
Sama seperti kemarin, hari ini aku sarapan bersama Erik, Gadis dan Erly. kita menceritakan banyak hal pertama tentang senyuman Karan yang jarang mereka lihat, kedua tentang perilaku Karan pada aku kemarin, mereka terkejut Karan yang dingin jarang tersenyum dan jarang bicara semanja itu.
“Itu benar-benar pemandangan yang sangat-sangat langka Karin, kami yang di sini dari kecil bersamanya saja tidak pernah melihat dia semanja itu” Gadis seperti ibu-ibu yang suka bergosip, dia tidak pernah tertinggal berita terbaru di sini. “Karin kau benar-benar tuan idaman para Penjaga”
Aku, Erik dan Erly mengangguk-angguk setuju. Rasanya senang sarapan dengan mereka yang selalu membuatku tertawa.
Setelah sarapan selesai, mereka kembali melakukan aktivitasnya dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan hari ini. Seperti yang Karan bilang kemarin, dia istirahat total di kamarnya. Aku berniat kembali ke kamarku untuk tidur sebentar namun ada seorang Penjaga wanita memanggilku, mereka mengajakku berbicara di lorong kelas.
Mereka adalah seorang penggemar Karan, menurutku wajar. Karan cowok tampan, kuat dan pintar. Mereka memberikanku sebuah amplop yang berisi surat dan sebuah kotak hadiah yang entah apa isi dalamnya.
“Karan beruntung memiliki tuan seperti Karin” ucapan cewek Penjaga itu dan pergi sambil melambaikan tangannya.
‘Aku juga beruntung memiliki karang sebagai Penjagaku'
°°°
Hari ini adalah hari pengikatan. Pengikat dilakukan pada malam hari, aku senang karena Karan yang akan menjadi Penjagaku. Mengetahui betapa kerasnya dia berusaha untukku dan menyayangiku. Aku harap aku dan Karan bisa menjadi sahabat yang baik.
Saat ini aku sedang duduk di bawah pohon yang cukup rindang dikelilingi bunga-bunga lavendel yang indah, di dampingi udara yang sangat sejuk. Tempat yang bagus untuk bersantai dan membuang pikiran-pikiran yang negatif.
“Ibu? Bu bagaimana bisa kau di sini?” aku bertanya pada seorang wanita berusia 35 tahunan, dia terlihat sangat cantik dengan dress putih yang sederhana. Dia tersenyum cantik.
Aku berdiri dan duduk dari dudukku, dan langsung memeluknya. Aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak pernah bertemu dengannya hanya melihat dari foto yang diberikan oleh ayah.
“Ibu kau ke mana saja?” suaraku tersengal-sengal karena tangisanku. “Apa kau tidak pernah merindukanku? apa kau tidak ingin melihatku menikah? apa kau tidak ingin melihat kelulusanku? apa kau tidak ingin mengikat dan menyisir rambutku? Meriasku? memakaikan gaun yang sama denganmu? dan pergi berlibur setiap akhir pekan bersamaku? Apa kau menyayangiku?”
Tangisanku tidak berhenti. Aku mau minta jawaban padanya, mengapa dia pergi meninggalkanku bersama ayah. Aku juga ingin bermain tertawa bersamanya, aku sangat membutuhkannya, aku membutuhkan kasih sayang seorang ibu yang belum pernah aku rasakan.
“Anak ibu sangat cantik” pertama kalinya aku mendengar suara ibu yang sangat lembut, dia memelukku dengan erat dan penuh kehangatan.
Tangisanku makin menderu ketika ibu berbicara, nafasku tersengal-sengal. Aku sangat merindukannya. Sangat.
Ayah sangat baik padaku, semua yang kuinginkan dituruti tetapi tetap saja, aku membutuhkan ibu, merasakan apa yang anak lain rasakan.
Tiba-tiba pelukanku terasa kosong sosok yangku peluk menghilang, sosok yang sangat aku butuh kan. Ibu menghilang begitu saja. “Ibu di mana? Ibu?”
Seketika penglihatanku mulai gelap, kubuka kembali mataku. Tanpa sadar aku telah tertidur dengan menyandarkan punggungku di batang pohon.
“Berarti hanya mimpi”
Dadaku sangat sesak, perasaan sakit. Sosok yang ada di dalam mimpi masih ada yang aku rasakan. Aku menangis, rasanya ingin di peluk dan bersandar di pundak seseorang melupakan rasa yang amat sangat sedih ini.
