau aku memiliki banyak anak, dari anak yang suka memberantakkan rumah dan saling bertengkar. Mengingat aku tunggal, tidak memiliki Ibu dan selalu menghabiskan waktuku di hutan Nevan.
“Kita masih terlalu kecil Karin”
Aku melotot pada Karan, aku mencubit pinggangnya. Bagaimana bisa dia membaca pikiranku. “Berhenti membaca pikiranku Karan” apa yang dia bilang tadi. ‘Kita’ bagaimana bisa menjadi kita. “Kita?”.
“Apa kalian sepasang kekasih?” Zarin yang datang dari balik tembok, dia membawa nampan yang berisi air dan kue kering.
“Iya” jawab Karan dengan menatapku dan aku mengangguk-angguk terpaksa.
“Pantas saja kalian sangat serasi, kalian silakan diminum dulu” Zarin menaruh nampan dan sebuah foto di meja. “namanya Anna, Ayah memberikan aku sehari sebelum ayahku tiada. Anna diculik oleh segerombolan anak laki-laki, mereka berasal dari desa sebelah”.
Aku melihat foto di tangan Karan, gambar terlihat ada seekor rubah berwarna putih dan kemerah-merahan. Zarin bilang ciri khusus dari rubahnya adalah mata. Mata kirinya berwarna kuning dan mata kanannya berwarna biru.
“Baiklah kalau begitu kita permisi dulu” Aku dan Karan berpamitan pada Zarin untuk menemukan rubahnya yang diculik. Zarin akan memberikan kami uang lebih kalau kami bisa membawa rubah lebih cepat.
Aku dan Karan sedang berjalan ke desa sebelah, aku masih penasaran bagaimana Karan bisa membaca pikiran dan perasaanku. “Bagaimana kau bisa membaca pikiranku?, Jawab jujur”.
“Selama dua minggu aku menemui ayahmu, kami ke hutan Nevan untuk bertemu dengan pemimpin peri. Aku diberi ramuan agar bisa mengetahui semua yang ada di pikiran kamu dan perasaanmu” Karan mengetuk jidatku dengan jari telunjuknya.
“Kau senang”?
“Tentu saja”