
Almeera POV
Malam itu Bokap gue lagi-lagi nyuruh gue untuk pergi menemui clientnya dan tentu saja gue udah muak dan menolak. Dan saat kita bertiga pulang ke rumah kami sudah yakin Papa bakalan marah besar dan benar saja saat kami baru saja keluar dari mobil. Papa langsung menarik gue ke dalam rumah tapi Poppy dan Cathrine mencoba menahan tangan gue. Sampai di dalam rumah tepatnya di dekat tangga Papa melepaskan tarikannya pada ku dan menampar kami satu persatu. Sakit, tentu. Marah, sangat besar pastinya. Tapi bagaimanapun kami tidak punya kekuatan apapun melawan Papa. Walaupun kami mencoba kabur dari Papa selalu tertangkap. Kami dulu sudah pernah melarikan diri dari rumah dan ujung-ujungnya kami berhasil ditangkap.
Papa hanya meneriaki kami bertiga awalnya, namun tak lama Akal sehat Papa menghilang dan mulai mencekik Poppy. Kita, gue dan Cathrine udah berusaha melepaskan tangan Papa dari leher Poppy, but nihil Papa lebih kuat. Sampai tiba-tiba tembakan pistol memenuhi rumah gue dan gue lihat Papa berlutut ke Lantai karena tembakan di pahanya. Gue bersyukur Polisi datang dan menangkap Papa, tapi gue juga sedih, takut dan khawatir sama Poppy yang udah nggak sadarkan diri. Pikiran gue jadi negative, karena gue takut Poppy benar-benar udah mati.
Nggak lama setelah Papa dibawa pergi Polisi, tiba-tiba datang seorang cewe yang malam itu kita bertiga temuin saat mobil gue rusak. Cewe itu tiba-tiba langsung menyuruh kita minggir dan dia mendekati Poppy yang masih nggak sadarkan diri. gue khawatir kalau- kalau dia juga mencoba menyakiti Poppy. Tapi nggak lama setelah itu Poppy mulai bergerak dan sadar. Gue dan Cathrine langsung membawa Poppy ke sofa. Dan cewe itu tiba-tiba mengatakan kedatangannya untuk menagih janji yang bahkan nggak kita ketahui dan sepertinya itu lebih kesebuah ancaman karena dia benar-benar mengetahui rahasia kami bertiga.
Besoknya ....
Jujur gue takut datang ke sekolah hari ini. Gue teringat kata-kata cewe itu semalam. Dan gue juga khawatir apakah omongannya bisa dipegang. Gue akhirnya menyalakan Televisi dan benar saja berita mengenai prostitusi dan kekerasan Bokap pada kita bertiga muncul. Dan ternyata satu hal lagi yang bisa gue lihat dia bisa dipercaya karena berita mengenai rahasia kami tidak ada. Akhirnya karena berita gue, Poppy dan Cathrine tidak ada, kita memberanikan diri pergi ke Sekolah.
Di sekolah...
Baru saja kita bertiga masuk gerbang sekolah, sudah mulai terdengar jelas desas desus, bisikan-bisikan, dan ejekan demi ejekan siswa di sekolah itu pada Kami bertiga dan kami mencoba pura-pura tidak mendengar dan bodo amat sambil terus berjalan menuju kelas. Tapi sayangnya di lapangan mereka-mereka itu mulai mengerumuni kami, melempari dengan sampah-sampah yang sudah mereka persiapkan. Dan ya kami hanya bisa pasrah dikata-katai. Tapi walaupun begitu bukan kami menerima saja dikatai seperti itu hanya saja belum saatnya kami berbicara dan buka suara.
Tak lama setelah itu gue lihat cewek berambut sebahu, berkacamata mulai menembus kerumunan. Siapa lagi kalau bukan adik kelas yang pernah gue tampar, Sherra.
Gue nggak nyangka dia berani sekali membela kita bertiga. Dia benar-benar sangat tidak terduga. Bagaimana ada bisa di dunia ini orang seperti dia. Gue speechless dengan keberaniannya. Sherra berhasil mengusir orang-orang itu dari kami. Setelah Sherra berhasil membubarkan kerumunan dia membawa Kami keluar sekolah, apa ini apakah dia mau bolos Sekolah, bel sudah berbunyi tapi dia tidak menggubris dan tetap berjalan membawa kami ke luar lingkungan sekolah. Dan dia terlihat menelpon seseorang dan tak lama datang sopir pribadi Sherra yang biasa mengantar jemput Sherra.
“Eh lo mau bawa kita kemana, ini udah bel loh, lo mau bolos?”. Tanya gue heran dan dia tidak menggubris dan sibuk dengan teleponnya.
“ Heloo, Sher lo denger gue bicara barusan kan?”. Tanya gue lagi. Namun, dia masih sibuk dengan handphonenya dan saat mobil jemputannya datang dia langsung menyuruh kita masuk.
“Sher, lo ngak denger gue ngomong apa tadi?”. Tanya gue untuk ketiga kalinya.
