Gadis Virgilio

Gadis Virgilio
14


Tok tok tok tok


Suara ketukan pintu itu membangunkanku, aku melihat jam yang berada di meja. Waktu menunjukkan pukul 2 siang, masih ada 3 jam untuk menyerahkan bola kekuatan ini. Rasanya tubuhku pegal, mungkin karena kemarin aku bermain dengan Evan, menaiki Leobird, bertarung, terjebak di lumpur hisap, mengelilingi danau, memandikan Leoird dan banyak lagi.


Aku berdiri dari kasurku dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Aku membuka pintu terlihat wajah Karan yang khawatir. Entah berapa lama dia di sini, dia bertanya keadaanku namun aku acuhkan dan berjalan menuju lapangan. Rasanya ada suara berisik dari arah lapangan.


“Karin” Karan membentakku, Dia terlihat sangat marah matanya melotot, rahangnya mengeras dan wajahnya memerah. “Aku sedang bicara padamu Karin”


‘Aku ba-“ Ines tiba-tiba datang dan merangkul lengan Karan, sepertinya dia suka sekali menempel-menempel dengan Karan. Aku mau memasang muka prihatin kepada Karan namun dia memasang wajah datarnya.


“Karin kau sedang apa di sini, para junior sedang berkelahi untuk merebut bola itu” suaranya yang kelewat lembut membuat kupingku menjadi sakit, aku tidak berkata apa-apa dan langsung pergi ke arah lapangan.


Ines benar lapangan ini seperti Medan perang, sangat berantakan. Mereka saling memfitnah satu sama lain, terlihat juga temanku dan para penjaganya bertarung dengan kelompok lain. Entah aku harus senang atau sedih melihat mereka, padahal yang mereka cari ada di aku.


Banyak para senior yang menatap dengan aneh, mungkin mereka belum tahu aku, Karin adalah murid terbaik di tingkat 1. Aku melihat Abi yang tersungkur ke tanah sedangkan Erik yang sedang bertarung dengan dua orang laki-laki. Ketika aku ingin membantu Abi di tengah lapangan namun ada yang menarik tanganku.


“Karin jangan ke sana”


Aku menoleh melihat Karan dengan Ines sedang bergandengan, aku hempaskan tangan Karan dari tanganku dan berlari menuju Abi.


“Abi apa kau baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja Karin, kau sedang apa di sini, tetaplah di sisi lapangan” aku membantu Abi berdiri, wajah Abi terluka di pelipisnya darah.


Abi menyusul Erik, Abi ikut membantu menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki bola kekuatan itu. Aku menepi ke sisi lapangan dan meneriaki ketiga temanku dan penjaganya untuk ke sisi lapangan namun mereka dihadang oleh murid-murid lainnya.


Ada dua orang yang menghampiriku dari tengah lapangan, mereka laki-laki bertubuh tinggi seperti Karan, tingginya sekitar 180 cm. Mereka berjalan mendekat dengan wajah sangar mereka dan aku mundur beberapa langkah.


“Apa kau yang memegang bola itu?” suara serak dari salah satu laki-laki itu. Aku hanya menggeleng untuk pertanyaannya. “benarkah? Karin Natalia Iskandar murid terbaik tingkat 1 di Hollywings”


Seketika semua menjadi hening, semua mata tertuju padaku. Aku menelan ludahku dengan susah, keringat dinginku mulai berkeluaran. laki-laki ini benar, nilaiku saja nyaris sempurna. “Bahkan di antara yang lain, pakaianmulah yang masih rapi dan bersih”


Dia benar, di antara semua pakaian 44 murid lainnya yang basah dan kotor hanya aku yang paling bersih dan rapi. “aku tidak enak badan setelah bermain air kemarin, makanya aku tidur di pondok” alibiku mereka semua masih menatap curiga padaku. Aku menepuk dua kali lengan laki-laki itu “Ayolah ha-ha-ha, Aku bahkan tidak memiliki kelompok, kalian juga lebih hebat dariku, aku 3 tahun lebih muda dari kalian ha-ha-ha”.


