
"Semuanya sudah siap?" tanya Alma pada Dirga dan Deno saat mobil yang dikendarai oleh Deno itu tiba di depan rumah tempat acara yang di ada kan Diandra.
"Mas Dirga, sudah tahu kan tugas, Mas?" tanya Alma memastikan.
Dirga membalikkan badannya menatap Alma kemudian mengusap puncak kepala calon istrinya itu, dan tersenyum. "Mas sudah tahu sayang."
"Deno, kamu ikut aku yah," ujar Alma meraih tasnya.
"Siap, Kak!"
Mereka bertiga kemudian turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung acara itu setelah Deno memarkirkan mobilnya di depan rumah itu.
Sudah banyak kontingen beberapa perusahaan, Diandra benar-benar sangat niat melakukan hal ini, menurut Alma, Diandra adalah ratu Drama.
"Pak Dirga, terimakasih sudah datang," Diandra datang menghampiri Dirga dan menjabat tangan Dirga.
Sementara itu Alma hanya menatap tajam, memberi tatapan waspada kepada Dirga akan aksi Diandra.
"Deno, ayok!" bisik Alma kepada Deno yang membuat mereka berjalan meninggalkan Dirga yang tengah berbincang dengan Diandra.
"Kamu ke ruangan keamanan sekarang, aku yakin banget lorong ke kamar Diandra itu di pantau cctv, jadi kamu harus lumpuhin dulu sebelum aku nerobos buat nyari berkasnya."
Mendengar penjelasan itu membuat Deno mengangguk, Deno mengambil segelas minuman kemudian memilih berjalan pelan tapi pasti menuju ruangan yang dimaksud Alma.
Alma sendiri masih stay ditempatnya, berusaha bersikap biasa saja menunggu aksi dari Deno selesai, namun baru saja Alma menikmati jusnya, Dia sudah menangkap pergerakan Diandra yang tampak berjalan keluar dari rumah.
"Mencurigakan," gumam Alma yang membuat Alma segera mengikuti Diandra.
Alma berjalan dengan cara menyelinap agar Diandra tidak sadar bahwa Alma tengah mengikutinya dari belakang.
Dan benar saja kecurigaan Alma, kini Diandra sudah berada di mobil yang dikendarai Alma, Dirga dan Deno tadi.
Rupanya dia menemui seseorang yang baru saja keluar dari kolom mobil itu, Alma semakin curiga, Diandra nampak berbicara pada orang tersebut kemudian memberikannya sejumlah uang yang Alma sendiri tidak tahun jumlahnya.
Menyadari bahwa Diandra baru saja menyuruh orang untuk memutuskan rem mobil Dirga, agar ketika mereka pulang, mereka akan celaka, membuat Alma tidak tahan.
Alma berjalan ke arah Diandra yang sedang membelakanginya, sesampainya di belakang Diandra, Alma segera menendang kedua sudut lutut Diandra yang membuat Diandra terjatuh dengan kaki ngilu.
"Kenapa, sakit?" tanya Alma jongkok dan menatap Diandra tajam.
"Kurang ajar, kamu!" Diandra yang masih dalam posisi terjatuh, hendak menampar Alma tetapi Alma segera menepis tangan Diandra.
"Jangan gunakan tanganmu untuk menyentuhku!" Alma meremas kencang pergelangan tangan Diandra yang membuat Diandra kembali mengeluh.
"Jangan ikut campur!"
"Kau sudah menabuh genderang perang dengan cara ingin menyakiti orang-orang yang aku sayangi, jadi jangan salahkan aku, jika aku jadi orang jahat terhadapmu."
Alma berbisik tajam yang membuat Diandra menatapnya tajam, bagaimana Alma bisa tahu rencana jahat Diandra pada mobil Dirga.
"Barangkali, kau lupa Diandra, akulah pemeran utamanya dan kau hanya figuran disini, kau bukan inti tapi hanya pelengkap, jadi jangan bertingkah seolah kau adalah pemeran utama."
Diandra merasa tertampar sekarang, bagi Alma, Diandra tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sewaktu dia melawan Ishaya dulu.
Jika dulu Alma pasrah, tapi tidak sekarang, dia sudah menjadi Alma yang terlatih untuk melawan orang yang berniat buruk padanya.
•
•
•
Assalamualaikum
jangan lupa like