Sekitar 10 menit aku menangis, mataku merah, hidung berair. Kuhapus sisa air mataku yang membekas di pipiku. Nafasku masih tersengal-sengal, dan dadaku masih sangat sesak.
Aku berdiri dan membersihkan baju dan rokku dari tanah dan daun kering. Aku ingin pergi ke kamar untuk tidur dengan begitu, aku dengan begitu aku tidak merasakan sedih lagi.
Kulewati hamparan lavendel, melewati beberapa ruangan dan juga bangunan asrama Penjaga perempuan. Lalu aku memasuki lapangan, ada para Penjaga laki-laki yang sedang berlatih fisik.
“Sini Karin” suara Master Laiz yang sedang duduk di pinggir lapangan, sepertinya dia sedang mengawasi para Penjaga cowok untuk berlatih fisik.
Aku menghampirinya dan duduk di sebelah. Master Laiz terlihat bingung dengan melihat wajahku. Mataku masih memerah dan hidungku masih sembab.
“Ada apa Karin? apakah ada masalah?”
Aku hanya menggelengkan kepala. Rasanya tidak sanggup untuk berbicara, perlahan air mataku turun, air mataku langsung hapus dan tersenyum kepada Master Laiz.
Master Laiz langsung memelukku dan aku menangis lagi dan lagi. Pelukannya sangat hangat. Entah mengapa aku sangat dekat dengan Master Laiz, dia sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.
Hampir 5 menit aku menangis di pelukan Master Laiz, aku paksakan berhenti untuk menangis. Dia melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku, dia mengelus rambutku dengan lembut. Master Laiz merangkulku dan menyandarkan kepalaku di pundaknya.
Aku melihat ke arah lapangan, aku tidak sadar kalau Karan ada di sana. Karan menatapku dengan datar, Karan dan teman-temannya sedang berkuda-kuda dengan menahan berbatuan di pundak mereka.
Karan dan teman-temannya bertelanjang dada, terlihat badan-badan kekar mereka di sana. Karan terlihat yang paling muda di antara teman-temannya. Badan dan tingginya Karan pun menyemai teman-temannya.
Master Laiz melepas rangkulannya dan dia berdiri menghampiri murid-muridnya di lapangan. Master Laiz berbicara kepada mereka untuk beristirahat sejenak, ketika yang lain pergi meninggalkan lapangan. Tinggal Master Laiz dan Karan di sana mereka tampaknya sedang mengobrol tentang sesuatu namun aku tidak mendengarnya.
Setelah mereka selesai bicara Master Laiz melambaikan tangannya padaku dan berjalan menuju suatu ruangan sedangkan Karan menghampiriku dengan sedikit berlari, dia masih belum mengenakan bajunya.
Karan duduk di sebelahku, di tempat Master Laiz duduk tadi. “tadi aku melihatmu menangis, apa terjadi sesuatu?” wajah datar menjadi wajah yang penuh kekhawatiran.
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Terdengar suara sedikit teriak di belakangku, aku menoleh ke belakang. Ada 8 para Penjaga cewek di sana dan salah satunya yang bertemu denganku tadi pagi.
“Mereka sangat menyukaimu Karan” aku tersenyum kepadanya namun dia menatapku dengan datar. “Aku baik-baik saja tidak perlu khawatir Karan”
“Aku ingin sekali memelukmu tapi aku sedang tidak memakai baju dan keringatku pun masih banyak”
Aku tertawa mendengarnya. “Hai Karan ngomong-ngomong badanmu cukup bagus” ucapku menghilangkan kekhawatirannya. Karan tersenyum malu, sehingga dia membuang wajahnya ke arah lain. “Tidak perlu membuang mukamu Karan, aku bisa melihat senyumanmu dari sini” aku pegang kepalanya dan kuarahkan padaku. Aku tersenyum melihat wajahnya yang memerah.
Karan menaruh kepalanya di bahuku, seperti yang kulakukan pada Master Laiz tadi. “Sepertinya para gadis itu akan cemburu melihat kita apalagi pacarmu”
“Aku tidak memiliki pacar”
“Kudengar kau sedang dekat dengan saat salah satu gadis di sini”
“Aku hanya menyayangimu”