
Hari ini aku dan Key berencana pergi berbelanja. Key bilang sudah lama sekali semenjak dia pergi berbelanja dan terakhir sekitar 9 bulan yang lalu. Hitung-hitung aku juga pengen healing, aku terima saja tawaran Key pergi berbelanja ke Mall. Kami berangkat sekitar jam 10-an, dan tentu saja mall baru buka dan yaa sepi pastinya. Tapi selagi menunggu toko-toko di mall buka, kami memilih pergi mencari makanan, karena kami memang belum sarapan sebelum pergi tadi.
“Kay, gimana perasaan kamu sekarang?”. Tanyaku pada Kay yang sedang asik minum.
“Perasaan gimana Sher?”. Tanya Kay balik.
“Ya, maksudku, peneror itu masih sering ngancam kamu?”. Tanyaku lagi.
“Akhir-akhir ini nggak ada sih, aku rasa dia ketakutan karena kita udah lapor polisi deh”. Jawab Kay yang terlihat sudah mulai rilex, tidak seperti kemarin-kemarin yang terlihat lusuh dan menyedihkan.
“Syukurlah, kalau gitu, aku juga yakin peneror itu tidak akan berani lagi untuk ganggu kamu dan keluargamu”. Ucapku mencoba membuat Kay agar semakin tenang.
Setelah sarapan, toko-toko sudah banyak yang buka dan kami mulai berkeliling melihat-lihat yang mungkin akan kami beli nantinya. Kay terlihat sangat tertarik pada satu toko, dan sepertinya Kay benar-benar menginginkan sesuatu dari toko itu.
“Kay, kamu mau ke toko itu”. Ucap ku menawarkan Kay yang matanya tidak terlepas dari toko itu.
“Eh,hehe, nggak kok, nggak”. Ucap Kay menolak
“Kenapa?aku lihat kamu lihatin toko itu aja daritadi”. Tanyaku lagi
“Hmm, nggak papa sih, aku cuma lihat doang kok, hehe”. Ucap Kay terkikik.
“Emangnya kamu liatin apa sih?”. Tanyaku lagi.
“Udah lah kita pergi aja yuk ke toko lain”. Ucap Kay berusaha mengalihkan pertanyaanku. Aneh banget sih Kay. Nggak biasanya dia kaya gini.
“Ehh, eh,eh, sini ikutttt”. Ucapku sambil menarik Kay ke toko itu.
“Sherr, nggak usah, kita ke toko lain aja ya, ayukkk”. Ucap Kay yang mencoba menahan tarikanku, tapi tetap saja aku masih bisa berhasil membawa Kay ke toko itu.
“See, kamu pilih aja yang kamu mau Kay”. Ucapku menawarkan
“Nih”. Ucap Kay singkat dan langsung menarikku keluar toko itu.
“Kay kenapa sih kamu, kok aneh banget, tadi kan kamu udah nunjuk tas yang kamu mau, tapi kok narik aku keluar?”. Tanyaku pada Kay yang benar-benar bersikap aneh.
“Nggak papa Sherra, aku cuma malu aja masuk toko itu, soalnya itu toko punya orangtua mantan sahabat aku”. Ucap Kay menjelaskan.
“Owhh, jadi karena itu kamu nggak mau kesana, seharusnya kamu bilang daritadi dong, yaudah kita ke toko lain aja”. Ucapku.
“Yukk, tapi nanti kita nonton film ke bioskop ya, ada new movie nih, dark konsep, pasti seru bangett”. Ucap kay terlihat excited.
“Okedeh Kay, aman itu mah”.ucapku dan diringi senyuman lebar Kay.
Sekarang aku Dan Kay sudah selesai berkeliling mall dari lantai 1 sampai lantai 3 dan tujuan kami sekarang adalah Bioskop di Lantai 4. Kami membeli tiket film nya dan jam tayangnya jam 15.15, sedangkan sekarang masih pukul 14.45. masih 30 menit lagi, jadi kami memilih untuk bermain sebentar ke zone di lantai yang sama. Setelah hampir 20 menit bermain barulah kami kembali ke Bioskop, membeli Popcorn dan minuman, lalu langsung masuk ke teater bioskop.
