
Almeera POV
“SINI KALIAN”. Teriak seorang lelaki dalam keadaan yang sangat berantakan. Lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Papaku.
“Pa udah jangan tarik Mira lagi, udah cukup”. Ucap Poppy yang berusaha menahan bersama Chatrine agar papa tidak bisa menyakiti gue lagi.
PLAK......PLAK.....PLAK
Papa berhenti menarik gue dan tiba-tiba langsung menampar kami bertiga
“ANAK NGGAK TAU DIRI KALIAN, SAYA SUDAH MENYELAMATKAN KALIAN BERDUA DARI JALANAN KUMUH DAN KAMU MIRA ANAK KANDUNG SEPERTI APA YANG TIDAK MENDENGARKANKAN PERINTAH SAYA”. Teriak Papa pada gue, Poppy dan Chatrine.
“Pa kita udah nggak mau lagi ikut perintah papa. Itu nggak benar. Papa harusnya berhenti melakukan itu pada kita. Papa bilang kami anak Papa, tapi kenapa papa malah memperlakukan kami kaya gini. Kami manusia, juga punya rasa sakit Pa. Papa nggak bisa ngelakuin kami kaya binatang peliharaan Papa. Dan kami udah bertekad untuk berhenti ngikutin perintah dan kemauan Papa. Ini nggak bener Pa. Aku mohon berhenti”. Ucap gue lagi sambil memegang pipi gue yang sakit karena tamparan tadi.
“SIALAN KALIAN, KALIAN NGGAK BISA NGANCURIN USAHA SAYA YANG SUDAH SAYA BANGUN SEJAK AWAL”. Teriak papa lagi yang sekarang mulai melepaskan ikat pinggang yang saat ini dipakainya dengan tujuan untuk memukul kami sebagai bentuk hukumannya.
“KALIAN BERANI MEMBANGKANG PERINTAH SAYA HAHH!! SAYA NGGAK AKAN MENGAMPUNI KALIAN”. Teriak papa yang mulai melayangkan ikat pinggangnya pada ku.
“AHH, SAKIT PA”. Teriak gue merintih kesakitan dan menahan tangis, karena gue tau kalau gue nangis Papa makin marah dan semakin kejam perlakuannya pada kami bertiga.
“PA UDAH PA, CUKUP, UDAH JANGAN SAKITIN KITA LAGI, PLEASE BERHENTI PA,BERHENTI”. Teriak Chatrine histeris yang melihatku sedang di hukum dan Chatrine berusaha untuk menahan tangan papa sedangan Poppy mencoba keluar mencari pertolongan. Tapi Papa mendorong Cathrine dan sadar dengan Poppy yang keluar. Akhirnya papa melempar ikat pinggangnya dan keluar mengejar Poppy. Poppy yang tertangkap langsung diseret ke dalam rumah dan Papa yang sudah sangat emosi mulai berbuat semakin kejam dan nekad.
“PAA HENTIKAN, TOLONGG, TOLONGG PAHH, BERHENTI PAA, POPPY BISA MATI”. Teriak gue dan Chatrine yang berusaha melepaskan tangan papa dari leher Poppy. Tapi sayang kekuatan papa lebih besar dari gue dan Chatrine. Gue lihat Poppy mulai lemas dan tiba-tiba
DOOR....
Satu tembakan mendarat tepat di kaki Kanan Papa dan tiba-tiba Papa langsung terjatuh. Poppy yang sudah lemas pun akhirnya terlepas dan jatuh pingsan. Sejumlah polisi tiba-tiba datang dan gue tidak tau siapa yang melaporkan hal ini pada polisi. Polisi langsung memborgol kedua tangan Papa. Tapi Papa berusaha melawan dan memberontak
“Anda kami tanggap atas kasus kekerasan dan prostitusi Dibawah umur. Anda berhak memanggil pengacara Anda”. Ucap salah seorang polisi berkumis.
“LEPAS, SAYA NGGAK BERSALAH. SAYA NGGAK NGELAKUIN APAPUN, LEPASIN SAYA". Teriak papa berusaha memberontak tapi tetap saja Papa tidak punya kekuatan karena kondisi kaki papa yang terluka ditambah lagi Papa dipegangi oleh 2 Polisi yang berbadan kekar.
“Pop, Poppy, Bangun, lo nggak apa-apa kan, ayoo lo baik-baik aja gue mohon sadar. Poppy please kita baik-baik aja sekarang, Tolong buka mata Lo. Kita udah bebas dari Papa. Poppy gue mohon bangun dan buka mata lo”. Tangis Chatrine melihat Poppy tergeletak dan gue berusaha menelepon ambulance dalam keadaan panik dan tangan gue gemetar.
