
“Karin apa kau sudah siap, kita harus sampai di sana sebelum jam 7” Maryam yang tergesa-gesa mengenakan dasinya.
“Aku sudah siap Maryam bahkan sebelum kau bangun, tapi lihatlah sekarang sudah jam 7.05 kita pasti terlambat” aku menunggu Maryam di depan pintu Maryam terbangun setelah selesai misi, sehingga kita terlambat untuk datang lebih awal di ruang makan.
“Kalian lagi, Kalian lagi” lagi-lagi kami dimarahi oleh para senior, aku hanya diam dan tidak menanggapinya bahkan tidak mendengarkan ocehan amarah dari para senior. Evans yang dari belakang kami muncul, amarah senior pun terhenti. Evans menyuruh Maryam untuk duduk dengan yang lainnya dan Evans merangkulku berjalan ke meja paling depan menghadap juniornya, senior tingkat 2 dan tingkat 3.
Evans memundurkan kursi dan mempersilahkan aku duduk, hanya ada 4 kuris yang menghadap mereka, tempat duduk aku, Evans dan 2 senior lainnya. Dia memberikan sepatah dua patah pada juniornya.
Aku melihat Karan yang menatapku, meja makan tingkat 2 dan tingkat 3 berada di sisi ruangan makan sedangkan tingkat 1 berada di tengah. Aku melihat gelang air yang ada di tangan kiriku terlihat dua warna di sana hitam dan merah, itu berarti Karan sedang sedih dan marah, tapi bagaimana dia sedih sedangkan pacarnya selalu ada disamping-Nya.
“Karin, Karin kau mendengarkanku” Evans menggoyangkan bahu kiriku dengan tangannya, aku melamun menatap Karan sampai tidak mendengarkan Evans di sampingku. “Kau ingin memberikan mereka misi apa?”
“Terserah kau saja, aku lapar”
“Karin bilang misi kalian adalah membawa seekor duyung ke lapangan, batas waktu kalian hanya sampai jam 7, kalian akan dibagi menjadi 4 kelompok dengan 11 anggota, misi akan dimulai setelah makan malam selesai. Paham?”
“SIAP PAHAM”
Aku melongo mendengarkan perkataan Evans barusan, aku tidak menyuruhnya membawa seekor duyung karena aku tahu kalau duyung susah ditemukan, apalagi mereka seharian lelah dan malamnya merek tidak tidur. Aku kasihan melihat 3 temanku dan 3 penjaganya.
Evans memberikan kode-kode pada temannya untuk membawa masuk makanan yang sudah disiapkan. Piring-piring beterbangan mengarah ke meja murid tingkat 1 dan di meja para senior tingkat 2, tingkat 3 dan mejaku, ada banyak makanan dari sup ikan, ayam goreng, sayur-sayuran dan susu. Sedangkan teman-temanku di sana hanya makan bubur nasi putih dan air putih.
Banyak yang mengeluh karena hanya memakan bubur nasi, aku kasihan pada teman-temanku. Rasanya aku ingin membagi makananku untuk mereka, mereka menatapku dengan sedih, aku pun menatap mereka dengan ssedih
“Bagaimana hidungmu Karin?” Evans duduk di sebelahku dan aku menatap dengan sedih. Dia memegang hidungku untuk memastikan hidungku baik-baik saja.
“Apakah mereka hanya makan itu?”
“Iya hanya berlangsung 2 hari saja, kau tidak usah khawatir. oh iya aku ingin memperkenalkanmu pada penjagaku” laki-laki berkulit putih, sangat putih tapi tidak terlalu tampan.
“Hallo gadisnya Evans” dia melambaikan tangannya dan kembali ke makanannya, aku langsung melihat Evans karena penjaganya tidak memperkenalkan namanya.
“Namanya Gun, dia memang seperti itu tidak banyak bicara, ayo makan”
Evans menyuapiku karena aku tidak kunjung makan makananku yang sudah dia berikan. “Buka mulutmu”
Aku membuka mulutku, Evans menyuapiku dengan sendok yang dia pegang. Banyak para mata di ruangan ini yang melihat kami, ada yang bersiul dan ada menggoda kami.
“Evan Aku kira kau tidak bisa menyukai wanita”
“Kau lebih pantas menjadi pamannya”
“Evans aku menyukainya lebih dulu”
“Karin terlalu cantik untukmu”
Evans melempar sayuran yang ada di depannya kepada teman-temannya yang menggoda kami, aku tidak menanggapi mereka aku hanya fokus pada makananku. Evans sudahku anggap sebagai kakak laki-lakiku, aku juga tidak mengerti hal percintaan dan aku juga masih terlalu dini untuk mengenal hal-hal percintaan.
Makan malam pun selesai, teman-temanku akan menjalani misi selanjutnya yaitu membawa seekor duyung ke lapangan sebelum jam 7. Mereka pergi bersama kelompoknya dan disusul oleh para senior tingkat 2 dan tingkat 3 pergi untuk beristirahat, Evans pun pergi mengawasi para juniornya melakukan misi ini.
Aku keluar dari ruang makan, tinggal aku seorang diri di sini. Aku berjalan menuju pondok, aku ingin istirahat lebih awal. Aku melihat Karan yang sedang menungguku di depan pondok asrama, dia menyandarkan tubuhnya di tembok dan menyilangkan kedua tangannya. Aku berjalan seakan tidak melihatnya.
Karan menghadang jalanku dengan tubuhnya, ketika aku ke kanan, dia pun ikut menghadang ke kanan, aku ke kiri dia pun menghadangku ke kiri.
Aku memutar bola mataku ke arah lain. “Aku ingin istirahat Karan”
“Gadisnya Evans?” Karan menatapku dengan galak, dia terlihat marah. “Jauhi Evans, aku tidak menyukainya”
Aku mendorong tubuh, aku berjalan dengan cepat untuk sampai ke kamarku. Karan menahanku ketikaku membuka pintu kamar, melihat Ines dari arah belakang Karan, yang sedang berjalan ke arah kami. “Pacarmu datang”
“Dia bukan pacarku, dia hanya temanku”
“Tapi sepertinya dia menganggapmu lebih dari seorang teman”