“Gitu amat ngeliatinnya Kay, nggak takut apa sama film genre kriminal ini?”. Tanyaku heran melihat Kay yang sama sekali nggak takut, seakan-akan dia akan menonton film genre romance.
“Ihh seru tauu Sher, lebih seru daripada genre romance dan comedy, kamu lihat aja nanti, pasti kamu ketagihan nonton genre ini lagi”. Ucap Kay dan aku hanya mengangguk mengiyakan biar Kay merasa senang.
Saat pertengahan film disanalah muncul klimaksnya yaitu saat psycho itu membunuhi korban yang selama ini di sekapnya. Sangat brutal, dia membunuh korbannya dan mamotong bagian tubuh korbannya. Apakah itu hewan yang bisa dipotong dengan ekspresi seperti itu. Sangat mengerikan. Saat itu juga aku melihat Kay yang sepertinya mulai ketakutan dan Kay sedang menutup matanya dengan tangannya. Sesekali Kay meletakkan kepalanya di belakang punggungku. Sudah kuduga Kay pasti akan takut, mana mungkin dia seberani ini apalagi dia juga pernah diteror oleh seseorang. Bukankah dengan menonton ini akan membuatnya menjadi semakin overthinking.
“Makanya tadi sih kamu sok-sokan berani, ujung-ujungnya apa, dari pertengahan film sampai filmnya end kamu kebanyakan nutup mata, Kay, Kay ada-ada aja kamu”. Ucapku setelah keluar teater room bioskop.
“Hehe ya aku kan penasaran sama filmnya, hitung-hitung movie nya kan bisa diambil pelajaran”. Ucap Kay tersenyum.
“Emangnya pelajaran apa yang kamu dapat dari film tadi?”. Tanyaku heran.
“Ya kita jadi taulah gimana caranya melarikan diri dari penculik atau semacam psycho itu, kita juga bisa tau kan cara lepasin ikatan tali”. Ucap Kay yang sedang asik memakan sisa popcorn tadi.
“Kay, kamu ini, dipikir mudah kali ya merealisasikan kaya yang di film, kalau kita panik aja pasti otak langsung blank, yang ada kita pingsan duluan”. Ucapku terkikih dan Kay juga ikut-ikutan terkikih kecil.
“Yaudah yuk pulang”. Ajak Kay sambil mengandeng tanganku dan kami menaiki mobil yang sudah berada di depan mall. Sepertinya sopir Kay benar-benar gercep, agar boss kecil nya tidak lama menunggu, hehe canda boss.
...----------------...
“Aku pulang”. Ucap Kay setelah masuk ke rumahnya sambil meletakkan barang belanjaannya ke sofa ruang tamu dan tak lama Mami Papi Kay muncul sepertinya dari taman belakang rumah Kay.
“Mi, kenalin ini temannya Kay, yang pernah Kay ceritain itu loh”.
“Oh jadi ini teman kamu yang bernama Sherra itu”. Ucap Mami Kay sambil menatapku dengan senyumnya.
“Iya tante”. Jawabku singkat namun sambil tersenyum kecil
“Makasih ya Sherra, udah nemanin Kay waktu Tante sama Om pergi. Makasih juga udah jagain Kay dan izinin dia nginep dirumah kamu”. Ucap Papi Kay tiba-tiba.
“Hehe, nggak papa kok Om, lagian Kay juga udah banyak bantuin aku juga”. Ucapku mulai canggung.
“Senyum kamu manis, lihat senyum kamu ini ngingetin Tante sama sahabat tante”. Puji Mami Kay.
“Tante bisa aja, tapi memangnya sahabat tante dimana?”.
“Udah meninggal”. Nada suara Mami Kay berubah dan wajahnya terlihat sedih.
“Ehh, maaf tante”. Ucapku merasa bersalah.
“Nggak papa kok nak”. Ucap Mami Kay.
“Eh udah udah ngobrolnya, kita makan dulu sini, Om udah laper nih”. Papi Kay tiba-tiba menghentikan obrolan kami dan akhirnya kami makan malam bersama.