
“Anak-anak sebentar lagi kita sudah akan ujian akhir dan seperti biasanya sebelum ujian akan ada minggu tenang dan sekolah selalu mengadakan acara camping. Seperti biasa acara ini tidak memaksa siapapun untuk ikut. Bagi yang ingin ikut bisa mendaftarkan diri ke ketua kelas dan bagi yang tidak ikut silahkan istirahat atau refreshing sendiri ya”. Bu Inez memberitahukan ini pada kami yang baru pertama kali mendengarkan berita ini. Karena kami masih kelas 10 dan murid baru tentunya kami tidak tahu mengenai camping tahunan ini.
“Oh iya, ketua kelas tolong daftar yang ingin ikut camping berikan ke Ibu besok pulang sekolah ya. Kalau ada yang ingin dipertanyakan silahkan”.
“Bu, apakah camping ini untuk seluruh murid dari kelas 1 sampai 3?”. Tanya ketua kelas.
“Iya tentu dong".
“Bu kalau boleh tau berapa lama campingnya dan dimana kira-kira lokasi campingnya Bu?”. Sean tiba-tiba bertanya.
“Baik Ibu akan jelaskan. Jadi camping ini dilaksanakan tergantung murid kelasnya. Biasanya setiap kelas akan memilih tempat campingnya sendiri berdasarkan kesepakatan bersama kelas dan wali kelasnya. Dan begitu juga untuk waktunya. Kecuali jika dalam satu kelas yang berpartisipasi sedikit maka kelas itu akan digabung dengan kelas yang partisipasinya juga sedikit”.
“Oooh”. Ucap sekelas serempak.
Jam istirahat pertama...
"Ekhemm kalian pergi?”. Tanya Sean yang tiba-tiba berada di samping tempat duduk Kay.
“Kayanya nggak deh Se”. Ucapku
“Lah, kok nggak sih Sherr?”. Tanya Kay
“Aku mikirin kamu Kay. Kemarin kan baru aja peneror itu neror kamu lagi. Aku yakin kamu pasti takut banget”.
“Ya ampun Sher, kamu sampai segitunya. Kamu nggak usah mikir sejauh itu juga. Lagian nih Sher, ini kan pertama kalinya untuk kita, masa iya kita nggak ikut. Untuk masalah ini aku yakin pasti bakalan aman, karena kan kita rame-rame dan peneror itu nggak bakalan berani muncul dihadapan kita kan”.
“Kamu yakin Kay?”. Tanyaku lagi untuk memastikan.
“Iya Sher, aku yakin kok. Tenang aja, aku harus bisa hadapin ini”.
“Tenang aja lo berdua. Ada gue, gue janji bakal jagaan kalian berdua”. Sean mencoba membuat kami lebih baik agar tidak terlalu merasa takut.
“Kalau gitu, gue daftarin dulu ya”. Ucap Sean beranjak pergi dari kursi sebelah Kay.
“Kamu beneran yakin nih Kay?”. Tanyaku lagi untuk memastikan Kay benar-benar yakin untuk pergi.
“Iya, udah deh Sher. Aku baik-baik aja kok”. Ucap Kay tersenyum tipis.
“Yaudah deh, kalau gitu besok kamu harus tetap didekat aku sama Sean. Kamu nggak boleh pergi kemana-mana tanpa aku, Sean atau siapapun disana. Intinya kamu nggak boleh pergi sendirian". Aku mengingatkan.
2 hari kemudian.....
“Oke karena ini hari terakhir kelas sebelum minggu tenang dan ujian akhir, Ibu hanya akan mengulas sedikit materi untuk Bab terakhir kemarin dan untuk materi pelajaran Ibu, kalian Ibu kasih bocoran sedikit. Soal yang akan keluar akan lebih banyak menggunakan logika dan tentunya kalian harus banyak memahami materi yang ada, Oke”.
“Oke karena sudah jelas mengenai materi untuk ujian, sekarang Ibu mau memberitahukan mengenai Camping kita. Untuk kelas kita sangat-sangat bersemangat ternyata. Ibu tidak menyangka semua murid kelas Ibu akan berpartisipasi camping tahun ini. Dan karena kelas kita salah satu yang terbanyak partisipannya, kita bisa memilih tempatnya sendiri dan berapa lama waktu yang ingin kalian ambil. Silahkan yang ingin mengusulkan boleh berdiri”. Bu Inez menjelaskan.
