
Hari ini adalah sidang yang ke-4 orangtua ku atau lebih tepatnya sidang putusan majelis hakim. Aku benar-benar sangat takut untuk mendengar putusan yang akan diberikan pada orangtuaku. Orangtuaku juga sudah bilang padaku, bahwa apapun keputusan hakim nanti mereka akan menerimanya atau dengan kata lain mereka tidak akan minta banding. Karena mereka tau kejahatan mereka benar-benar sangat keji dan tidak bisa dimaafkan.
Hakim ketua: Sidang lanjutan perkara pidana jakarta yang memeriksa dan mengadili perkara pidana nomor 1863 pid.b/2018. Atas nama terdakwa Jerry Adreww Yusviee dan Hangini Soraya dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. (ketuk palu 3 kali)
Hakim ketua: Sesuai dengan berita acara sidang yang lalu maka sidang hari ini adalah pembacaan putusan majelis hakim.
Hakim ketua : Apakah saudara terdakwa sudah siap mendengar putusan sidang hari ini?
Terdakwa: Ya, sudah siap pak hakim.
Hakim ketua: Saya akan membacakan putusan terhadap saudara Jerry Adrew Yusviee dan saudari Hangini Soraya. Terdakwa dikenakan pasal berlapis untuk pembunuhan berencana, penganiayaan, dan perampasan harta secara paksa. Sehingga berdasarkan pasal 338 KHUP tentang pembunuhan, dengan bunyi “Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Selanjutnya dikenakan pasal KUHP 354 ayat (1) dengan bunyi “ Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun”. Dan KUHP 354 ayat (2) “Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana paling lama sepuluh tahun”. Selanjutnya brdasarkan pasal 340 KUHP dengan bunyi “ Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lama dua puluh tahun. Dari itu pengadilan memutuskan tuntutan terdakwa berdasarkan pasal berapis tersebut adalah pidana mati. (semua peserta sidang terkejut)
“Saya keberatan”. Sherra tiba-tiba berdiri sebelum hakim agung mengetuk palu untuk megesahkan tuntutan.
“Ada apa saudari saksi?”. Tanya Hakim agung.
“Saya tidak setuju pidana mati untuk mereka pak hakim terhormat. Mereka seharusnya tetap hidup lebih lama lagi. Saya merasa keberatan untuk hukuman itu. Tolong dipikirkan lagi Pak hakim yang terhormat. Terimakasih”. Ucap Sherra dengan wajah datarnya. Sedangkan aku yang sudah menangis mendengar putusan itu, menjadi terkejut saat Sherra keberatan dengan tuntutan mati terhadap orangtuaku.
“Apakah saudari saksi yakin dengan keputusan ini”. Sekali lagi hakim ketua bertanya pada Sherra.
“Saya sangat yakin Pak, saya hanya merasa mereka lebih pantas untuk tetap hidup lebih lama lagi dipenjara”. Sherra terdengar sangat serius.
“Baik, karena keberatan dari saudari saksi, maka sidang putusan tuntutan majelis hakim ditunda hingga satu jam kedepan. Terimakasih”. Ucap hakim ketua lalu keluar ruang sidang.
Satu jam kemudian....
Hakim ketua: Sidang lanjutan putusan majelis hakim akan dilanjutkan. Setelah berdiskusi secara seksama, pengadilan memutuskan memberi ancaman untuk terdakwa dengan acaman pidana seumur hidup (hakim ketuk palu 3 kali menandakan hasil final sidang itu).
Setelah putusan itu, aku langsung berlari memeluk Mami Papi. Aku tidak tau harus berekspresi seperti apa lagi sekarang. Disisi satu aku senang bahwa orangtuaku tidak dihukum mati dan meninggalkanku didunia ini sendirian. Tapi disisi lain aku sedih bahwa untuk seumur hidup mereka berada di balik jeruji besi. Aku seharusnya tidak pantas berfikir seperti ini. Karena walau bagaimanapun orangtuaku berhak mendapat pembalasan yang setimpal dan pastinya balasan setimpal juga nyawa, tapi itu batal karena Sherra. Setidaknya Sherra tidak melakukan itu.
“Izinkan saya berbicara dengan orangtua saya”. mohonku pada polisi yang memengangi orangtua ku.
“Hanya 5 menit”. Ucap penjaga itu dan meninggalkan kami bertiga.
“Sayang, maafin Papi dan Mami, udah buat kamu menderita. Benar yang dikatakan Sherra, kami tidak pantas disebut orangtua”. Ucap Papi ku dengan tangisan menyesalnya.
“Aku kecewa sama Mami Papi. Aku Cuma mau bilang jaga diri kalian baik-baik didalam sana. Aku harus nenangin diri untuk beberapa waktu. Maafin aku Mi Pi”. Ucap ku pergi dari sana, jujur aku nggak bisa nahan tangisan ini, tapi aku juga nggak bisa melihat wajah mami papi untuk sementara ini. Mungkin setelah aku sedikit tenang, aku akan mengunjungi orangtuaku lagi.
