
“Kau senang”?
“Tentu saja”
Aku rindu momen-momen bersama Karan, apalagi ketika kita di desa Chora. Kami menghabiskan banyak waktu bermain di pasar, bermain air dan berfoto di Pantai Ora, aku juga sering menemaninya latihan. Tapi selama di Hollywings hubungan kami meregang dan baru kali ini kami bersama sejak di Hollywings.
“Aku juga merindukannya” gegaman jari-jemari kami belum terlepas, sesekali Karan mencium punggung telapak tanganku. “Nanti kamu harus menemaniku latihan, karena aku sudah 2 minggu tidak masuk kelas”.
“Tidak mau”
“Harus mau”
“Bagaimana dengan Ines, kau tahu Ines menyukaimu” aku teringat pada hari kedua masa pengenalan, Ines memberi tahu kalau dia mencintai Karan dan menyuruhku untuk menjauhi Karan tapi bagaimana bisa sedangkan aku dan Karan sedekat ini.
Karan terdiam sejenak dan dia berhenti berjalan. Karan menatapku dengan dalam. “apa kamu cemburu Karin?” aku menggeleng geleng dengan cepat. “Aku hanya berteman dengannya, aku akan menjauhinya karena dia kamu menjauhiku”.
Kami melanjutkan perjalanan, desa ini benar-benar sepi hanya ada satu rumah setiap 100 meternya. Banyak pohon-pohon besar dan tinggi sampai menutupi sinar matahari. Lalu kami memasuki sebuah desa yang cukup ramai, banyak orang-orang yang sedang bermain, berjualan, dan berfoto-foto, adapun yang sedang duduk dekat air mancur untuk bersantai.
Aku menggunakan kekuatan Virgilio untuk mengetahui posisi rubah itu. Aku mau memenjamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam, aku memfokuskan satu titik keberadaan rubah itu. Aku melihat sebuah rumah tua, banyak orang di dalamnya, ada juga beberapa rubah di sebuah kandang kecil. Mereka seperti melakukan pelelangan pada rubah-rubah itu.
“Baiklah Karin, kau di sini saja biar aku yang ke sana” Karan pergi begitu saja meninggalkan aku dalam keramaian orang-orang ini. Ini tugas yang mudah hanya untuk seorang Karan yang hebat, jadi aku tidak perlu khawatir, pasti Karan cepat menyelesaikan tugas ini sendiri.
Sejak tiba di sini, aku terpaku pada salah satu rumah di ujung jalan. Aku berjalan menuju rumah itu, ternyata ini bukan sebuah rumah melainkan sebuah salon yang cukup besar. Aku memasuki salon itu, ada beberapa orang yang sedang mencuci rambut dan memotong rambut. Aku berniat merapikan rambutku di bagian depan dan belakang. Aku mau memberikan uang kepada salah satu karyawan salon.
“Kau cantik sekali, sepertinya bagus kalau kamu mengganti warna rambutmu” karyawan yang cukup nyentrik itu mengibas-ngibaskan rambutku. Aku mengangguk-angguk dari kaca besar di hadapanku. Kryawan itu menggunting beberapa rambutku agar terlihat rapi lalu dia mengambil sebuah pewarna di belakangnya, dia mengoleskan sedikit demi sedikit adonan di mangkuk kecilnya.
Selama 30 menit pewarna rambut ini mengering dan akhirnya karyawan itu membilas rambutku dan mengeringkannya. Warna gradasi hitam keabu-abuan terlihat bagus di wajahku. Aku senang karena hasilnya sangat bagus. Aku berterima kasih pada karyawan itu dan pergi menemui Karan, harusnya Karan sudah selesai dengan tugasnya yang mudah.
Keluar dari salon itu aku melihat Karan sedang menyandarkan diri di batang pohon dengan menggendong sebuah rubah. Aku berlari pelan menyusulnya dan aku meminta menggendong rubah itu.
“Kau sangat cantik” puji Karan yang membuatku malu, aku mengelus rubah-rubah ini, dia terlihat sangat menggemaskan. Sama seperti di hutan Hollywings. “Karin jauhi Evans, aku tidak menyukainya”.
“Rubah ini berat, kamu saja yang pegang” Aku menyerahkan kembali rubah ini kepada Karan. Aku malas kalau bersama Karan membahas Evans. Aku menganggap Evans seperti kakak laki-lakiku.
“Dan jangan dekat-dekat dengan laki-laki mana pun”
“Karan temanku banyak”
“Aku akan mengawasimu terus Karin”
Aku memutar bola mataku, Karan menjadi sangat posesif. Abi dan Saddam adalah sahabatku dari kecil, bagaimana bisa aku menjauhi sahabat-sahabatku.
“Aku juga sudah minta izin ayahmu untuk dekat denganmu dan ayahmu juga merestui hubungan kita”
“Karan aku lapar, setelah mengembalikan rubah ini, ayo kita makan” Aku mengalihkan pembicaraan, aku tidak suka membahas perihal cinta-cintaan.
