EasY On ME

EasY On ME
Game Start


“Kak, Kay mengajakku untuk nginap dirumahnya beberapa hari”. Aku mengirimkan pesan itu ke Kak Inez.


“Itu lebih bagus dan akan menjadi lebih menarik”. Balas Kak Inez.


Dan malam itu, dirumah Kay, saat Kay sedang bersih-bersih di kamarnya, Aku turun kebawah, ke dapur untuk memasak. Dan sebelum itu aku memberi kabar ke Kak Inez, hingga tiba saat Kay turun dan mendapatkan pesan itu. Pesan dari Kak Inez. Aku mencoba tetap dalam posisi , yaitu berpura-pura mengkhawatirkan Kay.


“Kay tenang ya, ada aku disini, kamu nggak usah khawatir, okey”. Aku memeluk Kay dan tersenyum puas melihat ketakutan Kay. Ini baru permulaan.


Setelah makan malam akumengunci semua pintu dirumah Keay dan mengajak Kay naik ke atas, ke kamarnya.


“Sekarang, lebih baik kita tidur aja”. Bujukku dan setelah Kay tertidur aku lagi-lagi mengirimkan pesan ke Kak Inez dan pergi kembali kebawah untuk memotong kabel telepon rumah itu.


“Kerja bagus kak”.


Dan besoknya kami berencana ke Polisi, dan Kak Inez kembali mengirim pesan kepada Kay, agar dia tidak menjadi melaporkan hal ini ke polisi. Dan aku sudah menduga hal itu akan terjadi. Aku membawa Kay ke rumahku, Aku pikir Kay akan berfikiran macam-macam saat melihat lokasi rumahku yang berada di dalam pepohonan lebat ini, tapi ketakutannya lebih besar sehingga dia tidak berani melakukan apapun, bahkan untuk bertanya.


Saat itu Mami Kay mengirim pesan pada Kay, tidak lebih tepatnya Kak Sean lah yang mengirim pesan itu. Malam sebelum kejadian pesan teror itu ke Kay, Kak Sean mengikuti pergi orangtua Kay dan menyuruh seseorang untuk menyelinap masuk ke hotel tempat orangtua Kay menginap. Kak Sean memerintahkan untuk mengambil semua barang berharga, agar orang-orang tidak terlalu curiga, kalau tujuan utama pencurian itu adalah mengambil ponsel dan laptop saja. Kak Sean harus membuat orangtua Kay tidak bisa menghubungi Kay, agar tujuan kami juga bisa lebih lancar dan berjalan mulus.


Bahkan Kak Sean memerintahan orang suruhan itu, kalau-kalau dia tertangkap dia harus mengaku bahwa dia melakukan hal itu karena sedang sangat membutuhkan uang. Sekarang handphone Kedua orangtua Kay sudah berada di tangan Kak Sean. dan Kak Sean mengirimkan pesan itu ke ponsel Kay.


Besoknya Kak Inez kembali mengirimkan foto berupa mobil orangtua Kay yang terbakar, sebenarnya itu hanya mobil usang yang kami modifikasi layaknya mobil milik orangtua Kay. Toh, Kay juga tidak akan sadar adanya perbedaannya. Karena foto itu Kay jatuh pingsan dan aku yang melihat itu hanya binggung, apakah memang dia selemah ini. Dan karena sedikit rasa kemanusiaan, aku membawa Kay kerumah sakit dan membawa beberapa orang juga untuk menjaga Kay, lebih tepatnya agar dia tidak kabur dari rumah sakit dan melapor ke polisi.


Disaat Kay masih belum sadarkan diri, aku keluar ruangan rawat Kay dan pergi ke kantin menemui Kak Inez.


“Kak, lihat bagaimana kondisinya. Ini bahkan masih permulaan tapi dia sudah tumbang duluan”. Ucapku pada Kak Inez yang asik memakan sarapannya.


“Iya dek, kita harus tetap berhati-hati”. Tiba-tiba ponsel Kak Inez berdering, ponsel sekali pakai yang kami gunakan untuk meneroror Kay.


“Kay”. Ucap Kak Inez padaku. Aku dan Kak Inez sama terkejutnya saat Kay dengan beraninya menelpon orang yang notabenya adalah peneror hidupnya.


“Bagaimana ini Kak?”. Tanyaku panik.


“Tunggu, kita ke toilet”. Ajak Kak Inez.


Kak Inez: besarnya juga nyalimu mencoba untuk menghubungiku. Hahahahaha.


