
Flashback
Saat aku sedang makan malam bersama dengan Bang Ammar tiba-tiba ada yang mengetok pintu rumah kami.
“Ibuk, Bapak”. Dari nada suara Bibi terdengar sangat terkejut, aku dan Bang Ammar langsung bergegas keluar untuk melihat siapa yang mengetok pintu barusan.
“Ma-mami, Papi”. Ucapku bergetar saat melihat siapa yang ada dihadapanku saat ini. Aku nggak bisa menahan rasa kaget ini, orang yang aku sayang, yang aku pikir sudah nggak bisa untuk aku lihat lagi untuk selama-lamanya, sekarang ada disini, tepat didepanku, menatapku.
“Mi, Pi kemana aja selama ini. Aku takut Mi”. Aku memeluk Mami dan menangis sesenggukan.
“Sayang maafin Mami ya nak. Udah bikin kalian khawatir”. Mami mengusap kepalaku yang masih memeluk erat tubuh Mami.
“Saya buat teh hangat dulu buk”. Bibi menyela ditengah-tengah kesedihan kami.
“Pi kemana aja?”. Bang Ammar terlihat berusaha menahan tangisnya.
“Sayang maaf ya nak. awalnya memang Mami Papi pergi 3 hari tapi harus ada sesuatu yang kami kerjakan dan itu benar-benar mendadak dan harus diselesaikan juga ”.
“Apa yang begitu penting sampai-sampai Mami ataupun Papi nggak bisa hubungi kami. Sampai lupa ngasih kabar ke kami”. Aku benar-benar marah pada kedua orangtuaku saat ini.
“Waktu itu tiba-tiba aja ada orang membobol masuk Hotel tempat kami menginap. Orang itu ngambil ponsel, laptop dan juga barang-barang lain Mami sama Papi. Makanya Mami Papi nggak bisa hubungi kalian selama 2 hari itu”.
“Ya kan bisa beli ponsel baru”. Ucapku menyela karena benar-benar kesal saat ini. Apakah mami dan Papi tidak tahu betapa ketakutannya aku selama ini.
“Udah sayang, besoknya setelah Papi kamu ketemu client. Mami Papi udah beli ponsel baru. Tapi nomor kamu atau Ammar nggak bisa dihubungi. Bahkan telepon rumah juga nggak bisa dihubungi. Waktu itu karena masalah pembobolan ini Mami Papi ngurus itu dulu makanya kami udah berusaha hubungi kalian karena bakalan pulang lebih lama”.
“Mi Pi, wajar aja Kay takut. Beberapa jam setelah Mami Papi pergi itu malamnya aku diculik dan Kay dapat pesan ancaman. Orang itu ngancam keselamatan aku dan mereka bahkan memperlihatkan foto mobil Papi yang terbakar”. Bang Ammar menjelaskan karena aku sudah tidak mau mengingat hal menyakitkan itu lagi. Menakutkan.
“Siapa, siapa yang ganggu kalian. Siapa yang berani mengancam keluarga kita”. Ucap Papi mulai marah dan murka.
“Nggak tau Pi. Kalau kami tau pasti polisi sudah bisa menangkap orang itu”. Ucap Bang Ammar.
“Mi, karena itu aku nukar nomor ponselku agar orang itu nggak bisa ganggu dan ngancam aku lagi. Ponsel Bang Ammar juga udah diambil sama penculik itu. Sedangkan telepon rumah rusak,mungkin karena tikus kabelnya terputus”. Ucapku yang sudah mulai tenang, walaupun masih ada rasa kesal.
“Tapi Pi kenapa mobil Papi bisa sama mereka?”. tanya Bang Ammar.
“Mobil? Mobil apa yang kamu bilang. Itu bukan mobil Papi Mar. Mobil Papi ada diluar dan Papi masih menggunakan itu sampai sekarang”.
“Terus, maksud Papi orang itu memanipulasi semua ini gitu?”. Tanyaku yang semakin terkejut dengan peneror itu. Dia benar-benar sangat nekad dan tidak main-main.
“Bisa jadi nak. Dan Kay sekali lagi maafin Mami Papi ya nak. karena kami buat kamu khawatir. Tapi kamu nggak kenapa-napa kan Mar?”.
“Nggak papa kok Mi, aku baik-baik aja, nggak ada luka serius, cuma luka kecil aja dan udah mulai kering juga lukanya. DanMami nggak perlu minta maaf. Mungkin ini juga salah aku”.
“Tapi untung aku punya Sherra yang nemanin aku selama ini. Dia benar-benar sangat banyak membantu aku Mi”. Ucapku yang mulai tersenyum mengingat Sherra yang begitu baik padaku selama ini, walaupun kami belum lama kenal, tapi dia ngejagain aku banget.
Flashback End