
“Kak, malam ini bagusnya makan apa ya?”. Tanyaku pada ketiga orang yang sedang asik berkutat dengan buku pelajarannya
“Gue kepengen cemilan aja sih, lagi nggak mood makan makanan berat nih”. Ucap Kak Chatrine
“Kalau pizza aja gimana?”. Tawarku
“Boleh juga tuh”. Ucap Kak Poppy
“Okey, ntar aku pesanin dulu”. Ucapku sambil membuka ponselku
“**Hei sayang, bagaimana kabarmu. Sudah sangat lama aku tidak menghubungi kamu. Apakah kamu merindukanku juga**”. Tiba-tiba muncul notifikasi chat dari no tidak kenal dan aku benar-benar tidak habis pikir orang itu masi berani muncul setelah dia mencelakai orang-orang yang aku sayangi. Aku berusaha tetap tenang agar ketiga kakak-kakak ini tidak curiga
“Apa lagi yang lo mau hah. Setelah semua yang lo lakuin ke keluarga gue dan orang-orang yang gue sayang, lo belum puas juga. Lo lihat temen gue, sampai harus menderita gara-gara lo. Gue hampir kehilangan sahabat gue Sherra. Apasih mau lo”.
“**Lo tau apa yang gue mau. Jadi silahkan lo datang ke alamat yang gue kirim kalau lo mau orangtua lo selamat. Dan inget tanpa seorangpun yang nemanin lo**”.
“Jangan bohong lo. Orangtua gue sedang keluar kota dan nggak mungkin mereka ada disana. Kalau lo Cuma mau ngancam gue aja, lebi baik lo hentiin sebelum polisi nangkap lo”.
\*foto
“**Besok, jam 7 malam datang ke sini**”. Lagi-lagi orang itu mengancamku
“Key, hello, Keyy, Woiii”. Panggil Kak Mira
“Eh-eh iya kak”. Tanyaku
“Lo kenapa, daritadi juga gue panggilin, nggak nyaut-nyaut lo”. Tanyanya
“I-itu”. Ucapku tergagagp
“Itu apa Key. Aneh banget deh lo”. Ucap Kak Poppy
“Peneror itu ngirim pesan ke aku lagi”. Ucapku
“Hah, maksud lo, yang jebak kita di camp dan yang buat Sherra koma itu”. Tanya Kak Mira kaget begitupun Kak Poppy dan Kak Mira
“Udah-udah, lo jangan panik dulu. Apa yang dia bilang ke lo?”. Tanya Kak Mira menghampiriku dan mengenggam tangganku yang dingin
“Dia nyulik mami papi kak. Kali ini dia benar-benar nyekap mami papi. Dan dia minta aku besok datang ke tempat yang dia minta tanpa ngajak siapapun”.
“Yaudah kalau gitu kita lapor polisi aja, kita juga bisa nemanin lo nantinya. Kan polisi nantinya bisa sembunyi jadi kita bisa nangkap orang itu”.
“Nggak kak, nggak semudah itu. Dia punya banyak mata-mata. Aku dulu udah pernah berulangkali melaporkan dia dan selalu aja gagal. Bukannya berhasil menangkap dia tapi yang ada dia selalu berhasil nyakitin orang-orang di sekitar aku”.
“Aku nggak mau kalian terluka. Jadi kalian nggak usah ikut. Aku akan pergi temuin orang itu besok. Sendiri.”. ucapku mencoba memberanikkan diri
Besoknya....
“Kak, aku akan pergi sekarang”. Ucapku gugup
“lo yakin Key? Kalau lo kenapa-napa gimana?’. Ucap Kak Mira khawatir
“Aku harus yakin untuk nemuin orang itu Kak. Aku nggak mau ada korban lain lagi”. Ucapku lagi
“Pokoknya, kalau terjadi sesuatu lo cepat hubungi kita”. Ucap Kak Chatrine ikut memelukku
“Aku pergi”. Ucapku masuk ke mobil dan mulai mengendarai mobil itu ketempat yang dimaksud peneror itu.
“Tunggu, tempat ini tidak asing”. Ucapku sendiri
“Ini, ini jalan ke rumah Sherra”. Lagi-lagi aku terpana melihat kondisi sekitar dan tetap menjalankan mobilku ke tempat yang dimaksud. Saat ini aku sudah sampai di titik tempat yang dikirimkan padaku. Tapi ternyata titiknya tidak sesuai, jadi aku harus jalan kaki menuju tempatnya. Aku mengeluarkan senter dan memasukkan pisau ke dalam tas yang aku sandang. Aku mulai berjalan ke dalam, tempat ini memang jalan ke rumah Sherra, tapi aku yakin disini pasti ada tempat tersembunyi yang bisa digunakan peneror itu untuk menyembunyikan orangtua ku. Apalagi tempat ini sangat luas, jadi aku tidak bisa berfikiran negatif terus.