Key: siapa anda sebenarnya? Mengapa anda melakukan ini kepada saya, apa salah saya kepada anda HAH, kalau memang saya salah seharusnya anda menghukum saya bukan abang saya apalagi orangtua saya.


Kak Inez : kamu bertanya salahmu? HAHAHAH. Salahmu adalah karena tidak mengetahui kejahatan orangtuamu sayang. Aku hanya menggunakanmu sebagai permainanku untuk membalas orangtuamu.


“Kak mending aku pergi ke kamar rawat Kay dulu”. Ucapku setelah Kak Inez mematikan panggilan dari Kay.


...----------------...


Pagi itu Kak Sean menghubungiku dan aku pergi menemuinya ke tempat yang dimaksudkan. Namun, sepertinya dari jauh aku mendengar keributan dan melihat Ammar tanpa sadar sudah melukai Kak Sean.


“Sialan”. Umpatku dan berlari mengejar Ammar.


“Pergi lo”. Teriak Ammar padaku yang berhasil menemukannya.


DORR....


Ammar menembak paha kiriku dan kabur. Aku kesakitan dan akhirnya Ammar lepas dari genggamanku. Cukup lama aku mencoba keluar dari tempat ini sendirian dengan keadaan kaki terluka, dan tak lama akhirnya aku bertemu Kak Sean.


“Dek, kamu terluka. Berani sekali bajingan gila itu menembak kamu”. Amarah Kak Sean.


“Udah kak, kakak juga terluka”. Aku mencoba menghentikan Kak Sean yang masih mau mengejar Ammar.


“Kita kerumah sakit ya”. Ajak Kak Sean lalu mengendongku di belakangnya.


“Kak, kakak kan juga luka, nggak usah”. Tolakku.


“Kakak luka sedikit doang. Kamu bisa infeksi kalau dipaksain jalan. Udah yok”.


Dirumah sakit


“Kak aku jemput Kay dulu”.


“Kamu masih luka. Istirahat dulu aja”.


“Udah nggak papa, i’m okay”. Aku beranjak ke ruangan Kay.


Setelah menjemput Kay dari rumah sakit, Aku berencana membawa Kay ke rumahku. Tapi sialnya Ammar datang. Bagaimana dia bisa mengetahui keberadaan adiknya. Sialan.


“Sialan, berani banget dia datang dihadapanku setelah melukai Kak Sean”. Aku mengepalkan tangan menahan amarah. Jujur aku nggak terlalu marah Ammar melukaiku, tapi aku benar-benar marah, Ammar melukai kak Sean.


“Kak, Ammar disini, sama aku dan Kay”. Aku mengirim pesan itu pada Kak Sean.


Berani sekali dia melaporkan Kak Sean yang menculiknya ke polisi. Lo liat Ammar, lo nggak akan lolos kali ini. Aku berucap dihati. Dan untungnya kedua kakak beradik ini tidak menyadari kalau aku terluka, apalagi Ammar, kalau sampai Ammar tau aku terluka, bisa-bisa dia bakalan bertanya-tanya. Mending aku cari aman, dengan berpura-pura baik-baik saja.


“Aish, sakit”. Keluhku pelan karena mencoba berjalan normal.


Beberapa hari kemudian, saat lukaku mulai kering, barulah Kay menyadari bahwa aku terluka. Dan untung saja aku udah tau mau beri jawaban apa ke Kay, saat dia betanya kenapa aku terluka. Dan paling untung lagi, aku nggak perlu jalan pincang lagi, aku udah bisa berjalan sedikit normal dari beberapa hari yang lalu. Dan apa Kak Sean yang mengatakan luka sedikit, justru lukanya masih sakit hingga sekarang. Aku semakin marah pada Ammar.


Lalu hari ini Kay mengajakku jalan-jalan ke mall. Awalnya aku mau menolak, karena mana mungkin aku pergi jalan bersenang-senang dengan anak pembunuh orangtuaku. Tapi dia bilang, itu karena kepulangan orangtuanya, jadi harus dirayakan. Apanya yang dirayakan, dasar keluarga penuh toxic dan kebohongan. Aku bahkan masih sangat ingat malam itu, saat akh berhasil mempengaruhi Kay untuk mengganti nomor ponselnya. Itu memang rencana kami, karena pasti kemungkinan besar orangtua Kay akan menelpon ke rumah menggunakan nomor hotel atau bisa jadi membeli ponsel baru. Kalau nomor Kay sudah diganti mana bisa mereka menghubungi Kay. Dan tentu saja itu akan membuat Kay percaya bahwa orangtuanya memang celaka dan dalam bahaya, atau lebih parah lagi mungkin saja Kay berfikir orangtuanya sudah mati.


