EasY On ME

EasY On ME
Revenge


“Sherra, aku, aku benar-benar nggak nyangka kamu ngelakuin ini ke aku dan keluarga aku. Jadi selama ini kamu berpura-pura baik hanya untuk ini. Pengkhianat”. Ucap Kay terlihat kecewa.


“Pengkhianat?! Siapa pengkianat?!?. Gue nggak pernah berkhianat sama siapapun apalagi lo. Lo aja yang ngerasa bahwa gue teman lo, tapi dari awal tujuan gue dekatin lo Cuma untuk ini”.


“Apa yang lo mau?”. Ucap Kay yang sudah mulai marah dengan matanya yang memerah.


“Yang gue mau? Lo tanya sama orang tua lo”. Gue mencoba menahan emosi, karena kalau sampai gue kehilangan kendali, semuanya akan berakhir.


“Mi, Pi, jelasin ke aku”. Kay dengan nada kecewa bercampur sedih bertanya pada Orangtuanya yang hanya bisa menunduk, entah karena malu pada anaknya atau karena takut akan nyawanya yang terancam.


“Lo pikir orang tua lo bakalan ngaku dan jujur sama lo. Polos banget lo Kay”. Sean berbicara dengan nada sinisnya.


“Inget ini, kalau saja mata gue nggak ngelihat itu semua, gue nggak bakalan dendam dan ngelakuin ini ke lo semua”.


“Malam itu, gue dan Sherra dikamar atas, bermain dan bersenang-senag seperti kebnyakan anak diumur kami saat itu. Dan lo berdua datang ke rumah gue bawa anak lo yang bernama Ammar itu. Sok-sok seperti rekan kerja dan sahabat yang baik, ternyata lo hanya ingin harta daan kekuasaan saja. Gue inget jelas malam itu, Bagaimana kalian membuat orangtua kita menderita, dan kesakitan”. Kak Sean tidak sanggup melanjutkan.


“Di umur gue yang baru menginjak 7 tahun, gue bisa mengerti semuanya yang orang dewasa lakukan. Lo pikir diumur segitu gue nggak trauma”. Gue mulai meremas pipi wanita itu, Maminya Kay.


“Gue trauma, gue takut, gue sakit. Ngerti nggak lo, hah. Lo datang diam-diam membawa orang lain, suruhan lo untuk bunuh orangtua kita. Lo buat mereka nggak sadar dengan orang-orang suruhan lo. Lo ikat, lo bekap, lo siksa. Mata itu, mata yang penuh keinginan untuk menguasai segalanya. Bisa-bisanya lo berdua nggak ada rasa kasihan, sama orang yang lo bilang sahabat lo. Anak lo Ammar, umur 17 tahun, anak seusia itu lo suruh melakukan kejahatan. Orangtua macam apa lo. Gue heran bagaimana bisa lo nusuk Mama gue tanpa rasa iba sedikitpun, lo nggak lihat bagaimana Mama gue kesakitan, Mama gue udah memohon ke lo berdua untuk nggak bunuh dia. Dan Lo Pria brengsek, Lo nggak pantas disebut Papi apalagi manusia. Dengan santai dan tanpa bersalah lo narik pelatuk pistol itu ke kepala ayah gue dan itu didepan anak lo Ammar yang juga sama jahatnya sama kalian. Tapi yang lebih parahnya lagi, Itu didepan gue, didepan Kak Sean, didepan Kak Inez, didepan anak-anaknya”. Gue merasa mulai hilang kendali dan menembakan pistol yang ada ditangan gue ke arah Papi Kay, namun gue sengaja melesetkan.


“SHERRA”. Teriak Kay pada gue.


“Dan untungnya masih ada kita yang tersisa untuk mebalas dendam itu. Dan untung juga malam itu saya masih sadar untuk nggak masuk, sehingga saya bisa lihat kejadian itu dengan jelas. Kita memang nggak punya banyak bukti dan saksi , Hanya kita bertiga dan juga Bibi. Tapi satu bukti yang bisa buat kalian menderita adalah rasa yang sama. Kesakitan itu, dendam ini yang akan berbicara. Kalian juga harus merasakan panasnya api itu. saya bersyukur saat kalian selesai bermain-main dengan orangtua kami dan kalian mulai membakar rumah kami untuk hapus jejak kejahatan kalian, saat itu kedua adik saya Sean Sherra berhasil keluar berkat bantuan Bibi. Kalau saja saat itu saya juga harus kehilangan keduanya, saya benar-benar akan membunuh kalian juga saat itu. Kalian benar-benar pintar menyembunyikan kejahatan dan jejak kalian. Kami benar-benar terinspirasi dari kalian”. Kak Inez dengan matanya yang penuh amarah dan dendam terlihat menatap tajam ketiga orang yang sedang kami sekap secara bergantian.