“AKHHH, LEPASS”. Teriakku saat tiba-tiba seseorang menyekapku dan tak lama pandanganku menjadi hitam. Aku pingsan. dan saat aku bangun aku melihat tidak ada siapapun dn aku menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi Kak Mira
“AHHHH LEPASSS”. Tiba-tiba seseorang mencoba merenggut ponselku
“Siapa kamu”. Ucapku bergetar ketakutan saat orang itu mulai melangkah menjauh dariku.
“Anak kecil yang terlalu ikut campur. Apakah kamu berusaha mengekspos saya”. Ucapnya terdengar dingin
“Apa mau kamu?”. Aku berusaha tenang walaupun sejujurnya aku ketakutan setengah mati.
“Kamu akan tau sendiri”. Ucapnya yang membuat bergidik ngeri. Tapi tunggu aku seperti tidak asing dengan suara ini. Suaran ini benar-benar sangat familiar. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengingat suara siapa ini
“To-tolong lepaskan aku. Aku mohon padamu”. Ucapku mulai menangis. Aku benar-benar takut jika dia meninggalkan ku dikegelapan ini sendiri dan ternyata orang itu tidak mendengarkanku dan orang itu benar-benar pergi meninggalkanku sendiri di tempat mengerikan ini. Aku hanya bisa menangis semalaman
Paginya aku yang masih sakit kepala karena menanggis semalaman, dibawa oleh orang itu lagi, aku sempat melihat tangannya dan tato itu juga ada ditangannya. Apakah tato itu terkenal sekali, karena Sean juga memilikinya. Karena kepalaku benar-benar berat akhirnya semuanya menghitam dan aku jatuh pingsan. Dan saat aku bangun pun sudah ditempat yang berbeda lagi dan tentunya aku terbelalak melihat orangtua ku juga ada disana. Hingga tak lama seseorang masuk
“Ibukk”. Ucapku lirih saat melihat seseorang yang baru saja melepaskan masker yang dipakainya dan dia hanya tersenyum jahat
"Sayangku sudah bangun”. Ucap seseorang yang duduk disebuah kursi diruangan ini.
“Kenapa, kenapa kamu begitu terkejut”. Sambung seseorang yang sedang berdiri didepanku
“Bu-bu Ineez, apa yang ibu lakukan disini. Kenapa ibu lakuin itu ke aku dan keluargaku?”. Ucapku bergetar tak percaya bahwa Bu Inez adalah salah satu dalang dibalik kekacauan selama ini.
“Apa ada yang salah dengan itu sayang”. Tiba-tiba orang yang duduk di kursi itu berdiri dan ini yang membuatku semakin terkejut
“Se-Sean”.
“Ha, ini sama sekali tidak menyenangkan. permainan ini berlangsung sangat sebentar”. Ucap Sean dengan nada datar, aku tidak pernah mendengar nada berbicaranya seperti ini sebelumnya.
“Mi, Pi, bangun, aku disini”. Ucpku mencoba membangukan Mami Papi yang masih tidak sadarkan diri dan beberapa saat kemudian mereka sadar. Sedangkan Sean dan Bu Inez hanya menatap datar kami bertiga.
Tak lama pintu terbuka dan terdengar tepuk tangan seseorang.
“Hai sahabat”. Ucapnya sambil membuka jubah dikepalanya dan masker yang menutupi wajahnya
“S-s-sherra, k-kamu”. Ucapku yang semakin tidak percaya.
“Nak Sherra, kenapa kamu ngelakuin ini ke kami”. Ucap Mami yang baru sadar dan juga terkejut dengan kedatangan Sherra
“Nak”. Ucap Sherra singkat dan tersenyum miring, ini membuatku takut melihat sherra seperti itu.
“Anda tidak pantas memanggil saya nak”. Ucap Sherra lagi yang wajahnya mulai datar kembali dan dia mulai mendekati Mami yang kelihatan ketakutan.
“Sherra jangan coba macam-macam dengan Mami ku”. Ucapku mencoba menegahi Sherra agar tidak menyakiti Mami. Papi hanya bisa memberontak berusaha melepaskan ikatannya
“Aku lupa memperkenalkan diriku secara lengkap kepada kalian rupanya. Tante apakah tante ingat pernah mengatakan bahwa senyumku mirip sahabat tante”. Ucap Sherra mencengkram pipi Mami
“Sa-sahabat”. Ucap Mami gugup
“Kenalkan aku Sherra Amberlee de Morgan”. Ucap Sherra memperkenalkan diri dengan mukanya yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sangat menakutkan.