Ya, memang aku dan Kay ke Mall bedua. Tapi aku sendiri mengajak Kak Sean, dan dia mengikuti kami dibelakang. Niat awal kami adalah untuk mencelakai Kay. Namun, Kay hari itu sangat bahagia, jadi aku meminta Kak Sean untuk menunda kejahatan kami kali ini. Bukan karena iba, tapi karena aku ingin Kay benar-benar bahagia dan setelah itu kami ingin menghancurkan dia sehancur-hancurnya.


Besoknya disekolah, aku memberi Kay sebuah kotak yang alu alasankan dari Kal Sean. Memang saat itu aku pergi bertemu Kak Sean dibelakang sekolah, di taman tepatnya. Kak Sean juga yang ngasih kotak itu. Dan semua alasan yang aku berikan ke Kay, tentu itu selalu sebuah alasan dan bukan fakta. Dari awal aku nggak pernah ketemu apalagi menabrak orang bermata biru terang. Dan memang juga dari awalnya kotak itu berisi ancaman dari kami.


...----------------...


Beberapa hari lagi sekolah mengadakan camping dan tentunya itu adalah kesempatan yang bagus untuk aku, tidak lebih tepatnya kami, Aku, Kak Sean dan Kak Inez melancarkan tujuan. Dari awal aku dan Kak Sean sudah merencanakan banyak hal. Saat pembagian tugas aku dan Kak Sean berpisah dengan mereka berempat dan pergi menemui Kak Inez, untuk menyusun beberapa rencana. Dan saat kami harus menelusuri hutan ini, aku dan Kak Sean sengaja memisahkan diri , dan kami dari awal sudah tau mana jalan yang benar menuju tenda. Dan kami dengan sengaja menyuruh mereka berempat ke arah yang salah, untuk mempermudah tujuan kami.


“Kalian”. Kaget Chatrine saat melihat kami yang menyeretnya.


“Kenapa, lo mau marah?”. Tanya Kak Sean sarkas.


“Kalin bikin gue jantungan tau nggak. Gue pikir gue benar-benar diculik orang lain. Ternyata itu kalian”.


“Sekarang lo ikutin aja kita”. Ajakku.


“Kemana?”. Tanyanya.


"Ngikutin teman-teman lo”. Dan setelah itu kami juga sengaja menculik lebih tepatnya menyembunyikan Poppy dari Kay.


“Chatrine. Gue takut, gue pikir gue diculik beneran”. Poppy memeluk Chatrine.


“Udah nggak usah drama kalian berdua”. Ucapku malas melihat mereka yang berlebihan.


“Tujuan kalian apasih?”. Tanya Chatrine.


“Membuat Kay ketakutan dan pastinya merasakan sendiri di kegelapan”. Ucapku dengan nada sedikit menekan.


“Tugas lo berdua sekarang adalah nyeret Mira kesini. Kita butuh dia”. Perintah Kak Sean dan untungnya mereka dapat diandalkan.


“Mir, kita butuh lo sekarang dan lo berdua kembali aja ke tenda. Kalau ada yang bertanya kenapa kalian hanya berdua, kalian hanya perlu jawab, kalian tersesat dan ketemu sama Bu Inez”. Lagi-lagi Kak Sean memerintah dan memberi petunjuk menuju ke tenda dan Mira mulai mengikutiku. Sedangkan aku tiba-tiba merasa ada yang aneh sama diri sendiri. Aku merasakan bayangan yang tiba-tiba muncul di benakku. Yang dulunya kenangan yang udah aku usahain untuk aku hapus dari ingatanku selama-lamanya. Tapi tiba-tiba hari ini kembali lagi. Aku nggak bisa untuk mengontrolnya. Berulang kali aku harus menahannya tapi ini tidak tertahankan.


“AAAA. PERGII. PERGI DARI AKU”. Aku terduduk dan memegangi kepalaku yang merasa berat, pandanganku kabur mengingat itu.


“Sherra”. Kaget Kak Inez yang baru kembali dari tenda.


“Kenapa sih kak. Kalian malah ngelarang aku untuk bunuh Kay”. Aku yang masih terduduk seperti orang gila yang mengamuk merasa kesal dengan ini semua.