“Minggir”. Ucap seseorang yang tiba-tiba datang dengan suara datarnya dan mendorong Cathrine dari samping Poppy yang tidak sadarkan diri.
“Lo, Apa yang mau lo lakuin ke Poppy, Apa jangan-jangan lo mau bunuh Poppy”. Ucap gue takut wanita itu berbuat aneh-aneh pada Poppy tapi tak lama setelah itu Poppy mulai bergerak dan sadar. Melihat itu Gue dan Cathrine mencoba membawa Poppy yang baru sadar ke sofa setelah itu gue menyuruh Cathrine mengambilkan air untuk Poppy sedangkan wanita itu hanya berdiri melihat kita bertiga dengan wajah seperti biasa yaitu wajah datar dan mengintimidasinya.
“Lo, Apa yang lo lakuin disini, kenapa bisa lo ada disini, Tau darimana lo rumah kita?”. Tanya gue padanya curiga.
“Gue nagih janji gue”. Ucapnya sarkas.
“Janji, Janji apa maksud lo?". Tanya Chatrine yang binggung.
“Gue udah bilang gue tau semuanya tentang kalian, and see gue udah bebasin kalian dari pedofil tua itu”. Ucapnya yang mulai datar lagi.
“Ja-jadi lo yang laporin Papa gue?”. Tanya gue terkejut.
“Ingat kata-kata gue, gue tau semua tentang kalian”. Ucapnya penuh penekanan
“Apa-apa yang lo tau dari kita?”. Tanya Gue yang mulai harap-harap cemas kalau-kalau dia mengetahui hal yang paling kutakuti terbongkar.
“Jalang kecil, gue tau itu”. Katanya singkat, padat dan jelas dan terlihat jelas dari raut wajahnya dia benar-benar tidak main-main dengan perkataannya.
DEGG...
Otak gue berhenti sejenak, perasaan gue mulai nggak karuan dan gue mulai gemetar. Dia baru saja mengatakan kata-kata yang memang melekat pada kita. Dia tidak mengatakan hal yang salah.
“A-apa maksud perkataan lo”. Ucapku yang sudah mulai bergetar.
“Kalian pikir gue nggak tau apa yang biasa kalian lakukan. Kalian membangkang sama bokap karena kalian nggak menyukai pilihannya. Udah berapa banyak cowok yang bermain sama kalian. I Know. Dan apakah Kalian pikir hidup kalian masih aman dengan begitu dan saat ini seluruh rahasia kalian ada di genggaman gue”. Ucapnya seakan-akan tau apa yang kami lakukan selama ini.
“Please, gue mohon sama lo tolong jangan sebarin tentang ini. Iya gue akui kita emang sering lakuin itu. Tapi gue berani bersumpah gue udah nggak ngelakuin itu lagi. Gue udah berhenti dalam dunia itu. Jadi, jadi gue benar-benar memohon sama lo tolong jangan sebarin masalah ini. Gue, gue janji bakal nurutin apapun yang lo mau. Bahkan kalau lo mau gue berlutut dan bersujud di kaki Lo, Gue akan lakuin itu, Tapi gue mohon untuk satu hal ini, Tolong lo rahasiain”. Ucap gue memohon dan gue langsung berlutut didepannya bersama dengan Chatrine dan Poppy yang sudah sadar sepenuhnya.
“Kalian pikir, pikiran gue sepicik itu, heh, Tentu nggak dan yang pasti berita mengenai bokap lo bakalan keluar besok dan rahasia lo bertiga aman ditangan gue, tapi jika lo memenuhi apa yang gue mau. Jika lo bersikap baik ke gue, Gue jauh lebih baik ke Lo bertiga, Paham!! dan Lebih baik kalian pikirin perkataan gue tadi. Gue hanya nunggu jawaban kalian hingga besok”. Ungkapnya yang terasa mmenakutkan bagi gue.
“Oke, Gue dan mereka berdua pasti akan ngikutin apapun mau lo asal jangan ada yang tahu rahasia ini gue mohon sama lo”. Ucap Gue yang tanpa pikir panjang karena benar-benar sudah sangat khawatir.
“Oke, Gue pegang janji lo, lo, dan lo”. Katanya sambil menunjukkan Jari telunjuknya pada kami dan beranjak pergi dari rumah gue.