Aku pergi keluar pengadilan dan bertemu dengan Kak Mira, Kak Poppy dan Kak Chatrine. Aku juga melihat Sherra yang sedang bersama Sean dan Bu Inez. Kami ingin pergi menemui Sherra, Namun kami urungkan setelah melihat mereka sedang berbicara serius, jadi kami hanya diam bersembunyi di belakang dinding untuk mendengar pembicaraan mereka.
“Kak, aku bakalan akuin semuanya sekarang”. Ucap Sherra tanpa rasa takut.
“Ngakuin apa sih dek. Kamu nggak ngelakuin apapun”. Bu Inez terlihat melarang Sherra untuk melakukan itu. Aku nggak tau mengakui apa yang dimaksud Sherra.
“Nggak ngelakuin apa-apa. Kak, kakak sendiri tau kan apa yang udah aku lakuin selama ini. Sebentar lagi juga semuanya akan terbongkar, dan lebih baik sebelum itu aku yang menyerahkan diri. aku akan bertanggungjawab terhadap semua yang aku lakukan”. Sherra bersikeras untuk melapor ke polisi.
“Nggak dek. Dengar kakak dulu, semua ini bukan salah kamu. Ingat bukan salah kamu”. Tekan Sean pada Sherra.
“Kak, aku udah mencelakai banyak orang. Aku bahkan berulang kali hampir kehilangan akal dan bunuh orang. Bahkan, kakak lihat kan orang yang di bar waktu aku menyelamatkan Mira, orang itu koma gara-gara aku. Terus kakak masih mau bilang ini bukan salah aku. Semuanya udah berakhir kak. Aku hanya perlu menerima apapun yang terjadi sama aku. Kakak jangan cegah aku lagi sekarang”. Sherra yang berusaha pergi ke kantor polisi ditahan oleh Sean dan Bu Inez.
“Berhenti dek. Kakak nggak rela ya kalau kamu nanggung ini sendirian. Kamu seperti ini bukan karena kamu ingin kan. Kita semua juga nggak pernah berharap kamu jadi kaya gini. Tapi dek, kak tetap aja nggak bakalan rela kamu nyerahin diri”. Dan tak lama 3 orang polisi menghampiri mereka.
“Apa benar anda saudari Sherra?”. Tanya salah satu polisi itu.
“Iya, saya ingin....”. Bu Inez mencoba menghentikan Sherra yang ingin melanjutkan perkataannya.
“Ada apa Pak?. Tanya Bu Inez
"Kami membawa surat perintah penangkapan terhadap saudari Sherra atas kasus penyerangan”.
“Benar”. Ucap polisi itu.
“Pak sepertinya ini ada salah paham. Saya harus akuin, itu bukan Sherra. Saya yang melakukan penyerangan itu, sampai membuat orang itu koma. Saya sudah meminta maaf ke korban. Tapi saya akan tetap bertanggungjawab”. Sherra yang melihat Sean yang berkorban untuknya merasa terkejut dan membelalakkan matanya dan ingin menyanggah pernyataan Sean, Namun Sean menggenggam tangan Sherra untuk menyuruh Sherra tetap diam.
“Baik untuk saudara Sean dan Sherra silahkan ikut kami dulu ke kantor dan jelaskan disana”. Dan polisi itu membawa kedua kakak beradik itu.
...----------------...
Setelah kejadian penangkapan itu, akhirnya Sean juga yang ditetapkan menjadi tersangka dan harus mengikuti proses dipengadilan. Walaupun aku masih merasa perasaan yang janggal terhadap keluarga itu, tapi aku tetap menghadiri persidangan Sean. Sean harus menerima dirinya dipenjara 3,5 tahun. Setelah sidang selesai, aku menunggu Sherra diluar pengadilan, karena saat ini Sherra sedang berbicara dengan Sean.
“Tunggu”. Ucapku saat melihat Sherra keluar dari pengadilan sendirian dan dia hanya menatapku.
“Apa lagi sebenarnya yang kamu mau Sher?”. Tanyaku.
“Apa maksud lo?”. Tanyanya balik.
"Lo main-main sama hidup gue hah. Untuk apa lo ngelakuin itu?”. Tanyaku lagi yang masih tersedu karena menangis.
“Dengar, lo pikir, gue bakalan biarin orangtua lo mati secepat itu. Lo pikir gue rela orangtua lo hanya merasakan penderitaan itu sebentar. Gue mau orangtua lo tersiksa di balik jeruji itu, gue mau orangtua lo merasakan sakit disana. Kalau aja orangtua lo mati, mereka hanya merasakan sakit untuk waktu yang sangat singkat, itu alasan gue”. Ucapnya lalu pergi masuk mobilnya dan meninggalkanku sendiri menangis, kecewa, sakit dan semuanya bersatu menjadi luka.
“Ada apa?”. Tanyaku singkat.
“Dimana Sherra?”. Tanyanya.
“Mana gue tau, ngapain nanya ke gue”. Ucapku yang masih marah dengan Mira yang ternyata selama ini membantu Sherra melakukan ini pada keluargaku.