“Bu sebelum kami memberi usul, Ibu kan sudah pernah pengalaman juga dengan senior kami sebelum kami ini. Mungkin Ibu bisa memberi usul terlebih dahulu”. Ketua kelas mengusulkan pendapatnya.
“Kalau gitu disana aja Bu”. Celetuk Sean.
“Bagaimana dengan yang lain?”. Tanya Bu Inez.
“Kami setuju sekali buk”. Ucap mereka serempak.
“Kalau untuk berapa lamanya kita ambil waktu normal aja Bu, 4 hari 3 malam saja”. Salah seorang teman laki-laki sekelasku ikut mengusulkan.
“Gue nggak setuju, mending 3 hari 2 malam aja, kelamaan kalau 4 hari”. Sean mencoba menyela dan aku yakin Sean pasti ngelakuin itu untuk Kay. Oh sweet nya.
“Ya sudah kita voting saja”. Bu Inez menengahi perdebatan itu.
“Baik setelah ambil suara tadi, kita sudah sepakat untuk melakukan camping di panorama danau biru dengan waktu selama 3 hari 2 malam”. Keputusan bersama sudah disahkan oleh Bu Inez.
“Baik karena semuanya sudah kita sepakatkan, Ibu pamit undur diri dulu dan selamat belajar dengan guru selanjutnya. Dan sampai jumpa 3 hari lagi ya anak-anak. Pastikan saat Camping membawa senter, baju hangat, cemilan kalau ingin dan yang paling penting obat –obatan bagi yang punya penyakit seperti asam lambung, maag atau asma, obat merah juga jangan lupa. Sampai jumpa semuanya”.
...----------------...
3 hari kemudian....
Pagi ini semua siswa dari kelasku sudah berkumpul di lapangan sekolah dan kami akan mengambil absen dulu sebelum masuk bis. Sebelum Bu Inez datang Aku, Kay dan Sean memilih duduk di pinggir lapangan.
“Gaiisss”. Teriak seseorang, eh tidak suaranya lebih dari satu orang.
“Kak”. Ucapku saat melihat ketiga sejoli cantik ini.
“Lo ngapain disini?”. Tanya Sean singkat, padat dan jelas.
“Emang ini sekolah punya nenek lo. Ya jelas-jelas mau pergi camping juga lah. Emang kalian aja yang pergi”. Cerocos Poppy kesal.
“Gue juga tau lo mau camping, maksud gue tu ngapain lo disini ngumpul sama kelas gue?”. Sean mulai kesal.
“Ya itu artinya kita satu tujuan lah. Itu aja nanya. Nih ya tujuan camping kita sekarang itu adalah tempat tujuan kita juga selama 2 tahun berturut-turut. Jadi tahun ini kita juga tetap milih camping disana, makanya gabung sama kelas lo, karena gue dengar-dengar kelas lo semuanya ikut, sedangkan kelas gue tahun terakhir ini Cuma seperempat siswa”. Kak Mira menjelaskan dengan penuh semangat.
“Yaudah mending kita langsung kesana aja Gaiss, itu udah pada ngumpul juga”. Ajakku pada kelima temanku ini.
“Oke, Semuanya sebelum kita berangkat, kita absen dulu, jadi Ibu dan pengawas lain bisa tau nanti siapa yang hadir dan nggak hadir, biar nantinya tidak kesusahan mencari siswa yang tiba-tiba hilang. Nama yang sudah disebut langsung aja masuk dan ambil tempat duduk di Bis ya”. Bu Inez mulai memanggil satu per satu nama kami hingga akhirnya namaku dipanggil , sedangkan ketiga kakak-kakak itu dan Kay sudah dulu dipanggil.
“Kay kamu duduk sama Kak Mira?”. Tanyaku saat melihat Kay yang duduk bersebelahan dengan Kak Mira.
“Hehe, maaf ya Sher, nih kak Mira yang minta aku duduk sama dia. Nggak papa kan”. Kay terlihat sedikit tidak enak padaku
"Sekali-kali Sher". Kak Mira menunjukkan oeace padaku dan melebarkan senyum sehingga keliatan giginya.
“Nggak papa kali, santai aja”. Lalu aku berjalan ke belakang 2 kursi dari tempat duduk Kay dan Kak Mira dan tak lama setelah itu Sean masuk Bis dan duduk disebelahku.