
Tak berapa lama kami di kamar, aku, Maryam, Abi dan Saddam membawaku tur dan mereka yang memandu. Kami keluar dari pondok asrama dan berjalan ke gedung yang lebih besar yaitu gedung utama, semua gedung di sini perwujudannya sama, lalu kami memasuki beberapa gedung dan beberapa ruangan yang nantinya untuk kami belajar.
Abi menjelaskan beberapa ruangan di sini, ada sebuah Aula yang sangat luas, ruangannya yang sangat indah di kelilingi jendela-jendela besar dengan tirai yang panjang. Untuk ruang kelas, setiap tingkatan dibagi tiga golongan, golongan Aurora untuk para murid yang lebih ahli di bidang api dan udara, kedua golongan yaitu golongan Petrichor untuk para murid yang lebih ahli di bidang tanah dan air dan yang ketiga adalah golongan Halcyon yaitu golongan yang ahli dari semua bidang seperti tanah, air, api dan udara.
Kelas pun beragam kelas, Gedung Aurora berada di langit seperti Taman apung, gedung di sana ada bangunan besar sama seperti bangunan utama. Kelas Petrichor berada di tengah hutan, bangunan di sana dikelilingi danau yang cukup luas sedangkan kelas Halcyon di bangunan ini.
Pembagian kelas atau keahlian akan dilakukan dua hari lagi, namun 2 hari ke depan akan di gantikan dengan pengenalan sekolah. Aku berharap sekelas dengan teman-temanku, kami sedang di kawasan Petrichor, bangunannya berlantai tiga lantai 1 untuk tingkat 1, lantai 2 untuk tingkat 2 dan lantai 3 untuk tingkat 3.
Aku terpukau oleh pemandangan yang indah di sini dan danaunya yang jernih banyak ikan-ikan di dalamnya.
“Karin kami harus kembali ke bangunan utama, orang tua kami akan pulang hari ini” Maryam, Saddam dan Abi meminta izin untuk kembali, mereka ke sini dengan orang tua mereka dan hari ini orang tuanya akan kembali pulang. “Kau ingatkan jalan pulang kembali”
“Ya aku ingat kembalilah orang tua kalian pasti sedang menunggu”
Mereka melambaikan tangan padaku dan pergi, rasanya senang berlama-lama di sini sambil melihat-lihat pemandangan yang indah. Aku berjalan keluar dari bangunan Petrichor dan menuju tepi danau.
Aku duduk di pohon besar, pohonnya cukup rindang sehingga sangat teduh menuduh di bawahnya. Tidak sadar rasanya untuk belajar, Abi sempat bilang hanya 5 hari untuk sekolah, setelah itu kita bebas memilih kegiatan di luar sekolah. Di sini juga punya kewajiban, untuk golongan Aurora khusus untuk memasak, golongan Petrichor untuk berkebun dan golongan Halcyon khusus untuk berburu.
Aku mengambil beberapa batuan kecil disisiku dan melemparkannya ke danau, ada suara ranting patah seperti diinjak oleh sesuatu. Aku menoleh ke belakang ada seekor Leobird yang besar menghampiriku, aku cukup terkejut ada Leobird di sini mereka hanya bisa dijumpai di hutan Nevan.
Leobird adalah sejenis hewan seperti harimau namun mempunyai kelebihan yaitu sayapnya untuk terbang, Hewan ini sangat jarang ditemui, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat dan menyentuhnya.
Aku berdiri dari dudukku dan melambaikan tangan padanya, Leobird berjalan sangat pelan dengan kakinya yang besar. Aku sudah cukup ahli untuk menjinakkan hewan dengan pikiranku, aku menyentuh kepalanya dan membelai lehernya, dia sangat senang, mengendusku sampai aku tersungkur ke bawah. “Bagaimana bisa kau ada di sini?” Aku menggelitiki perutnya, dia mengaung kegirangan.
“Halo Gadis Virgilio” Aku menoleh ke arah kananku, sesosok laki-laki yang keluar dari belakang pohon menghampiriku, laki-laki yang aku temui ketika berjalan ke menuju stasiun. Laki-laki yang memiliki tanda hitam Virgilio di dada kirinya. Laki-laki itu duduk di hadapanku dengan Leobird di tengah. Laki-laki itu mengelus Leobird dengan lembut dan tersenyum menggoda padaku.
Aku memutar bola mataku arah lain, dia laki-laki yang menyebalkan, dia merusak pagiku tadi pagi, tapi aku masih penasaran bagaimana dia bisa mempelajari Virgilio padahal buku itu aku simpan di tempat yang sangat aman. “Bagaimana kau bisa mempelajari Virgilio?” tanyaku dengan ketus, dia tersenyum sepertinya dia suka membuatku kesal.