Aku dan Karan sudah sampai di rumah Zarin, Zarin sangat senang bertemu kembali dengan Annanya si rubah menggemaskan. Zarin memberikan Karan uang sebesar 100 Perlak, aku menganggap melihat uang sebanyak itu. Kami langsung berpamitan dan pergi dari rumah besar itu.
Aku dan Karan berjalan ke stasiun teleportasi, kami akan kembali ke Hollywings. Sesampai di Hollywings aku dan Karan menuju kantin, aku sangat lapar tadi pagi aku tidak sarapan karena malas. Aku berjalan lebih cepat dari Karan, Karan tadi berbicara sebentar pada petugas yang memberi kami tugas.
Aku berjalan melewati lapangan, tiba-tiba Evans menghadangku tanpa mengenakan bajunya, terlihat badan berototnya. Dia memamerkan otot-ototnya padaku, Evans mengangkat kedua tangannya dan menahan nafasnya sehingga urat-uratnya pun menjalar ke mana-mana. Evans sedang praktik fisik bersama teman seangkatannya.
“Bagaimana?” tanya Evans dengan bangga, aku mengacungkan dua jempolku padanya. Dia pasti berusaha keras untuk membentuknya. “Kamu mendapatkan banyak uang?, rambutmu sangat bagus”.
“Iya kami mendapatkan banyak sekali uang” Karan yang muncul dari belakang menutup mataku dan membalikkan tubuhku hingga menghadapnya. Karan merangkulku dan berjalan melewati Evans “Jauhi Karin”.
“Kau jangan seperti itu Karan, Evans baik padaku” aku melepas rangkulannya dan menjauh darinya. “Karan kita masih kecil dan masih sekolah, tempatnya memiliki banyak teman dan belajar”.
Karan berjalan melewatiku begitu saja, Karan sepertinya marah tapi tetap saja sikapnya terlalu berlebihan. Karan dan aku masih remaja, belum bisa berpikir dewasa.
Aku menyusul Karan di Ruang Makan, Ruang penuh dengan para murid yang sedang istirahat. Karan sedang duduk di meja paling ujung ruangan dengan dua piring makanan di mejanya. Aku menghampiri lingkaran dengan malas, aku pusing kalau Karan marah ataupun mengambek, membujuknya jauh lebih sulit dibandingkan seorang wanita yang sedang marah.
Aku duduk di sebelahnya, Karan tidak menoleh ke arahku sama sekali, aku sebel dengan sikapnya. Aku mau memilih makan-makannya di depanku daripada melihat karan yang marah. Di piringku tersaji paha ayam yang cukup besar, paha ayamnya mengingatkanku dengan lengan Evans yang berotot.
“Aww” Karan mencubit lenganku, aku mengelus lenganku yang sakit. Aku lupa kalau Karan bisa membaca pikiranku.
“Karan” suara lembut dari Ines itu memberhentikan pertengkaran kami, aku lepas tanganku yang masih berada di rambut karang begitu juga dengan Karan. Ines terlihat cantik mengenakan dress berwarna merah muda dengan sedikit perhiasan di wajahnya.
Ines duduk di sebelah karan, dia tersenyum manis kepada kami. “Karin rambutmu bagus tapi di Hollywings tidak boleh ada yang mewarnai rambut”.
“Tidak apa-apa” Ines benar, di Hollywings tidak ada yang boleh mewarnai rambut tapi menurutku sih boleh-boleh saja, memakai riasan wajah saja tidak dilarang.
“Karan kau baik-baik saja?, selama 2 minggu kau kemana saja?” Ines merapikan rambut Karan yang berantakan karena aku menariknya tadi. Ines mungkin benar-benar mencintai Karan dari tatapannya yang begitu dalam.
Aku melihat Karan, apakah dia tidak menyukai Ines. Walaupun aku sedikit tidak menyukai Ines tapi sepertinya ini benar-benar mencintai Karan. Sepertinya aku mengganggu mereka, aku ingin pergi dan memberi waktu mereka berdua.
“Aku ada praktik ber-”
“Duduklah”
Karan menarik tanganku ketika aku berdiri, aku langsung duduk dan fokus pada makananku. Aku mendengarkan percakapan Karan dan Ines di sebelah, aku seperti tukang menguping di sini.
“Ayo Karan temani aku ke desa Chora” Ines mengajak Karan ke desanya, Ines rindu kepada ibunya dan masakan ibunya.
“Tapi aku ada rencana latihan hari ini” Karan menolak ajakan Ines secara halus. Karan pria yang kejam, padahal wanitanya sudah berdandan rapi dan siap pergi bersamanya namun ditolak. Karan menyentil jidatku untuk ke sekian kali.
“Tenang saja itu kan masih rencana, kalian bisa pergi” ucapku dengan mendorong sedikit tubuh Karan. “Pergilah besok kan masih libur, kamu bisa latihan”.
“Karin Mau berburu?” Evans yang entah datang dari mana duduk di sampingku, aku mengangguk-angguk, alasan yang pas untuk meninggalkan Karan dan Ines.
