EasY On ME

EasY On ME
BOOM


Sean POV


Baru kemarin gue dengar kabar penangkapan bokap Mira karena kasus pelecehan seksual dan kekerasan. Dan hari ini gue lihat Mira and the gangnya lagi terpojok di tengah-tengah lapangan. Jujur gue kasihan tapi gue nggak mau buat anak-anak sekolahan salah paham kalau gue nolong Mira dan temannya. Dan akhirnya gue lihat si anak baru turun tangan. Berani juga tuh cewek, Gue pikir dia cupu polos aja. Gue juga nggak sengaja lihat Kay yang melongo melihat anak baru itu membawa Mira and the gang keluar sekolah. Gue Cuma tersenyum geli lihat ekspresi Kay itu.


Besoknya gue mau pergi perbaiki Motor ke bengkel langganan gue, dan secara nggak sengaja gue lihat Kay dan anak baru itu masuk ke mall. Akhirnya niat gue ke bengkel gue tunda dulu dan gue masuk area parkir Mall itu.


“Aissh sial, kemana lagi mereka, cepat banget hilangnya”. Umpat gue kesal karena Kay dan anak baru itu sudah tidak terlihat di mata gue.


Akhirnya gue memutuskan untuk masuk dulu ke mall dan mencari mereka. Dan tanpa disangka-sangka gue lihat mereka berhenti di salah satu toko, karena takut ketahuan akhirnya gue pergi membeli topi dulu agar mereka nggak lihat gue. Tapi setelah gue balik beli topi, gue lihat Kay masih berdiri di depan toko itu. Ngapain sih tuh anak, ckck.


Gue selalu ikutin mereka, bukannya gue penguntit tapi guenya aja yang pengen lihat wajah Key. Gue lihat mereka ke bioskop setelah lama berkeliling mall. Emang ya cewek itu aja kerjanya. Muterin seluruh mall tapi yang dibeli apa, nggak ada juga. Mereka membeli tiket untuk film terbaru genre kriminal itu. Akhirnya setelah mereka pergi dari sana gue juga ikut membeli tiket yang sama. Dan gue pikir mereka bakal istirahat dengan duduk dulu di area bioskop, eh taunya mereka malah pergi lagi keluar dan ternyata pergi ngabisin duit, eh maksudnya ngabisin waktu di zone sebelum filmnya tayang.


Setelah asik bermain mereka langsung bergegas ke bioskop lagi dan tentu saja gue ikutin. gue lihat mereka duduk di kursi baris ke empat dari bawah dan gue dapat tempat paling atas dan akhirnya gue minta tukar sama orang yang duduk di kursi bawah gue agar lebih dekat dengan mereka, untungnya Orang itu mau bertukar tempat.


Awalnya baik-baik aja sih. Sampai di pertengahan film gue lihat Kay mulai ketakutan. Kay sering menutupi wajahnya dengan tangan atau bersembunyi di belakang anak baru. Gue yang melihat aja tersenyum dan menggelengkan kepala. Gue ke bioskop bukanya nontonin film, tapi malah nontonin cewek ceroboh itu. Entahlah kayanya Kay lebih menarik untuk dilihat daripada film itu.


“Aelah, lemah banget sih tuh cewek, masa itu aja takut, nggak ada ngeri-ngerinya sama sekali kok, ckck dasar cewek”. Ucapku pelan masih terus melihatnya menyembunyikan kepalanya dibelakang anak baru.


Akhirnya film itu selesai dan gue memilih untuk tetap berada di dalam teater sampai Kay dan anak baru itu keluar. Dan gue memilih berhenti mengikutinya setelah itu.


“Huftt jadi gini cara cewe ngilangin stress, perasaan bukannya jadi rilex, santai, malah makin capek. Bisa-bisanya ya mereka putar kelilingi semua lantai 1 sampai 4 tapi nggak istirahat dulu. Nggak capek apa”. Gumam gue sendirian setelah duduk dimotor gue yang terletak diparkiran tadi.


Karena sudah terlanjur capek, gue benar-benar nggak jadi pergi ke bengkel untuk perbaiki motor gue dan akhirnya gue memilih pergi membeli makan dan pulang.


...----------------...


Besoknya di sekolah gue pergi nemuin anak baru diam-diam dan membawanya ke belakang sekolah, lebih tepatnya ke taman sekolah.


“Tolongin gue dong”. Ucap gue langsung to the point.


“Nolongin apaan Sean?”. Tanya si anak baru.


“Gini nih anak baru, eh siapa sih nama lo, gue lupa?”. Tanya gue.