Aku menghela nafas melihat-lihat sekitar mereka yang menatapku, lalu mataku tertuju pada Evans yang sedang duduk di kursi sisi lapangan, aku mengisyaratkan dia untuk membantuku namun dia hanya mengangkat kedua bahunya, aku memutar bola mataku dengan malas. “Oke oke, 4 bola itu ada di aku, tapi apakah kalian tidak bisa memberikan bola itu kepada gadis kecil ini”.


“Sudah kuduga, berikan bola itu padaku” aku memperlihatkan keempat bola kekuatan ini pada mereka namun aku sembunyikan lagi. Para senior tidak percaya, wajah mereka sangat terkejut, mungkin karena mereka melihat aku di sini dan tidak ke mana-mana.


“Ambillah kalau bisa”


Aku berlari ke tengah lapangan, aku bersiul dan datanglah Leobrid dari hutan. Ketika dia terbang di atasku, aku melompat memegang kakinya dan melompat lagi di punggungnya Leobird. 2 laki-laki itu dan lainnya menyerangku dengan tongkat mereka, untung saja sapu terbang tidak diperbolehkan kecuali urusan penting.


Penyihir yang memiliki penjaga mengubah mereka menjadi seekor burung besar, mereka terbang mengikutiku. Aku mengarahkan Leobird ke hutan agar mereka tidak menemukanku, Leobird dengan lihai meliuk-liuk tubuhnya di antara pepohonan-pepohonan besar. Yang lain tertinggal jauh karena Leobird lebih cepat dibandingkan penjaga mereka.


Aku menjatuhkan diriku dari Leobird, aku menyuruhnya untuk kembali ke rumahnya. Aku terbang di antara pepohonan, lalu aku memilih pepohonan yang besar untuk mendarat. Aku berlindung di balik pohon ketika penyihir lain datang, “sebaiknya aku kembali ke gedung utama” aku menempelkan tubuhku dibatang pohon besar ini dan memfokuskan pohon yang dekat dengan pondok. batang-batang pohon ini mulai melahap seluruh tubuhku dan mengeluarkannya di pohon tepat belakang pondok asrama. Kalau aku kembali ke lapangan pasti membuat riuh lagi, aku memilih ke kantin untuk makan, aku merasa lapar karena tidur seharian.


Aku berjalan menuju kantin banyak para senior yang membicarakanku adapun senior laki-laki yang bersiul atau memanggil namaku ketika aku berjalan melewati mereka, terlihat Karan ada di ujung lorong bersama Ines, mereka tertawa entah apa yang mereka bicarakan, tawa mereka berhenti. Karan menatapku dia menghampiriku dan Ines seperti ekornya yang selalu mengikuti ke mana Karan pergi.


Aku buru-buru berbalik badan agar tidak bertemu dengan mereka, berjalan dengan cepat ke arah pondok.


“Karin” Karan memegang tanganku dengan sangat erat, aku berbalik dan menatapku dengan tajam tapi Ines yang di sampingnya hanya tersenyum-senyum manis yang membuatku bergidik geli melihatnya.


“Ada apa lagi Karan?”


“Apa kau baik-baik saja?”


“sangat baik” aku pergi meninggalkan mereka namun Karan menghadang dengan tubuhnya, dia hadapanku “Ada apa lagi?” suaraku meninggi, kesal rasanya setiap kali berbicara pada Karan.


“Karin kau tidak boleh seperti itu pada Karan” suara sangat lembut itu berasal dari Ines, yang membuatku merinding. Entah suara itu asli atau hanya dibuat-buat agar terlihat imut di depan Karan.


Aku mau memutar bola mataku dengan malas. “suaramu sangat menggelikan, apakah pekerjaanmu hanya mengikuti Karan, kalau begitu uruslah pacarmu ini, aku malas bertemu kalian”


“Karin” Karan berteriak, ini pertama kalinya dia berteriak hanya untuk gadis di sebelahnya. Aku hampir menangis dibuatnya namun aku tahan, bahkan ayah saja tidak pernah memarahiku seperti itu. “Minta maaflah pada Ines”. Aku memundurkan tubuhku. “Cepat minta maaflah”