Gadis Virgilio

Gadis Virgilio
15


“Cepat minta maaflah”


Aku pergi meninggalkan mereka begitu saja dan berjalan menuju lapangan dengan air mata mulai menetes. Karan tidak berhak berteriak kepadaku seperti itu, apalagi untuk pacar di sampingnya itu.


Lapangan sudah dipenuhi penyihir-penyihir tingkat 1, mereka tidak lagi bertengkar melainkan sedang berbaris rapi sepertinya misi ini diakhiri lebih cepat. Aku buru-buru menghapus air mataku karena semua mata tertuju padaku, salah satu senior menyuruh untuk berkumpul dengan yang lainnya. Aku belari pelan dan memasuki barisan paling belakang, barisan ketiga temanku dan penjaganya ada di depan, barisan paling belakang hanya ada penyihir-penyihir laki-laki bertubuh tinggi termasuk laki-laki yang mengejarku tadi. Aku merasa seperti kurcaci karena tubuhku yang paling pendek.


“Bagaimana apakah kalian bisa menyesuaikan misi ini?” suara senior perempuan dari depan sana, dia seperti mengejek junior-juniornya yang tidak bisa menyelesaikan misi ini.


“SIAP BISA” teriak terdengar seperti cicitan seekor tikus di antara kucing-kucing yang besar ini, mereka menatapku dengan sebel namun aku tersenyum manis pada mereka.


Senior perempuan tadi menyuruhku ke depan, aku berjalan dengan melambaikan tanganku dengan penuh kebanggaan pada teman-temanku di lapangan, para senior tingkat 2 dan senior tingkat 3 bertepuk tangan padaku. Sempat aku mengedipkan mata pada Evans.


“Karena ini masih jam 4 masih ada satu jam lagi untuk merebut bola kekuatan ini, Apakah kalian masih ingin merebut bola ini, karena keuntungan bola ini bukan hanya jubah dan tidak ikut masa pengenalan besok tapi juga menentukan misi selanjutnya dan bisa makan malam dengan menu bebas tapi itu keputusan ada di tangan Evans”


Senior perempuan melangkah mundur dan digantikan Evans, Evans menatapku dengan datar mungkin ini karakternya sebagai pemimpin senior di sini, aku berharap Evans tidak melanjutkan misi ini. “misi ini tetap berlanjut tapi saya hanya izinkan satu kelompok untuk merebut bola itu, siapa yang mau bertarung melawan Karin?”.


Menatap pasrah pada Evans, aku tahu pasti misi ini akan dilanjutkan. Separuh mengangkat tangan untuk melawanku tapi hanya satu kelompok atau dua orang yang bisa bertarung denganku untuk merebut bola ini. Evans memilih satu kelompok di barisan paling belakang, satu kelompok itu adalah laki-laki yang membongkar bola kekuatan ini ada di aku.


Evans memberi kode-kode pada juniornya ke tepi lapangan dan menyisakan aku dan 2 laki-laki itu. Kami saling menatap dan tersenyum, Evans menjelaskan peraturannya, pertama kita tidak boleh menggunakan kekuatan sihir, kedua pertarungan akan selesai kalau antara kami menyerah atau jam pukul jam 5 dan yang terakhir kita tidak boleh keluar dari lapangan.


Aku menyikut lengan Evans, aku sangat tidak suka peraturan pertama bagaimana bisa aku melawan 2 laki-laki tinggi besar seperti mereka kalau pun aku bisa, aku harus menggunakan kekuatan Virgilio untuk memenangkannya. Evans mengedipkan mata kirinya sebelum melangkah ke sisi lapangan.


“Karin Aku tidak ingin memukulmu lebih baik kau menyerah saja” 2 laki-laki itu mendekat ke arahku mereka tersenyum dengan bangga “Kau memang hebat dalam mantra-mantra tapi tidak kekuatan fisik, Aku tidak mau wajah dan tubuhmu lebam-lebam sayang”


Aku berlari dengan cepat ke arah mereka, mereka dengan berdiri santai, sepertinya mereka sangat meremehkan aku. “Kelinci kecil pukulan tidak akan berpengaruh apa-apa”


Aku memandang salah satu laki-laki itu dengan kekuatan Virgilio, aku mengumpulkan udara di kakiku agar tendanganku menjadi kuat. Alhasil laki-laki itu terpental jauh dari tempatnya, aku meloncat-loncat kegirangan melihat laki-laki itu terjatuh.


Laki-laki yang satunya memukul wajahku tepat di hidungku ketika aku sedang lengah, hidungku menjadi mimisan, aku mengelap darah di hidungku dan tersenyum miring. Aku memukulnya bertubi-tubi di dadanya dengan bantuan Virgilio dan aku akhiri dengan tendangan yang sama pada temannya tadi. Mereka berdua kesakitan, namun laki-laki yang pertama berdiri dan berlari ke arahku dia memukul dengan sembarang dan aku berhasil menghindari dari pukulannya.


“Sudahlah kalian menyerah saja” ucapku yang lelah menghindar dari pukulannya, aku menendangnya lagi dengan tendangan yang sama, dia pun terjatuh tersungkur lagi. Aku berlari untuk memukul namun dia mengangkat tangannya ketika tanganku sudah di depan wajahnya.


“Kami menyerah” dia memegang dadanya yang masih kesakitan dan membantu temannya yang jatuh. “kau sangat hebat Karin”


Aku tersenyum lebar pada mereka dan bersalaman sebagai tanda perdamaian, murid-murid dan para senior kembali bertepuk tangan padaku dan kembali ke tengah lapangan. Aku menyeka darah di hidungku, darahnya tidak berhenti-henti. Sebenarnya aku bisa menggunakan kekuatan Virgilioku untuk menyembuhkan luka di hidungku tapi aku tidak mau agar alami pun agar orang-orang tidak curiga.


Evan menarik tanganku dan membersihkan darah di hidungku dengan sapu tangannya. Seisi lapangan para junior dan senior menggoda kami, aku merasa malu aku ambil sapu tangannya dan kubersihkan sendiri.


Evans mengakhiri misi ini dengan kemenanganku, satu senior perempuan datang membawa jubah Hollywings, senior itu memberikan pada Evans dan Evan mengenakannya padaku. Aku menggodanya dengan mengedipkan mata kananku, dan tersenyum manis. Evans menyentil jidatku dengan jarinya dan merangkulku.


“Istirahatlah, jam 7 Kita akan makan malam bersama” aku menjauhkan wajahku darinya, suaranya yang begitu keras membuat kupingku sakit. Teman-temanku dan para senior meninggalkan lapangan dan hanya ada aku dan Evans. “Gadisku memang hebat”


'Gadisku'