
“Ngapain lo disini?", tanya Sherra pada Kay yang duduk sendirian di danau tempatnya dulu pernah mengajaknya bersantai.
“Seperti yang kamu lihat," ucapnya masih menunduk.
“Tinggal sama gue," tanpa basa basi Sherra menawarkan hal itu pada Kay.
“Apa karena permintaan Mami?," tanya Kay tanpa melihat Sherra yang hanya menatap lurus ke danau didepan mereka.
“Aku udah dengar semuanya. Aku lihat saat kamu ketemu sama mami papi. Kenapa kamu mau?," tanya Kay mulai merasa sedih.
“Lo bilang udah dengar semuanya. Pasti lo tau kenapa gue terima permintaan orang tua lo," ucap Sherra sarkas.
“Aku butuh penjelasan dari kamu langsung. Sebelum itu aku Cuma mau hilangin kesalahpahaman dirumah sakit waktu itu. Aku nggak bermaksud ngelukain perasaan kamu. Tapi yang aku maksud, aku nggak terima kalau kamu pergi ninggalin aku gitu aja. Aku udah nyaman temenan sama kamu, dan aku juga nggak bisa kehilangan kamu. Apapun yang kamu lakuin ke keluarga aku selama ini aku juga udah menganggap itu hal yang pantas kami terima. Aku juga mau bilang terimakasih karena membuat orang tua ku tetap ada di dunia ini," ucap Kay mulai menangis.
“Penjelasan gue nggak lebih. Orang Tua gue bakalan sedih tau anaknya menjadi seorang penjahat kaya gini. Gue emang dulunya benci dan dendam sama keluarga lo, sama Mami papi dan Abang lo. Tapi gue selau ingat nasehat mama gue, bahwa kita hanya harus menganggap semua yang terjadi di dunia ini sebagai hiasan hidup. Tanpa adanya itu semua hidup lo akan suram. Layaknya rumah tanpa adanya penghuni itu akan terlihat menakutkan. Justru karena hidup lo yang sulit itulah lo harusnya bersyukur dan justru harusnya lo lebih takut saat hidup lo nggak digangguin sama siapapun. Dan gue sadar apapun yang gue lakuin emang udah gue niatkan dari awal, gue masih benci sama orang tua lo, tapi bukan berati gue akan selalu dendam. Dendam gue udah hilang, hanya tinggal kebencian gue yang butuh waktu untuk reda. Jadi lo nggak perlu tanya lagi alasan gue saat ini masih mau lihat lo. Hidup itu terus berjalan dengan atau tanpa kebencian," ucap Sherra yang masih dengan ekspresi datar dan tatapan lurusnya ke danau. Kay mulai melihat Sherra dengan serius walaupun masih menangis.
“Bang Ammar?," tanya Kay tiba-tiba.
“Nggak. Awalnya kita hanya berniat membuat Ammar buka suara dan ngaku, tapi dia lebih kuat dari dugaan kita. Dan saat itulah Kak Sean dapat kesempatan, dia bertemu dengan seseorang yang sangat membenci abang lo. itu nggak semuanya bohong. Emang Kak Sean sengaja mencari boomerang buat abang lo. Tapi orang itu, memang dia yang bunuh abang lo karena dendamnya itu. Kita nggak bohong. Semua yang udah kami bilang itu fakta. Saat itu gue memang ada disana, dimobil sendirian, melihat Kak Sean dan Kak Inez juga disana. Kedua kakak gue nggak pernah nyentuh abang lo saat itu. Abang lo murni dibunuh orang itu. Dan kedua kakak gue hanya bisa menyaksikan dari jauh kejadian itu. Mereka juga nggak nyangka bahwa hal itu bakalan terjadi, insiden saling membunuh. Itu bukan tujuan utama kami, karena sejak awal kita hanya ingin menyakiti kalian bukan membunuh. kami nggak pernah membunuh siapapun dan kami tidak punya niat untuk membunuh ”.
“Aku udah tau," ucap Kay menatap dalam mata Sherra.