“Dek, udah, tenang dulu. Kamu nggak boleh gegabah. Kakak Cuma takut kalau kamu kenapa-napa. Dan justru ini bisa jadi boomerang buat kita”. Kak Inez mencoba menjelaskan.


“NGGAK. AKU NGGAK BISA NUNGGU LEBIH LAMA LAGI KAK. KAKAK LIHAT SAMPAI SEKARANGPUN DIA MASIH TERTAWA DAN MENIKMATI HIDUPNYA. MASIH BISA MERASAKAN KASIH SAYANG ORANGTUANYA. MASIH BISA BERMAIN-MAIN DAN MERASAKAN SEMUANYA YANG ITU ADALAH MILIK ORANGTUA KITA DAN KEBAHAGIAAN ITU HARUSNYA MILIK KITA”. Aku pikir bahwa aku kembali hilang akal. Aku nggak bisa nahan amarah dan nafsuku untuk nyakitin orang lain lagi.


“Dek”. Kak Sean mencoba menahanku.


“Atau kakak mau aku aja yang mati”. Aku berbicara dengan nada seperti seorang psycho.


“Nggak. Nggak sayang kakak nggak mau kamu kenapa-napa. Kita ikutin alurnya ya”. Kak Inez selalu berusaha menahanku, agar kepribadianku yang seperti iblis tidak keluar. Karena kepribadianku inilah, berulang kali aku hampir ngebunuh orang. Dan untung saja kedua kakak gue selalu berhasil menahanku.


“Kalau gitu minggir. JANGAN HENTIIN AKU LAGI”. Aku mulai berdiri dengan tangan mengepal dan memegang sebuah pistol yang ada disakuku sebelumnya. Namun, tidak lama setelah itu, aku merasa ada tancapan di leher dan aku merasa pandanganku mulaigelap.


“Maafin kakak dek. Kakak nggak mau kamu terluka untuk kesekian kalinya”. Aku masih bisa mendengar samar-samar suara Kak Inez menangis. Dan setelah itu aku nggak tau lagi apa yang terjadi sama diriku sendiri. Bangun-bangun, paginya aku udah berada dikamarku dirumah.


“Apa yang terjadi?”. Aku melihat tanganku yang terikat.


“Maafin kakak dek, malam itu kakak memalsukan berita kalau kamu tertembak peneror itu. Kakak Cuma mau bawa kamu pergi dari camping itu, untuk kebaikan kamu”. Kak Inez dengan mata bengkaknya merasa menyesal.


“Terus ini apa?”. Ucapku menunjukkan tanganku yang terikat.


“Kakak harus ngelakuin itu lagi. Kakak nggak mau kamu emosi kaya semalam dan kamu bisa lukain diri kamu lagi. Kakak nggak mau kehilangan kamu”.


“Aku benci sama kakak”. Ucapku kecewa.


“Silahkan benci ke kakak. Tapi ini untuk kebaikan kamu. Kakak udah manggil dokter dan psikiater. Kamu harus pulih lagi dan selama itu juga kakak nggak akan biarin siapapun tau kalau kamu ada disini, bukannya dirumah sakit terbaring koma. Dan kakak juga nggak akan biarin siapapun ngeliat kamu untuk beberapa waktu ini”. Ucap Kak Inez mendekati ku dan memberiku makan. Tapi bukannya menerima suapan dari Kak Inez, aku hanya mulai sesak dan menanggis, Kak Inez hanya bisa memelukku dan ikut menangis bersamaku. Aku benci dengan diriku yang seperti ini. Kenapa harus aku yang merasakan ini. Aku lelah. Tapi aku juga nggak mau orang itu hidup bahagia setelah membunuh orangtuaku.


Selama hampir sebulan aku hanya berdiam dikamar dan disekitar rumah. Meminum obat, menerima perawatan dan tidak bisa bertemu siapapun kecuali Kak Sean, Kak Inez dan orang yang bekerja dirumahku. Pada akhirnya aku juga harus mendengarkan perkataan Kak Inez dan Kak Sean, untuk memulihkan diriku lagi. Aku juga nggak mungkin terus-terusan mengalami panic attack dan trauma begini. Aku juga harus melanjutkan semua yang udah kami lakukan dan aku nggak bisa berhenti begitu saja. Inilah yang menjadi alasan kuat aku mau untuk pulih lagi. Hingga malam itu Mira datang menemuiku setelah mereka tidak sengaja mendengarkan obrolan Kak Inez dan Kak Sean.