“Morgan. Ka-kamu. Nggak, nggak mungkin morgan punya anak. Morgan sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak bisa memiliki anak”. Ucap Mami tak percaya dengan pernyataan Sherra
“Kenapa tante tidak percaya hah”. Ucap Sean murka
“Lihat, siapa di depan tante. Kami, kami anak morgan. Apakah bukti ini masih belum bisa membuat tante percaya”. Ucap Sean geram
“Ka-kalian saudara”. Tanyaku tak percaya dengan semua ini
Flashback
“Hei nak, om baru lihat kalian. Kalian baru jualan disini”. Tanya seorang pria berumur hampir kepala 3
“Iya om. Kenalin aku Vinezara Agshelya. Dan ini adik aku Sean Samudra”. Ucap seorang gadis kecil berumur 11 tahun sambil mengandeng adiknya yang berumur 5 tahun
“Orangtua kalian mana sayang. Kok kalian yang jualan?”. Tanya Om ini
“Udah nggak ada om, udah meninggal”. Jelas Inez
“Meninggal kenapa nak?”.
“Kecelakaan om, kata orang-orang tabrak lari. Aku juga nggak tau. Aku Cuma tau orangtua aku udah meninggal”.
“Ya Tuhan terus kalian tinggal dimana?”.
“Dimana aja om, yang penting bisa istirahat”.
“Astaga nak, kasihan sekali kalian. Kalin ikut ke rumah om aja ya”. Ajak om itu
“Nggak usah om, kami disini aja, nggak papa”. Tolak Inez
“Jangan nolak ya nak. Oom nggak bakal ngapa-ngapain kalian kok. Jadi nggak usah takut ya”. Om ini berusaha meyakiniku dan akhirnya aku mau ikut bersamanya.
Inez sampai dirumah yang begitu besar dan megah. Dan dia takjub dengan itu
“Ayo masuk nak”. Ajak oom itu dan mengambil alih Sean untuk digendongnya
“Ma, Papa pulang”. Teriak Om itu dan tak lama keluarlah seorang wanita cantik yang mungkin baru berusia 25-an sambil mengendong seorang batita wanita yang imut dimataku
“Pa ini siapa?”. Tanya tante cantik itu pada om
“Ini, anak-anak yang jualan dekat kantor Papa, Ma”
“Terus kok Papa bawa kesini?”. Tanya Tante itu.
“Sini deh ma, nak kalian duduk disana dulu ya, Bi tolong buatin makanan untuk mereka ya”. Ucap Oom itu sambi mengajak tante itu menjauh dari kami. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Tak lama om dan tente cantik itu kembali dan tiba-tiba Om baik ini mengatakan
“Nak, mulai sekarang kalian mau nggak kalau tinggal disini sama kita. Ada adek Sherra juga loh”. Ucap oom itu
“Kenapa om?”. Ucapku tidak mengerti
“Iya, om mau kalian tinggal disini dan jadi kakak untuk dek Sherra”.
“Jadi kakak om?”. Tanyaku
“Iya, jdi kakak dari dek Sherra dan jadi anak om sama tante”.
“Benaran om, aku bisa jadi kakak lagi”. Tanyaku polos
“Iya dong nak, beneran. Mulai sekarang Inez sama Sean tinggal disini jadi anak om dan Tante. Dan jadi Kakaknya dek Sherra”.
“Makasih ya om, tante”. Ucapku yang masih polos dan menerima saja tawaran om itu, yang tak lain adalah Papa Sherra dan menjadi Papa angkatku.
“Eh mulai sekarang panggilnya bukan om tante lagi tapi Mama Papa”. Koreksi om itu, eh Papa maksudnya.
“Iya om, eh Papa”. Ucapku gugup
Semenjak hari itu aku tinggal dirumah itu menjadi anak om baik dan tante cantik yang tak lain dan tak bukan adalah Mama Papa Sherra dan juga orangtua angkat ku Dan Sean. Mereka menjaga kami dengan baik, merawat kami layaknya anak kandung mereka, menyekolahkan kami, mengajak bermain dan liburan layaknya keluarga yang benar-benar keluarga. Bahkan Sherra pun aku yang menjaga seperti kakak kandungnya sendiri, dan Sherra juga sangat menyayangi kami walaupun semakin dewasa dia tau bahwa kami bukan saudara kandungnya
Flashback End