
Sherra POV
Setelah 3 hari dirawat di Rumah Sakit akhirnya Kay sudah diperbolehkan pulang. Tapi karena keadaan sekarang Kay harus tinggal dulu bersamaku di rumah ku hingga ada kejelasan keberadaan orangtua Kay dan mungkin saja Kay juga akan bisa tinggal denganku untuk waktu yang lama, itu lebih baik. Di pertengahan jalan tiba-tiba...
Braaak...
Astaga apakah barusan sopir ku menabrak seseorang, Ya Tuhan apa lagi ini. Akhirnya Sopir ku turun melihat orang yang baru saja kami tabrak, tapi tiba-tiba orang itu berdiri dan berlari ke jendela belakang tempat Kay duduk
“ ABANG, BANG”. Teriak Kay melihat Pria yang kami tabrak. Ah syukurlah orang itu baik-baik saja. Tunggu Abang, Kay memanggil pria itu abang berarti Abangnya Kay berhasil melarikan diri dari Peneror itu, akhirnya . Aku dan Kay keluar mobil dan melihat keadaan Abang Kay yang sudah lusuh, kotor, dan luka-luka.
“Bang, abang, Yash God, Bang aku seneng banget abang masih hidup”. Ungkap Kay sambil memeluk Abangnya sangat erat.
“Hmm, Bang Ammar , Syukurlah Abang selamat, sekarang lebih baik abang kita bawa ke Rumah Sakit ya”. Tawar ku pada abangnya Kay yang kondisinya benar-benar memprihatinkan.
Setelah berobat Di Rumah Sakit, Bang Ammar mengatakan Bahwa dia akan melapor ke polisi tentang peristiwa itu.
“Bang, abang yakin mau lapor polisi,Abang nggak inget mami papi kita sekarang”. Tanya Kay.
“Iya Kay, kita harus bertindak cepat, mau nggak mau kita harus lapor polisi dek, kita nggak bisa terus-terusan takut sama ancaman orang itu, kalau gini terus kita yang akan menderita dek, ini juga untuk kebaikan kamu, abang dan juga mami papi".
“Iya bang aku tau, tapi kalau sampai dia nyelakain mami papi kita, gimana bang?”. Tanya Kay lagi mencoba menghentikan abangnya untuk melapor ke polisi.
“Udah dek, sekarang kamu lihat aja apa yang mau abang lakuin, mending kamu nurut aja sama Abang”. Celah Bang Ammar
...----------------...
Ammar POV
Di Kantor Polisi
“Pak saya mau melapor penculikan dan penyiksaan”. Lapor gue ke polisi yang sedang bertugas
“Baik, penculikan terhadap siapa yang saudara maksudkan?”. Tanya Pak Polisi
“Terhadap saya sendiri Pak, orang itu menculik dan menyiksa saya, bahkan dia juga meneror Adik saya Pak".
“Bisa anda ceritakan kronologis kapan dan dimana kejadian itu?!”. Tanya Pak polisi lagi.
“Kejadiannya sekitar seminggu yang lalu Pak, saat itu saya pulang kerja sekitar jam 11 malam , tiba-tiba Ban mobil saya bocor , dan akhirnya saya memilih menelepon montir dan saya pulang dengan Taxi, tapi ntah kenapa tiba-tiba saya merasa ngantuk dan Ketika Bangun saya sudah disuatu tempat yang terbengkalai Pak, saat itu saya sudah dirantai dan mulut saya disekap”. Cerita gue yang terlihat menahan trauma akan kejadian itu.
“Baiklah, lalu apakah saudara tau dimana daerah yang dimaksud itu ?”. tanya Pak Polisi lagi.
“Saya nggak tau Pak, seharian itu saya hanya di gudang kotor itu dan disana sama sekali tidak orang , bahkan orang yang menculik saya pun tidak ada disana Pak, tapi anehnya Pak 4 hari saya diikat disana, Orang itu selalu datang di tengah malam”.
“Lalu Bagaimana saudara bisa lolos dan melarikan diri?”. Tanya Pak Polisi untuk kesekian kalinya.
“ Saat saya sadarkan diri saya sudah berada dipohon-pohon yang saya rasa itu di hutan lebat daerah pedalaman itu Pak, Orang itu cukup jauh dari saya dan terlihat sedang menunggu seseorang dan saya gunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, Saya sempat tertangkap lagi tapi Akhirnya saya berhasil melarikan diri kedaerah yang ramai”. Jelas gue panjang lebar.