“Dengar, gue nggak perlu menunggu hukum bergerak. Kita yang akan bergerak dan mengadili kalian semua. Nggak peduli apapun nantinya yang akan kami terima, kami hanya ingin kalian merasakan hal yang sama. Mari kita mulai saja”. Ucap gue dengan mata merah karena menahan tangis, tapi disaat bersamaan gue juga tersenyum jahat.


“Nggak, gue mohon, gue mohon Sherra, jangan lakuin apapun. Gue mohon. Please Sher”. Kay mencoba menghentikan gue, tapi tidak ada gunanya karena dia sedang terikat dan tidak bisa melakukan apapun.


“Tante, mau bermain kan denganku. Lihat ini, Tatnte tau kan ini apa, pisau. Ini pisau yang bentuknya sama dengan yang tante pakai waktu bermain dengan Mamaku kan”. Ucapku mengelus-eluskan pisau itu dipipinya.


“Kalau ujung pisau ini menempel ke pipi tante, pasti Pipi tante lebih bewarna, nggak pucat kaya sekarang ini”.


“Hei om, mau bermain dengan yang mana. Saya punya banyak permainan disini. Om mau mulai darimana, asalkan jangan pilih api terlebih dahulu, kita bisa menggunakannya diakhir nanti”. Sean juga asik bermain dengan Papi Kay.


“Tidak, tidak ini tidak menarik. Aku butuh sesuatu yang membuat permainan ini lebih lama”. Ucap gue mengganti pisau itu dengan sebuah anak panah.


“Ini lebih menarik, lihat ujung panah ini bisa langsung menembus ulu hati anda tante”. Ancam gue sambil meletakkan ujung anak panah itu tepat ke tengah dadanya.


“Nak itu bukan suatu kesengajaan”. Belanya.


“Bukan kesengajaan lo bilang hah”. Kesabaran gue habis setelah wanita ini mengatakan hal yang paling tidak ingin gue dengar, gue langsung saja menancapkan ujung panah itu ke paha kiri Mami Kay dan gue lempar anak panah ditangan gue dan mencekik perempuan gila ini.


“AKHH”. Wanita ini kesakitan.


“Bukan kesengajaan, berani banget lo bilang kaya gitu ke gue. Udah jelas-jelas buktinya didepan mata gue sendiri dan lo bilang bukan kesengajaan. Yang gue lakuin sekarang , lo tau easy on me, sangat-sangat easy dan kalaupun kalian mati saat ini, itu bukan kesengajaan”. Ucap gue terus mencekik Mami Kay.


“SHERRA, PLEASE HENTIKAN”. Teriak Kay panik saat melihat keamarahan gue meledak.


“BU INEZ, SEAN, HENTIKAN SHERRA, DIA BISA BUNUH MAMI AKU”. Lagi-lagi Kay berteriak kepada kedua kakak gue yang hanya berdiri diam melihat apa yang sedang gue lakukan pada wanita ini.


“Dan Lo, pria tua bajingan gila, Lo juga mau bilang itu bukan kesengajaan”. Ucapku menampar-nampar pelan pipinya. Ya, gue udah hilang kewarasan, hingga ke orang yang seumuran dengan orang tua gue, gue berani melukai dan mengancamnya seperti saat ini.


“Maaf Nak Sherra, kami benar-benar sangat menyesal. Kami benar-benar hilang akal saat itu. Maafkan kami, silahkan kalau kamu mau ambi semua harta dan kekuasaan itu lagi, kami tidak akan menghalanginya”. Ucap Papi Kay ketakutan saat gue mulai mengambil sesuatu di bawah kakinya.


“Halangi? Kalian memang tidak ada hak untuk menghalangi gue. Itu punya orangtua gue dan satu hal yang perlu kalian tau, Gue nggak butuh itu semua, gue butuh nyawa orangtua gue kembali. Kalian bisa mengembalikannya hah”. Gue mulai perlahan menggores pipi pria ini dengan paku yang cukup kecil, sehingga menimbulkan goresan besar, namun gue tidak memperdalam paku itu. Karena gue hanya ingin mengancam mereka saat ini, bukan untuk membunuh.