“Iya aku ma-“
“Aku dan Karin sudah membuat janji, Ines maaf hari ini aku tidak bisa ikut denganmu” Karan menarik tanganku dan melangkah keluar dari ruang makan.
Event menarik sebelah tanganku, muka Evans dan Karan sangat seram, mata mereka seperti menandakan perang. Aku melepaskan tangan Evans dariku dan tersenyum padanya. Aku mendorong tubuh Karan keluar dari ruang makan, aku takut kalau Evans dan Karan bertengkar di dalam.
Kita berjalan ke sebuah taman dekat pondok asrama, Karan memarahiku, bagaimana bisa menerima begitu saja ajakan dari Evans. Aku pun juga tak mau kalah, dia juga dekat-dekat dengan Ines bergandengan tangan, bercanda tawa. Apalagi ketika aku tiba di Hollywings, Karan hanya dengan Ines. Jadi jangan salahkan aku jika dekat dengan Evans.
“Kau cemburu?” Karan tersenyum menggoda padaku, aku sedang marah bisa-bisanya dia seperti itu.
“Terserah”
°°°°
Pagi yang penuh keindahan, suara-suara burung yang merdu, udara yang sejuk dan matahari yang tidak terlalu panas. Sangat cocok untuk bersantai-santai, rasanya ingin kembali ke tempat tidur tapi semua tidak seindah itu. Kelasku sangat ramai , padahal hanya ada 9 orang di dalam ruangan ini. Ingin sekali keluar dari kelas ini dan pergi ke taman tulip, menikmati pagi yang indah.
Tapi semua percuma, aku dihadapkan dua orang yang sangat aneh. Yang pertama laki-laki yang memanggilku kelinci kecil saat masa pengenalan waktu itu, dia bernama Kenan, Kenan sangat aktif dan berisik dia sering dimarahi guru karena kenakalannya.
“Rambutmu lebih bagus di kucir dua” Kenan sedang memainkan rambutku, aku memutar bola mataku dengan malas Aku sudah berkali-kali memarahinya namun dia tidak peduli, karena Kenan juga membuat hari-hariku menjadi buruk.
Yang kedua, dia seorang perempuan yang bernama puja, dia gadis yang cantik dan pintar. Hanya saja dia cuek dan dingin. “Kenan hentikan, Karin tidak menyukainya”.
Kenan tidak memedulikan ucapan Puja, Kenan senang sekali mengepang dan menguncir rambutku, alhasil setelah kelas selesai rambutku selalu menjadi berantakan. Puja dan Kenan mempunyai kepribadian bertolak belakang yang membuatku pusing, aku terkadang ikut dengan keusilan Kenan tapi juga cuek dan dingin seperti Puja.
Kemarin Master Wafi membentuk kelasku menjadi 3 kelompok, aku bersama Kenan dan puja. Master Wafi adalah wali kelas kami, dia juga yang mengajar beberapa pelajaran di kelas dan hari ini adalah kelasnya namun Master Wafi belum datang.
“Wahai teman-temanku yang mengenaskan, hari ini Master Wafi tidak datang karena ada urusan” ketua kelas yang datang dari balik pintu membuat satu kelas bersorak keras bahkan ada yang menaiki meja. “Tapi jangan senang dulu wahai teman-temanku yang mengenaskan, ini tugas dari Master Wafi, walaupun dia tidak datang tapi akan digantikan oleh senior tingkat 3. Kalian disuruh mencari ini nanti setelah istirahat kita akan belajar dengan senior”
Tawa bahagia itu hilang ketika mendengar kelanjutan dari ketua kelas, perasaan senangku pun hilang mendengarnya. Padahal aku sudah berencana untuk keluar dari kelas ini dan bersantai dengan nyaman di taman Tulip.
Ketua kelas itu memberikan kami sebuah kertas kecil yang bertuliskan bahan-bahan, kami disuruh mencari bahan-bahan ini untuk Ramuan. Bahan-bahan ini sangat sulit dijangkau seperti tumbuhan merah di dasar danau, Jamur payung Hitam, bunga pohon Kinoki dan darah duyung.
Banyak yang mengeluh karena bahan-bahan yang bikin merepotkan, ditambah kami hanya memiliki dua jam untuk kembali ke kelas. Aku melihat Puja yang datar melihat daftar bahan-bahan sedangkan Kenan yang menunjukkan raut wajah pusing. Aku bingung mau mulai dari mana, melihat Puja dan Kenan tidak berbicara.
Seisi kelas berpencar, setiap kelompok memiliki 3 anggota, mereka membagi tugas untuk setiap orang. Kenan dan Puja menatapku, aku menjadi salah tingkah ditatap mereka berdua, aku menaikkan satu alisku, apa yang mereka pikirkan.
“Karena bahan-bahan ini terlalu sulit lebih baik kita mencari bersama, belum tentu kita berpencar bisa mendapatkan bahan-bahan ini” Puja sebagai pemimpin kelompok ini membuat keputusan bagus, aku setuju dengannya, ini bahan-bahan yang sulit untuk didapatkan.
“Setuju”