
Suara canda tawa aku dan Karan memenuhi kamar asrama, sudah 10 hari aku di desa Chora, hari aku dan Karan akan pergi ke Hollywings. Aku sudah mempersiapkan semuanya, Karan juga membantuku membereskan barang-barangku. Sesekali kita tertawa mengingat liburan akhir pekan kemarin.
Aku dan Karan membeli banyak barang-barang yang sama seperti kaus, aku berwarna putih, dia berwarna hitam dengan corak yang sama. Lalu 3 sweater sama dan jaket, kami juga membeli sepatu yang sama, dan Karan membelikanku beberapa riasan wajah seperti bedak dan 2 pewarna bibir.
Sejak saat itu kita semakin dekat, beberapa hari kemarin Karan mendatangiku untuk makan bersama atau menemaninya latihan. Kini dia ada di kamarku memastikan barang-barang bawaanku ke Hollywings nanti.
“Lihat ini” Karan menunjukkan foto-foto ketika kita saat di pantai Ora, foto itu diambil ketika aku dan Karan saling berpelukan dilatarbelakangi pantai yang sangat indah, kami terlihat sangat bahagia.
Aku menunduk malu, wajahku memerah, jantungku berdegup dengan kencang. Perasaanku mulai aneh ketika melihatnya, aku senang setiap dia datang, aku senang ketika dia menggenggam dan merangkulku.
“Ayo sudah waktunya kita berangkat” Karan berdiri dari duduknya dan membawa koperku dan aku keluar membawa tas ranselku. Koper Karan sudah ada di depan pintu, dia membawanya ketika ke kamarku. Aku dan Karan memakai baju yang sama baju. Karan sangat cocok menggunakan baju berwarna hitam seketika auranya keluar dari tubuhnya.
Kami sedang berjalan di lorong kelas kami akan ke stasiun teleportasi menuju Hollywings. Erik, Gadis dan Erly sudah lebih dulu ke Hollywings. “Karan apa kau kesulitan membawa koperku?” aku melihat Karan sepertinya keberatan membawa dua koper di tangannya.
Karan tersenyum manis padaku. “Tidak” urat-urat tangan terlihat dengan jelas ketika membawa koperku dan kopernya, koperku dia pegang di tangan kanannya sedangkan kopernya di tangan kirinya.
“Bagus” aku mengacungkan dua jempolku kepadanya. “Karena Aku tahu koperku sangat berat makanya aku malas membawanya, Karan hati-hati ya” aku mengedipkan mata kiriku, melambaikan tangan kanan kepadanya dan berjalan mendahuluinya “Dah..”
Aku berlari-lari kecil menuju gerbang di sana terlihat Master Laiz, Guru Cakra dan beberapa guru lainnya. Sempat aku melihat Karan yang tersenyum manis berubah menjadi datar sepertinya dia marah aku tinggal lebih dahulu.
“Apa kau siap Karin?” tanya guru Cakra ketika melihat kedatanganku.
“Sangat siap” jawabku yang semringah, aku melihat karan yang baru keluar dari bangunan para penjaga. Aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya, mukanya masih datar dan tidak berekspresi. Aku lihat air gelang di tanganku air itu berwarna merah itu berarti Karan sedang marah.
Beberapa hari setelah akhir pekan aku dan Karan semakin dekat, terkadang dia menunjukkan rasa kesalnya ketika aku tidak menuruti kata-katanya, terkadang dia juga marah ketika aku terlalu dekat dengan Erik saat sarapan begitu pun sebaliknya aku juga kesal dan marah padanya. Mungkin karena kita masih di fase remaja, emosi kita belum stabil terkadang kita juga saling terpancing emosi dan masih mencari jati diri.
“Kalau begitu kalian hati-hati di jalan dan baik-baik, saling menjaga” Guru Cakra menepuk pundakku dan Karan, aku melihat wajah Karan yang datar, membuatku kesal sendiri.
“Baik Guru”
Aku melambaikan tangan kepada Master Laiz, Guru Cakra dan guru-guru di sana. Karan sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan aku dan koperku yang sangat berat.
Master Laiz dan guru-guru pun sudah pergi ke dalam, aku berencana menggunakan Virgilioku agar tidak terlalu berat mengangkat koperku.
Aku mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, aku angkat koperku dibantu oleh udara di sekitarku, udara itu berkumpul di bawah koperku seketika koperku menjadi sangat ringan. Kumpulan udara ini mengikuti arah ke mana koperku pergi dengan arahanku.
Aku berjalan melewati beberapa bangunan penduduk rumah-rumah yang sederhana, banyak tumbuh-tumbuhan yang hidup di sini. Desa masih sangat asri, desa yang dijuluki desanya malaikat karena para penjaga terlahir dari sini.
Melihat karan yang sedang berjalan di depan, aku ingin menunjukkan padanya kalau aku juga bisa tanpa harus dibantu. Aku berlari-lari sedikit sampai berada di sampingnya, Karan menoleh dengan muka datarnya dan kembali menatap lurus ke depan. Melihat karena seperti ini, aku melangkahkan kakiku lebih cepat darinya agar sampai stasiun lebih dulu darinya.
Aku berjalan melewati lalu-lalang orang-orang di pasar, sesekali bertubrukan bahuku dengan bahu para pejalan kaki lainnya.
“Jangan menggunakan kekuatan Virgiliomu di depan umum”