“JAWAB, KALIAN BISA MENGEMBALIKAN KEDUA ORANGTUA GUE LAGI HAH”. Gue lagi-lagi kehilangan kesabaran pada kedua orang ini.


“SHERRA”. Bentak Kay pada gue.


“DIEM LO. ASAL KALIAN TAU, KALIAN NGGAK PANTAS DISEBUT SEBAGAI ORANGTUA. BUKAN HANYA ITU, KALIAN BAHKAN NGGAK PANTAS DISEBUT MANUSIA”. Balas gue membentaknya, Gue mulai kepada diri gue lagi, yang nggak bisa menahan amarah ini, daripada gue benar-benar langsung membunuh kedua orang ini, gue memilih untuk meleparkan dan menghancurkan barang-barang yang ada didekat gue.


“Dek, udah, udah sadarin diri kamu, tenang dulu, kamu bisa lukain dan nyakitin diri kamu sendiri”. Kak Inez mencoba menghentikan ku dan memegangiku yang hilang kendali.


“Sean, bawa Sherra dari sini”. Suruh Kak Inez pda Kak Sean.


“NGGAK”. Gue memberontak dan melepaskan pelukan kak Sean.


“Lebih baik kalian akui semua kesalahan kalian ke polisi. Kami sudah punya bukti yang cukup yang bisa memberatkan kalian, hanya dari pengakuan kalian dan juga kami sebagai saksinya. Kalian rekam disini”. Kak Inez mendekati mereka berdua dan mulai merekam.


“Katakan dengan jujur apa yang kalian lakuin malam itu”.


“Apa yang kakak lakukan, menyuruh mereka mengaku. Mereka tidak akan melakukan itu. Akhiri saja disini”. Ucap gue dengan nada datar menahan emosi.


“Sini gue akhiri saja kalian”. Gue maju dan mendekati Kay dan menarik rambutnya dan meletakkan paku tadi ke urat lehernya.


“Lihat, hidup anak lo sekarang bergantung bagaimana kalian inginkan”.


“JANGAN”. Teriak kedua orangtua Kay bersamaan.


“Oke, kami pasti akan mengakui kesalahan kami. Lepaskan kami dan kami segera menyerahkan diri ke polisi”. Ucap Papi Kay pada akhirnya dan gue melepaskan jambakan gue pada Kay.


“Silahkan”. Kak Inez kembali memulai rekamannya dan pada akhirnya kedua orang itu mengakui semuanya. Dan gue muak mendengarnya, gue memilih keluar dari ruangan itu, bersama dengan kak Sean.


Setelah beberapa saat, Kak Inez keluar dari ruangan itu dan mengatakan kedua orang itu sudah mengakui semuanya dan Kak Inez akan menyuruh Mira dan teman-temannya untuk memberi rekaman ini ke polisi.


“Kita pindahkan saja mereka berdua ke gudang kosong itu. Dan tinggalkan saja Kay disana”. Ucap Kak Sean dan gue hanya diam karena masih merasa marah.


"Kalian ngelakuin apapun yang mau kalian lakuin tanpa memikirkan perasaanku". Ucapku dengan nada datar pada kedua orang yang sudah menjadi kakak angkatku sejak lama.


"Dek, kita akhiri aja ya, mereka udah mengakui kesalahan mereka. Dan kakak yakin mereka pasti akan mendapatkan hukuman yang berat dan setimpal dengan apa yang mereka lakuin pada kedua orangtua kita". Kak Inez tetap berusaha tenang menghadapi sikapku yang buruk ini lagi.


"Tapi, aku masih ingin memberi mereka pelajaran. Aku masih ingin membuat mereka merasakan apa yang dirasakan orangtua kita".


"Udah, kamu nggak perlu mengotorkan tangan kamu lagi untuk orang seperti itu. Kakak hanya nggak mau emosi kamu nggak terkontrol lagi dan kakak nggak bakal biarin mental kamu rusak lagi gara-gara mereka. Jadi kita akhiri saja ya dek, Kakak nggak mau kamu kenapa-napa. Kakak nggak bisa kehilangan kamu". Kak Inez memelukku dan Kak Sean juga ikut memelukku. Sedangkan aku yang dipeluk, hanya diam, otakku masih saja memikirkan kejadian itu dan hatiku masih saja berkata, ini belum cukup.