“Kau sendirian di sini, di mana pacarmu yang tadi pagi” dia mengalihkan pembicaraan.
“Dia penjagaku bukan pacarku” laki-laki itu mengangguk-angguk dengan mulutnya berbentuk “o”.
“Kau mau berkeliling-keliling Hollywings?”
“Sudah”
“Ayolah kau pasti belum melihat seluruhnya”
“Baikkah”
Entah kenapa perasaanku selalu berubah-ubah dengan cepat, cepat sedih, cepat senang, dan cepat marah. Aku merasa emosiku belum stabil, terkadang aku juga senang dengan hal-hal yang tidak jelas.
“Karin”
“AAAAAAAA”
“KAU TAKUT?”
“TIDAK, AKU SENANG”
“Tapi kenapa kau berteriak seperti orang ketakutan” Evans menepuk jidatnya yang melihat kelakuanku.
Aku dan Evans menaiki Leobird, dia terbang dengan sangat tinggi dan melesat dengan cepat di antara pepohonan. Meski aku sering melihat Leobird di hutan Nevan Aku tidak pernah terbang dengannya. Aku melihat seluruh penampakan Hollywings di atas sini, walaupun tidak terlalu tinggi. Gedung utama yang begitu besar lalu hutan yang begitu luas yang tertutup oleh lebatnya pepohonan.
Tak lama terbang Leobird turun secara perlahan di hutan, sepertinya dia kelelahan membawa aku dan Evans yang berat. Evans mengulurkan tangannya untuk membantuku turun namun Aku menolaknya. Aku menggunakan kekuatan Virgilio untuk turun.
Evans menepuk kedua tangannya karena aku tidak meresponsnya. “Bagaimana kamu bisa dengan sempurna mengendalikan Virgilio?”
“Kau mau ingin bertarung?” tentangku.
“Kau meremehkanku, ya baiklah” Evans menerima tantanganku, aku dan Evan melangkah mundur sedikit. Dia sangat siap menyerangku dengan kekuatannya, aku lebih dulu maju dengan secepat kilat hingga berada di belakangnya Evans yang terkejut langsing berbalik badan tapi sebelum itu aku sudah menendang punggungnya lebih dulu. Evans tersenyum tipis “lumayan”.
Aku menggerakkan tangan kananku untuk mengendalikan udara di sekitar Evans hingga dia terangkat oleh udara-udara yang aku kendalikan, aku mengarahkan ke salah satu pohon yang besar. Tangan kiriku mengendalikan tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya danku arahkan ke Evans yang ada di pohon, seketika batang-batang pohon melilit kaki dan tangan Evans sehingga dia tidak bisa bergerak.
“Apa kau menyerah?” aku melihatnya dari bawah, aku mengulurkan tangan kiriku ke atas dan pohon di dekatku memberikan buah seperti apel berwarna ungu.
“Baiklah, aku menyerah”
Aku tertawa kegirangan dan lilitan di kaki dan tangan Evans terlepas, dia jatuh ke tanah namun dengan sikap dia berdiri. Aku membuang sisa buah yang kumakan dan berjalan ke arahnya, tiba-tiba Evans dengan cepat memegang pundakku, dia terbang lurus dengan cepat dengan spontan aku menahannya dengan mengendalikan udara yang dia kendalikan. kami berhenti terbang dan jatuh ke atas tanah yang cukup berair.
“Kau sangat licik” Evans tersenyum cengengesan kepadaku. Aku melihat kakiku tenggelam hampir selutut. “Apa ini lumpur hisap?”
“Mungkin”
Aku memutar bola mataku, aku tidak bisa mengendalikan lumpur hisap karena tanah ini tidak bernyawa, tidak seperti tanah lainnya. Aku dan Evans bersusah payah keluar dari lumpur ini namun hasilnya nihil.
“Karin tidak usah khawatir, aku ak-“ ucapnya untuk menenangkanku tapi bagaimana bisa aku tenang sedangkan lumpur ini sudah di atas pinggangku.
“Kau ingin mengajakku mati Evan?” Evans tertawa, Evans benar-benar menyebalkan. Aku mengendalikan pepohonan di sekitarku, salah satu pohon di sekitarku mengulur batang seperti tali, aku dan Evans mengambilnya dan keluar dari lumpur ini. Aku memukul lengan Evans dia tertawa melihatku kesal. “Kau sangat menyebalkan”.