“Eh iya, ada apa kak?”. Sherra ikut bertanya.
“Lo mau ngajak kita kemana dan lo nggak denger tadi bel masuk udah bunyi kok lo malah bawa gue, Poppy sama Cathrine keluar sih, lo mau bolos sekolah”. Ucap gue dengan satu tarikan nafas.
“Hehe, ya nggak papa lah sekali-kali aku bolos kak, emangnya Kakak aja yang bisa bolos aku juga bisa kok. Lagian kakak bertiga yakin mau masuk kelas hari ini?”. Sherra balik bertanya pada kami.
“I-iya sih, gue nggak yakin masuk kelas, dan ya jujur mood gue udah down duluan, untung ada lo yang nyelamatin kita bertiga”. Ucap Cathrine
“Yaudah terserah lo deh, kita ngikut aja Sher, tapi lo nggak bakal bawa kita ke tempat macam-macam kan?”. Tanya gue curiga.
“Ya nggak lah, emangnya aku mau bawa kalian kemana juga”. Balas Sherra terkikik kecil.
“Eh iya Btw Sher, lo kok mau sih belain kita tadi, lo nggak takut juga di kata-katain sama satu sekolahan?". Tanya Poppy penasaran.
“Hmm, nggak juga sih kak, udahlah bahas nanti aja deh kak, mending kita santai-santai dulu aja”. Lagi-lagi Sherra buat gue penasaran.
...----------------...
Sherra membawa kita bertiga ke Danau yang benar-benar bikin kita tenang dan merelax-kan pikiran. Sherra benar-benar pandai mengubah mood kita. Dia tau bagaimana cara menenangkan diri. Entah mengapa dia begitu, apakah dia juga pernah merasa sedih dan tertekan seperti kita. Ntahlah kita juga nggak tau tapi yang pasti dia bener-benar bisa menikmati hidupnya. Maybe.
Hampir 5 jam kami hanya di Danau dan Sherra sama sekali tidak berbicara apa-apa soal pertanyaan kita tadi. Tapi ya sudahlah, mungkin dia sedang tidak ingin berbicara. Dan karena sudah waktunya makan siang, Sherra mengajak kami ke Cafe terdekat di Danau.
Di Cafe...
Sambil menunggu pesanan kami datang, Gue mengulang lagi pertanyaan Poppy di mobil tadi pada Sherra.
“Sher, lo kenapasih mau-mau aja nolongin kita tadi, dan kenapa lo baik banget sama kita padahal kita pernah maluin lo dan nampar lo, lo nggak sakit hati, nggak dendam gitu sama kita, terus lo nggak takut kalau se sekolahan ngata-ngatain lo gitu?”. Tanya gue.
“Hmm, sejujurnya aku tau gimana rasanya nggak ada yang bela dan merasa sendiri, karena aku pernah ngerasain sendiri perasaan itu. Melihat kalian diperlakukan kaya gitu mengingatkan aku sama diriku. Makanya aku tanpa pikir panjang mau-mau aja bantu Kakak bertiga tadi. Lagian itu juga bukan hal besar. Kalaupun orang-orang mau bilang apa, mikir apapun tentang aku, aku juga udah bodo amat, lagian ntar mereka juga capek dan berhenti dengan sendirinya, nggak semua yang buruk itu buruk untuk kita, dan nggak selamanya juga yang baik itu benar-benar baik untuk kita. Justru yang baik itu yang hancurin kita.
“Owh, jadi lo nolongin kita karena itu, maaf ya karena kejadian ini kita ngingatin lo sama masa lalu lo, tapi kalau boleh tau apa yang terjadi sama lo?”. Tanya gue berhati-hati takut membuatnya sedih lagi.
“Karena dulu aku pernah menderita penyakit yang ya cukup mematikan, dan orang-orang terdekatku seperti teman-temanku bukanya ngedukung atau nguatin aku, mereka malah mulai meninggalkan aku satu per satu dan aku hanya punya mama papa yang selalu disisi ku. Setiap aku sedih Mama Papa selalu bawa aku ke Danau atau pantai, karena nggak tau kenapa melihat air dan kesunyian itu emang menenangkan”. Jelas Sherra yang suaranya mulai bergetar dan dia benar-benar berusaha menahan tangisnya. Sherra anak yang kuat.
“Maaf ya Sher”. Ucap Poppy merasa bersalah karena pertanyaan dari gue tdi.
“Iya nggak papa kok kak, santai aja, lagian itu hanya masa lalu, nggak perlu ditangisi lagi. Masa lalu dan masa depan itu hanya bisa kita lihat dari, pertama masa lalu yang sama dengan masa depan atau yang kedua masa depan akan lebih baik dari masa lalu, atau mungkin yang ketiga masa depan lebih buruk dari masa lalu”. Sherra benar-benar luar biasa dan kata-katanya benar-benar membuat gue merinding dan gue benar-benar nggak bisa berkata-kata lagi. Dia banyak nolongin kami bertiga.