“Nggak Pak, saya sama sekali tidak bisa melihat wajah orang itu, saya bahkan tidak pernah mendengar suara aslinya pak, dia menggunakan suara samaran, Tapi saya bisa lihat bahwa orang itu lebih tinggi dari saya dan saya ingat dia punya bekas luka di Paha kirinya pak karena perlawanan saya saat itu yang akhirnya saya menembak kakinya Pak”.
“Baiklah, laporan Saudara kami terima dan kami akan segera menyelidiki masalah ini”.
“Baik Pak, tolong diusut tuntas masalah ini Pak, saya tidak ingin orang itu lolos Pak”. Dan Akhirnya gue berhasil melapor ke polisi, toh lihat orang itu tidak berani lagi bergeming dan mengancam gue. Hah, berani sekali dia melawan dan bermain-main dengan seorang Ammar. Benar-benar mencari lawan yang salah. Pikir gue yang saat ini sudah merasa lega.
“Bang, kenapa abang nggak cerita juga masalah Mami Papi kita”. Tanya Kay yang terlihat marah.
“Dek, itu masalahnya berbeda, masalah abang berbeda dengan masalah penculikan mami papi”.
“Tapi bang, tetap aja, seharusnya Abang laporin kalau mami papi kita...”. Kay mulai menangis.
“Abang tau nggak sih, orang itu ngirim foto mobil papi yang terbakar, Abang tau nggak gimana perasaanku sekarang, setidaknya dengan abang melapor, Kita masih bisa mencari Mami Papi, walaupun mereka udah nggak selamat”. Emosi Kay makin mengebu-gebu.
“Dek maafin Abang, abang akui abang emang salah, tapi Abang yakin kalau pelakunya tertangkap pasti polisi juga nemuin Mami Papi kita". Jelas gue meyakinkan Kay yang sedang memukul-mukul gue
"Abang egois, aku nggak suka cara abang bersikap kaya gini, kalau memang Abang sayang sama aku,harusnya abang mikirin perasaanku, apa salahnya sih laporin juga masalah mami Papi, oh atau abang emang nggak sayang sama aku dan mau lihat aku menderita karena nggak akan bisa ketemu Mami Papi lagi". Ucap Kay yang terlihat sangat marah dan gue hanya bisa memeluknya erat dan mendekapnya walaupun Kay berusaha melepaskan pelukan gue.
"Maaf sebelumnya Bang, Kay, Gimana kalau kita langsung pergi aja, Aku antar kalian ke rumah ya". Tiba-tiba cewe yang gue rasa teman Kay memotong pembicaraan kami.
"Aku mau kerumah kamu aja Sher". Ucap Kay yang sudah lepas dari pelukanku.
"Loh, dek kok kamu kerumahnya dia, abang udah pulang, abang udah disini untuk kamu". Balas gue yang terkejut karena Kay lebih memilih tinggal di tempat temannya
dibandingkan dirumah kami bersama denganku.
"Aku sayang sama abang, aku juga kangen banget sama abang, tapi aku juga marah sama abang, aku hanya butuh waktu bang, kalau kemarahan aku sama abang udah mereda aku juga balik kok kerumah kita". Ucap Kay yang sama sekali tidak mau menoleh padaku.
"Yaudah, kalau itu mau kamu, abang nggak bisa maksa juga, tapi nanti kalau kamu mau abang jemput telpon abang ya adek kesayangan Abang Ammar". Gue mencoba membujuk Kay yang sedang marah ke gue.
"Hmm". Balas Kay singkat
"Yaudah bang, kita pergi dulu, Abang naik taxi aja atau bareng kita aja biar diantar". Tawar temannya Kay.
"Nggak usah dek, kalian langsung pulang aja, Abang baik-baik aja kok, nanti abang bisa naik taxi".
"Ini bang ada sedikit uang untuk taxi
Pasti abang lagi nggak megang uang kan sekarang. Pake dulu aja ini bang". Tawar temannya Kay.
"Thanks ya Sherra". Dan dia hanya mengangguk.
"Yaudah hati-hati ya Bang". Ucapnya lagi dan Kay hanya dia menunduk di mobil. Perasaan gue jadi sedih melihat Kay Kaya gitu ke Gue. Belum pernah gue lihat Kay semarah itu ke Gue. Apa emang gue terlalu egois.