“Bu Inez udah cerita semua yang kamu ceritain barusan. Aku yakin Sherr, kamu orang baik. Aku udah pernah bilang, bahwa aku nggak percaya kamu lakuin itu. Karena kamu orang baik dan aku yakin kamu masih peduli sama aku." Kay mulai tersenyum.
“Gue nggak peduli lagi apapun pikiran lo tentang gue. Yang pasti tolong jangan pernah lo ingatkan hal yang udah pernah terjadi. Sekarang kita fokus menjalani hidup kedepannya. Lo dan gue anggap nggak ada yang pernah terjadi, lo tinggal bareng gue, tapi gue rasa kita nggak akan bisa sedekat dulu." Sherra mulai berdiri meninggalkan Kay yang menatap kepergiannya.
“Dan lo bisa langsung datang aja ke rumah . Gue udah bilang ke Kak Inez”. Ucap Sherra tanpa menatap Kay dan langsung bergegas ke mobil. Jujur hatinya juga sangat terluka. Tapi Sherra selalu berusaha untuk tidak menangis lagi.
“Kalian boleh tinggal dirumah gue." Sherra mengirim pesan kepada Mira.
...----------------...
Sudah hampir 6 bulan lebih sejak kejadian itu, orangtua Kay yang dipenjara. Dan selama 6 bulan itu juga Kay tinggal bersama Sherra dan Bu Inez, juga bersama Mira, Chatrine dan Poppy. Kay bersyukur bahwa Inez tidak membencinya lagi dan menerimanya dirumah ini. begitu juga Sherra, dia tidak membenci Kay, mereka masih saling berhubungan, sesekali berbincang, tapi hubungan mereka memang tidak seperti dulu lagi. Sherra berubah, dia sangat pendiam dan sangat dingin, memang bukan hanya pada Kay tapi juga pada ketiga mantan seniornya, Mira, Poppy dan Chatrine. Bahkan pada Inez juga dia terlihat mulai cuek dan saat ini Sherra benar-benar sangat penyendiri.
Mereka sadar dan tau bahwa Sherra tidak akan terlalu menggubris mereka saat berbicara. Tapi mereka akan selalu berusaha agar Sherra kembali seperti dulu lagi.
“Sherra, lihat nih aku bawa apa," ucap Kay menghampiri Sherra yang duduk sendirian di dekat kolam renang.
“Terus," respon singkat Sherra.
“Ya kamu cobain dong, ini aku baru diajarin masaknya sama Kak Poppy. Cobain deh enak nggak?," tanya Kay.
“Gimana?," untuk kedua kalinya Kay bertanya.
“Nggak enak," ucap Sherra dengan ekspresi datar andalannya.
“Yahhh," ucap Kay kecewa.
"Lo cobain aja masakan lo dulu," ucap Sherra dan Kay dengan gugup mencobanya.
“Gimana?," Sherra balik bertanya.
“E-enak kok," ucap Kay malu-malu.
“Tu tau."
“Terus kamu bil....," belum selesai Kay berbicara Sherra memotong perkataannya.
“Nggak enak kalau dibiarin terbuang. Untuk pemula kaya lo itu nggak terlalu buruk," ucap Sherra yang membuat Kay tersenyum lebar.
“Kamu bisa aja, aku tiba-tiba jadi salting gini." Kay mulai merasa senang bahwa Sherra semakin hari mulai bisa menerimanya lagi menjadi teman seperti dulu.
“Gimana sama ujian kemarin Sher, lancar?," tanya Kay mencoba melanjutkan pembicaraan.Yap, sekarang mereka, Kay dan Sherra sudah kelas 2 SMA, dan saat ini mereka sedang melaksanakan ujian tengah semester. Tapi mereka tidak lagi bersekolah di tempat yang dulu karena insiden beberapa bulan lalu, jadi Inez memutuskan memindahkan mereka ke sekolah baru yang lebih baik.
“Lumayan," Sherra menghela nafasnya.