
Kay POV
Hari ini aku datang ke sekolah cukup cepat karena kebetulan hari ini diantar Papi. Di hari-hari biasanya aku pergi diantar abang atau naik taxi. Aku duduk dikelas sendirian sambil membaca novel di ponselku, padahal banyak orang dikelas tapi aku memilih sendirian. Karena memang begitulah aku yang sangat sulit mendapat teman dan tentunya aku pemilih dalam berteman, karena aku pernah memiliki moment pertemanan yang cukup menyakitkan.
Bagaimana tidak, seseorang yang dulunya selalu bareng-bareng sejak kecil dalam hal apapun dan saling melindungi, tiba-tiba mengkhianati janji yang pernah kita ikat berdua. Kami pernah mengatakan bahwa sejauh apapun jarak kita nantinya, bahkan saat kami harus bertemu dengan orang baru, kami tidak akan memiliki saling menjauh dan asing dalam pertemanan ini. Tapi, yang namanya manusia pasti bisa berubah, termasuk aku sendiri. Saat dimana kami masih dalam masa puber-pubernya seorang remaja, wajar jika menyukai seseorang yang berubah-ubah. Namun, saat itu aku benar-benar tidak tau kenapa, aku sangat menyukai seseorang. Berbulan-bulan bahkan hampir setahun lamanya aku memendam sendirian dan perasaan ku tidak berubah pada laki-laki itu. Disaat itulah, aku sering bercerita kepada sahabatku, lebih tepatnya mantan sahabat. Aku tidak pernah tau bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan seseorang yang aku sukai. Dan suatu hari aku menyadari bahwa sikapnya benar-benar berubah terhadapku, sikapnya yang tidak bisa dan tidak pernah sebelumnya dia lakukan kepadaku. Sahabatku mulai sering menolak ajakanku untuk melakukan apapun, bahkan terkesan menghindari ku. Aku jujur sangat cemburu karena dia mulai memiliki teman baru yang kelihatannya sangat akrab. Hingga suatu waktu semua kepercayaan ku kepadanya benar-benar sudah sirna begitu saja. Pagi itu di kelas aku melihat sendiri sahabatku jalan bersama seseorang yang kusukai, dan ternyata mereka sudah berpacaran. Dan sejak saat itu, jangankan berbicara, menyapaku saja tidak dilakukannya. Aku merasa sedikit takut untuk berteman dan mempercayai orang.
Tapi hari ini kelasku kedatangan siswi baru dan aku melihat dia sebagai seorang berkepribadian introvert yang pemalu dan aku berfikir mungkin dia cocok dijadikan teman karena aku lihat-lihat Sherra ini pendiam dan tidak banyak tingkah dan satu-satunya cara untuk menjadikannya teman adalah ya aku harus berani menyapa dia duluan dan tentunya aku harus sedikit caper.
Saat aku tau kelas sedang jam kosong aku mulai memanfaatkan situasi dan menghampirinya. Jujur aku juga sedikit gugup untuk memulai pembicaraan tapi aku harus bisa.
“Hey Sherra," sapaku tapi dia malah diam menatapku jadinya aku sedikit takut dia berfikiran aku orang yang sok kenal dan sok dekat. Kalau kata bahasa kerennya sih SKSD.
“Hey Sherra kamu dengar aku, Sherra, Halo, Sherrrr," ulang ku lagi karena dia masih belum merespon ku.
“Eh i-iya, ada apa ya?," tanyanya padaku.
Aku yang melihatnya heran, tapi tetap saja aku melanjutkan untuk berkenalan dengannya. Bahkan disaat dia ingin memperkenalkan dirinya lagi aku malah menutup mulutnya. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, tapi untung saja sherra tidak marah.
...----------------...
Dan kami mulai berbincang sedikit lebih santai dari yang tadi, yang memang sedikit canggung sih. Dan aku agak terkejut ternyata dia juga bisa bercanda saat dia menyebutku zombie kelaparan.
“Sebelumnya kamu sekolah dimana sih Sher, kok pindah kesini?," tanyaku pada Sherra yang sedang meminum jus jeruk nya.
“Hmm, dulu aku homeschooling Kay dan aku emang sengaja agak telat sih masuk kesini karena aku emang belum siap aja kemarin untuk mulai bersekolah di sekolahan," jawab Sherra.
“ Homeschooling? Maksudnya kamu sekolah di rumah gitu, kenapa emangnya Sher kok homeschooling?," tanyaku penasaran.
“Sejujurnya aku, aku itu, hmm aku dulu pernah punya penyakit yang ya cukup parah dan orang tua aku bawa aku berobat ke Australia, yah jadinya aku disana nggak sekolah hampir 2 tahun, dan syukurnya penyakit aku bisa disembuhin, makanya sekarang aku bisa pulang ke Indonesia. Orangtua aku pikir aku udah ketinggalan pelajaran cukup jauh jadinya aku mulai homeschooling itu juga sih alasan aku lambat masuk kesini," jelas Sherra yang terlihat sedikit sedih. Mungkin dia jadi kepikiran masa lalu nya. Ah aku jadi merasa bersalah padanya.
“Ooh ja-jadi kamu pernah menderita penyakit parah, ma-maaf ya Sher aku nggak tau," ucapku yang merasa bersalah.
“Nggak papa kok Kay lagian juga sekarang aku udah sembuh juga, jadi kamu nggak usah merasa bersalah segala," balas Sherra diiringi senyuman.
Kriiingg....kriinggggg.....
Bunyi bel pertanda masuk. Aku dan Sherra terkejut mendengar bel berbunyi. Ini karena keasikan ngobrol jadinya lupa waktu, ditambah lagi bakmi ku belum habis, tapi dengan perasaan tidak tega aku harus meninggalkan bakmi kesukaanku dan segera menuju ke kelas untuk kelas selanjutnya. Aku pikir aku harus menahan lapar hingga jam pulang sekolah nanti. Dan aku sudah yakin aku tidak akan bisa fokus untuk pelajaran sebelumnya. Hah, sudahlah.