
“Eh ya ampun, Sherra kaki kamu kenapa?”. Tanya ku kaget dan cemas saat melihat Sherra berjalan pincang sama dengan cara berjalan Sean kemarin.
“Ka-kamu baru sadar kakiku pincang”. Balas Sherra mengernyit.
“Iya Sher, Maaf ya aku tadi benar-benar nggak sadar”. Jawabku dengan nada bersalah.
“Iya nggak papa kok, santai aja”. Jawab Sherra terkikik pelan.
“Eh tapi kenapa, kaki kamu, kenapa?”. Tanyaku lagi.
“Hmm sejujurnya kaki aku udah luka waktu jemput kamu ke Rumah Sakit waktu itu tapi kayanya kamu emang lagi sedih waktu itu jadinya nggak sadar hehe”. Ucap Sherra agar aku tidak merasa bersalah.
“Astaga seriusan, sumpah aku beneran nggak sadar Sher, ta-tapi kenapa bisa luka?”. Tanyaku yang masih penasaran sekaligus merasa bersalah.
“Ya Cuma kecelakaan kecil sih, waktu itu aku jalan dari tempat parkir ke lobby Rumah Sakit, tapi aku nya sih yang nggak liat-liat jadinya ya keserempet mobil dan yah, pahaku agak robek sih, dikit kok”. Ucap Sherra sambil menggaruk-garuk kepalanya yang kuyakini tidak gatal.
“Ya ampun Sherra, sekali lagi maafin aku ya gara-gara kamu jemput aku jadinya kamu terluka, tapi, tapi gimana lukanya?”. Tanya ku lagi dan lagi.
“Udah nggak papa kok, karena lukanya nggak bisa dijahit jadinya Cuma di tutupin aja , lukannya udah mulai kering juga kok, tapi ya masih agak nyeri-nyeri dikit aja sih”. Jelas Sherra.
“Ya udah sebagai permintaan maaf aku, aku bakalan jadi kaki kamu sekarang, aku yang akan ngelakuin yang harusnya kamu lakuin, kalau mau kemana-mana kabarin aku”. Ucapku.
“Eh, eh, nggak usah Kay lagian aku juga udah baik-baik aja, aku juga bisa jalan kok”. Ucap Sherra menolak.
“Eh tapi aku nggak enak jadinya Sher”. Ucapku memaksa.
“Udah nggak papa, santai aja kali sama aku”. Balas Sherra memegang bahu ku.
“Yaudah deh kalau emang itu mau kamu”.
...----------------...
Besoknya.
“Seorang pengusaha yang dikenal sebagai sosok CEO sebuah perusahaan digrebek Polisi di rumahnya di kawasan Village elit sedang melakukan kekerasan pada ketiga anaknya. Pengusaha berinisial ZTE tersebut ditahan atas dugaan kekerasan terhadap anaknya dan prostitusi anak dibawah umur. Saat ini polisi sedang menyelidiki beberapa orang tersangka yang ikut tergabung dalam prostitusi ini yang diduga berasal dari pengusaha dan pejabat penting”.
Pagi ini aku bangun agak kesiangan karena memang akhir pekan dan aku lihat Bibi sedang asik membersihkan ruang keluarga sembari menonton TV.
“Hah kan, Bibi nggak fokus kerja malah asik nonton, liatin apa sih sampe-sampe yang di sapu bukan lantai malah sofa”. Ucapku terkikik.
“Eh non udah bangun, ini non seorang pengusaha mukul anak sama jual anak bawah umur katanya”. Ucap Bibi dan aku melihat ke layar TV dan saat aku melihat wajah pengusaha itu aku mengernyitkan dahiku. Wajahnya tidak asing dan mirip dengan seseorang. Dan saat itu baru teringat siapa orang itu.
“Kak Mira siapa non?”. Tanya bibi heran melihatku heboh sendiri.
“Itu Kak Mira, Kakak kelas aku disekolah, Senior yang pernah permaluin aku disekolahan, dan dia bangga banget tu bilang ke seluruh sekolah bapaknya orang penting jadi nggak akan ada yang berani sama dia”. Cerocosku.
“Ya ampun kasian ya seniornya non, pasti dia trauma banget sekarang”. Ucap Bibi mengiba.
“Iya sih Bi, walaupun dia tukang rusuh tapi kasian juga sih”. Dan aku mengambil Handphone dari kantong celana ku dan menelpon Sherra.
“Halo Sher, eh kamu udah ada liat berita nggak sih”. Ucapku yang langsung nyerocos saat Sherra sudah mulai menangkat teleponku.
