Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 33. Hasil Yang Buruk


Alma kini tengah terdiam di hadapan sebuah brankar rumah sakit, suara-suara dari alat rumah sakit menjadi backsound hening nya.


Sudah lima jam dia berada disana namun Dirga tidak kunjung sadar, hatinya benar-benar tidak bisa menerima hal ini, dia tidak akan pernah memaafkan dirinya jika sesuatu terjadi kepada Dirga.


"Om, kok belum bangun, sih? Katanya Om cinta sama Alma," Alma mengusap air matanya yang terus jatuh dari sudut kedua bola matanya.


Hal ini benar-benar membuat batin Alma tersiksa, Deno.yang juga sedari tadi berada disana segera berjalan menghampiri Alma.


"Bu Alma, apa tidak sebaiknya Bu Alma pulang untuk beristirahat, biar saya yang menjaga Pak Dirga, disini," saran Deno yang membuat Alma menggeleng.


"Tidak Den, saya masih mau disini," jawab Alma yang membuat Deno menghela napas.


"Tapi Bu Alma, juga butuh istirahat," Deno memaksa karena kondisi Alma yang sudah sangat lelah.


"Bagaimana bisa saya istirahat, jika orang yang saya cintai dalam kondisi tidak baik-baik saja!" Alma sedikit membentak.


Namun bagi Deno bentakan Alma tidaklah terlalu keras melainkan hanya pelan di karena kan Alma memang tidak pernah membentak orang lain.


Deno memilih diam daripada berdebat dengan Alma, dia berjalan keluar kamar dan menunggu di ruang tunggu saja yang berada di koridor.


Kini di ruangan tersebut kembali Alma dan Dirga saja berdua, Alma meraih tangan Dirga dan mendekapnya, tangan dingin yang membuat Alma frustrasi sekarang.


"Om, bangun-"


Alma berucap lirih, namun penuh penekanan, dengan diiringi isakan tangis yang bagi siapapun pendengarnya akan merasa sakit hati yang sedang Alma rasakan.


Bagaimana bisa Alma tenang, jika Dirga saja belum membuka matanya dan menatap wajahnya atau sekedar menjawab segala pertanyaan Alma, apakah pernyataan cinta itu sungguhan atau hanya sekedar ilusi semata.


Sementara itu di ruangan Ishaya, seorang wanita yang tadi siang bersama Alma masuk kesana, dia adalah Daniah, dia baru saja melihat kondisi Arlan adiknya yang mengalami luka parah dan koma.


"Bagaimana sekarang, kau puas?" tanya Daniah mengambil kursi dan duduk di samping ranjang Ishaya.


Tak lama kemudian seorang dokter wanita lain masuk, dia adalah Gevanya, sahabat Alma dan Dikta.


"Dia parah?" tanya Daniah pada Gevanya.


Gevanya menghela napas, sedangkan Ishaya hanya mendelik tajam kepada mereka berdua. "Kalau kalian hanya ingin menghina lebih baik kalian pergi."


"Sudahlah Ishaya, dalam kondisi seperti ini saja kau masih sombong, turunkan nada bicaramu," Daniah mendesis.


Gevanya membuka sebuah kertas berisi hasil tesis ronsen yang dijalani Ishaya. "Ada kerusakan tulang ekor belakang pada Ishaya, yah mohon maaf aku harus mengatakan kau akan kehilangan kemampuan berjalan mu."


"Siapa peduli, aku masih bisa sembuh,"


"Aku lupa bilang, kalau ini permanen," lanjut Gevanya yang membuat Ishaya kesulitan menelan saliva-nya.


Kabar ini benar-benar membuat Ishaya syok, bagaimana jadinya jika dia tidak bisa berjalan sekarang, Daniah tersenyum puas, baginya ini setimpal.


"Kau tahu Ishaya, beberapa orang akan menerima Karma lebih cepat dari yang dia bayangkan, apa yang kau tanam itulah yang kau dapatkan," Daniah berjalan keluar dari ruangan tersebut bersama Gevanya.


Meninggalkan Ishaya sendirian disana frustrasi akibat hal ini.





TBC


Assalamualaikum


Maaf yah hari ini update dua bab kok, nanti malam up lagi.