“Sherra”. Ucapnya singkat


“Oke Sherra, gue mau minta tolong sama lo nanti pulang sekolah tolong kasih ini sama Kay ya, tapi jangan bilang-bilang ini dari gue”. Ucapku sambil memberi sebuah kotak yang udah gue isi dengan sesuatu yang spesial.


“Kok minta tolong aku?”. Tanya Sherra.


“Ya karena lo temannya”.


“Tapi kan kamu bisa ngasih langsung sendiri ke Kay”. Balasnya lagi.


“Gimana sih lo, kan gue mau Kay nggak tau itu dari gue, kalau gue yang ngasih langsung, ketahuan dong”. Ucap gue dengan nada kesal


“Oh iya, lupa, hehe, sorry Sean, tapi isinya apaan?”. Tanyanya


“Kalung”. Ucap gue singkat


“Ooh”. Ucapnya singkat dan langsung pergi begitu saja


Sherra POV


“Kay, nih ada titipan buat kamu”. Ucapku pada Kay setelah bel pulang berbunyi.


“Dari kamu?”. Tanya Kay.


“Nggak lah,namanya aja titipan berarti bukan dari aku, kayanya dari pengagum rahasia kamu kali”. Ucapku menggoda.


“Ih serius juga dari siapa Sherr?”. Tanya Kay mengguncang badanku.


“Dari manusia pastinya”. Ucapku terkekeh


“Ih kamu mah gitu”. Ucap Kay cemberut dan bersiap-siap membuka kotak itu.


“Eh, eh, eh mau ngapain?”. tanyaku.


“Ya mau lihat isinya lah Sher, aneh deh kamu”. Ucapnya masih sibuk membuka tali-tali yang mengikat kotak itu.


“Eh jangan sekarang, dirumah aja ya, mending sekarang kita pulang aja, lihat tuh kelas udah mulai sepi, ngerii ihhh”. Ucapku mencoba menghalangi Kay membuka kotak itu sekarang karena permintaan Sean tadi.


“Ihh kenapa Sher, sekarang aja udah, emang apaan sih isinya segitu banget sampe larang-larang aku buka sekarang”. Ucap Kay yang sudah berhasil membuka kotak itu.


“AHHHHHH”. Teriak Kay melempar kotak itu. Kay terlihat ketakutan.


“Kay, astaga kenapa, kok dibuang sih kalung nya”. Ucapku yang tidak tau apa yang terjadi dan memungut kotak tadi.


“AAAA”. Aku ikut teriak saat melihat isi kotak itu bukan kalung melainkan secarik kertas bertuliskan "tunggu permainannya" dengan menggunakan darah.


“Sherr, siapa yang ngasih kotak itu sama kamu tadi”. Tanya Kay dengan suara bergetar ketakutan.


“Sean”. Ucapku juga masih syok.


“Nggak mungkin kan Sean yang neror aku?”. Tanya Kay


“Nggak mungkin lah Kay, aku yakin bukan Sean, Kay. Tadi Sean bilang isi kotak itu Kalung dan Sean juga yang nyuruh aku untuk bilang sama kamu untuk buka kotaknya dirumah karena Sean malu kalau sampai kamu buka kotaknya disekolah bisa-bisa kamu nyamperin dia nanti”.


“Terus siapa Sher”. Ucap Kay mulai melihat-lihat ke sekeliling kelas yang sudah sepi.


“Atau jangan-jangan kotaknya tertukar”.


“Maksud kamu apa Sher?”. Tanya Kay yang mulai menahan tangis.


“Jadi tadi habis ketemu sama Sean, aku nggak sengaja ditabrak sama seseorang yang juga bawa kotak merah yang sama, dan waktu aku nggak sengaja nabrak itu kotak punya Sean terjatuh tapi punya orang itu masih dipegangnya. Dan orang itu yang ngambil kotak Sean yang terjatuh itu dan ngasih ke aku”. Jelasku pada Kay.


“Berarti selama ini peneror itu ada di dekat aku Sher, dia pasti ngikutin kemanapun aku pergi. Sher kamu lihat wajah orangnya kan?”. Tanya Kay.


“Kay aku, aku nggak terlalu lihat wajah orangnya karena dia pakai masker dan topi. Tapi yang pasti aku lihat dia punya alis yang sedikit tercukur dan matanya warna biru terang”.


“Yaudah Kay, sekarang sekolah pasti makin sepi, mending kita pulang aja ya, kamu nggak usah takut, aku ada disini untuk kamu”. Ucapku menenangkan Kay yang menangis dan kembali memungut kotak yang tidak jadi ku ambil tadi, agar tidak ada yang tahu mengenai hal ini.