“Ya ampun Kay, aku kaget loh kamu nelpon langsung nyerocos aja”. Ucap Sherra dengan nada meledek.
“Hehe iya maaf, soalnya ini bener-bener genting”. Ucapku agak lebai.
“Genting, berita, apaan sih Key, aku nggak ngerti maksud kamu”. Ucap Sherra.
“Itu, Kak Mira, eh bukan, Papanya Kak Mira ditangkep polisi gara-gara kekerasan sama perdagangan anak dibawah umur”. Ucapku.
“Astaga, seriusan Kay, Oh Geez pasti kak Mira sama Kak Poppy dan Kak Chatrine syok banget sekarang, aku jadi khawatir sama mereka”. Ucap sherra dengan nada yang awalnya kaget namun menjadi kasihan.
“Aku juga sih, kasian ya mereka, pasti mereka trauma banget”. Ucapku lagi pada Sherra.
“Iya itu pasti deh”.
...----------------...
Sherra POV
“Eh eh lihat ada anak pedofil, ih nggak malu ya dia dateng ke sekolah, ihh malu-maluin sekolah banget sih, ih dasar nggak tau diri, wah masih berani dia nunjukin wajah di sekolah ini,hahaha kayanya urat malu mereka udah putus”.
Aku yang baru datang ke sekolah mendengar banyak sekali orang-orang berbisik bahkan ada yang terang-terangan menyindir dan mengata-ngatai seseorang dan aku yakini itu Kak Mira dan teman-temannya eh lebih tepatnya saudara angkatnya. Dan benar saja saat aku sudah berada di depan lapangan upacara banyak orang yang mengerumuni mereka bertiga dan mereka terlihat ketakutan, Bahkan aku lihat Kak Poppy mulai menangis. Aku benar-benar tidak tega.
“Eh, eh, eh, stop, stop, stop”. Ucapku saat sudah berhasil melalui kerumunan itu dan berada ditengah-tengah ketiga saudara itu, tapi mereka yang jumlahnya lebih banyak dariku tentu saja tidak menggubris.
“STOPPP, BERHENTI, KALIAN APA-APAAN SIH, KALIAN SEHARUSNYA NGGAK KAYA GINI DONG, KASIAN MEREKA, MEREKA NGGAK BERSALAH, YANG SALAH ITU PAPANYA, KALIAN NGGAK BISA DONG HAKIMI ORANG TANPA BUKTI GITU, DISINI MEREKA JUGA JADI KORBAN”. Ucapku yang mulai kehilangan kendali dan akhirnya berteriak pada mereka semua dan mereka semua mulai sedikit diam walaupun masih ada yang berbisik-bisik.
“SEHARUSNYA KALIAN SEBAGAI MANUSIA BISA MEMANUSIAKAN MEREKA JUGA DONG, WALAU BAGAIMANAPUN JUGA DISINI MEREKA ADALAH KORBAN DAN KALIAN NGGAK BISA BAYANGIN GIMANA PERASAAN MEREKA, MEREKA JUGA PASTI SYOK, TRAUMA DAN TAKUT BANGET, DITAMBAH LAGI KALIAN HAKIMI MEREKA KAYA GINI, SEHARUSNYA KITA DISINI HARUS BISA JADI SUPPORT SYSTEMNYA , YA KALAU KALIAN NGGAK BISA JANGAN KALIAN NGOMONG YANG NGAK NGGAK DONG, KALAU SEANDAINYA KALIAN YANG DIPOSISI MEREKA GIMANA, KALAU KALIAN YANG NGERASAIN INI SENDIRI DAN ORANG-ORANG DISEKITAR KALIAN JUSTRU MALAH MEMBENCI, MENGHAKIMI DAN MENGHUJAT KALIAN KAYA GINI GIMANA, NGGAK MUNGKIN KALIAN NGGAK TAKUT, NGGAK MUNGKIN KALIAN BAIK-BAIK AJA KAN, NAH ITULAH YANG DIRASAKAN OLEH MEREKA BERTIGA, JADI AKU MOHON SAMA KALIAN SEMUA TOLONG HENTIIN INI, JANGAN GANGGU MEREKA, aku mohon ,please, sekarang bubar”. Teriakku penuh emosi dan mulai mengeluarkan air mata dan saat aku mengakhiri perkataanku pada mereka suara ku mulai melunak karena tangisku.
Aku sambil meletakkan kedua tangan didepan dada yang menandakan permintaan agar mereka menjauh dari ketiga kakak ini. Dan ya akhirnya satu persatu diantara mereka mulai pergi tapi tetap saja masih banyak yang berada disitu. Dan tak lama setelah guru keamanan datang barulah mereka benar-benar bubar.