“Nggak usah bohong Kay, gue lihat kok tadi lo sempat ngomong sama Sherra”.
“Ya gue nggak tau, dia pergi gitu aja”. Ucapku langsung menutup telepon.
Dan setelah telepon itu, aku memutuskan mengikuti Sherra yang barusan pergi dengan mobilnya. Aku nggak tau kemana Sherra sebenarnya, tapi aku tetap ngikutin dia. Ntah kenapa, gue merasa takut kalau-kalau dia kenapa-napa, padahal dia udah hancurin perasaanku, walaupun aku tau dia melakukan itu bukan karena keinginannya. Aku mengikutinya hingga ternyata dia berhenti di pemakaman umum dan berhenti disalah satu makam.
“Ma, Pa, aku datang. Maafin aku udah lama nggak kunjungi Mama Papa. Ma, Pa, tau nggak, aku udah berhasil ngelakuin pekerjaan aku. Aku berhasil membuat mereka terima semua yang udah mereka lakuin ke kalian, walaupun itu nggak sebanding. Aku bahagia, karena sekarang aku jadi bisa segera ketemu kalian disana. Pasti Mama Papa bahagia banget ya disana”. Gue bisa mendengar semua perkataan Sherra pada makam orangtuanya yang ternyata berada di satu liang lahat.
Apa maksudnya. Bertemu segera dengan orangtuanya. Apa ini. Jangan-jangan Sherra ingin menyakiti dirinya. Aku pernah dengar waktu itu, masalah kesehatan mentalnya. Aku takutnya mentalnya kembali down. Akhirnya aku menelpon Kak Mira untuk memberitahu posisi Sherra. Dan aku menyuruhnya datang dengan cepat.
“Ma. Pa . aku udah nggak tau lagi hidup aku untuk apa. Pasti mama papa kecewa punya anak seorang psycho kaya aku, yang bisanya nyakitin, lukain banyak orang. Padahal Mama sendiri pernah ngajarin aku untuk nggak pernah membalas apapun yang dilakukan orang pada kita. Tapi aku nggak bisa ngelakuin keinginan mama itu. Maafin aku ma, pa”. Sherra menangis dan memukul-mukul kepalanya sendiri. Aku ingin memberhentikannya, tapi rasa gengsiku lebih besar dari itu.
“SHERRA”. Teriak Bu Inez yang baru saja datang dengan Kak Mira, Poppy dan Chatrine. Syukurlah mereka datang lebih cepat dari dugaanku.
“Jangan mendekat kak”. Ucap Sherra menjauh dari Bu Inez, aku yang awalnya bersembunyi pergi mendekat juga bersama mereka.
“Dek, apa yang mau kamu lakuin”. Bu Inez sangat panik melihat Sherra yang mengeluarkan pisau dari tasnya.
“Kak aku minta maaf. Dulu aku pernah mengatakan ini sama diri aku sendiri. Kalau aku selesai dengan semuanya aku akan mengakui semuanya ke polisi, tapi Kak Sean yang menggantikan aku. Dan sekarang aku sendiri juga binggung untuk apa lagi guna aku hidup. Aku nggak bisa hidup dengan penuh luka dan kejahatan kaya gini kak. Kakak tau kan aku mungkin bisa saja menyakiti lebih banyak orang. Mending sekarang aku pergi bertemu mama papa disana. Mungkin itu jauh lebih baik”. Ucap Sherra mulai meletakkan pisau di lehernya.
“Dek, jangan gila. Jangan ngelakuin hal bodoh. Kamu udah janji selalu disisi kakak. Dan sekarang kamu mau ninggalin kakak. Kamu tega ngelakuin itu dek”. Bu Inez terus berusaha menghentikan Sherra yang semakin nekat.
“Kak aku memang udah gila, udah sejak lama kak. Kak jujur aku capek dengan semua ini. aku capek harus menggunakan topeng ini, setiap hari setiap detik. Berpura-pura bahagia, tersenyum, bersikap ramah. Aku capek dengan semua itu, itu bukan diri aku yang sebenarnya, kakak tau itu kan. Aku bukan orang yang seceria itu”. Ucap Sherra tertawa sedih.
“Sherra, please jangan, gue mohon. Gue tau lo orang baik, Lo udah ngubah banyak hidup gue. Gue nggak rela lo pergi, gue mohon, tolong jangan”. Kak Mira ikut mencoba membujuk Sherra. Sedangkan, aku. Aku hanya bisa melihat kejadian didepanku dengan perasaan yang campur aduk. Aku tiba-tiba merasa kaku dan nggak bisa berbicara sama sekali.
“Aku sayang sama Kakak. Sama Kak Sean juga. Maafin aku”. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sherra menggoreskan pisau itu ke lehernya dan dengan cepat Bu Inez menahan Sherra, tapi tetap saja Sherra sudah terluka dan berdarah.
“Nggak, nggak dek. Dek buka mata kamu. DEKKK”. Teriak Bu Inez yang panik ketakutan dan sudah tidak bisa menahan tangisannya.