Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 45. Saya Mau Kamu


"Saya tanya Alma, kenapa kamu tidak datang?"


Alma tidak menjawab, rasanya malas berbicara dengan Dirga, Alma merangkak berdiri kemudian mendorong Dirga.


"Om, ngapain lagi sih?" tanya Alma sinis.


"Ngapain?" Dirga melirik ke arah lain. "SAYA NYARIIN KAMU!"


Tempramen sekali pria satu ini, entah apa yang ada di isi kepalanya, Alma sendiri sudah muak dengan pola pikir Dirga.


"Setelah Om ngusir aku?" tanya Alma mendelik. "Ngelepasin aku, padahal baru kemarin loh aku minta kepastian dan Om bilang ngelepas aku, terus untuk apa aku datang lagi?"


"Ehm-"


Dirga tidak tahu harus menjawab apa, Alma mengambil tas-nya kemudian mendorong Dirga keluar dari kamarnya, dia juga ikut keluar.


Alma mengunci pintu kamarnya dari luar kemudian berjalan meninggalkan Dirga, tapi belum sempat karena Dirga malah menarik tangannya.


Seketika Alma terjatuh ke pelukan Dirga, Dirga menarik dagu Alma sehingga wajah mereka saling bertatapan.


"Kamu masih sekretaris saya."


"Sekarang Gak!"


"Kamu lupa?" Dirga mengangkat alisnya. "Deno!"


Deno yang di panggil segera berjalan ke arah Dirga, Alma terkejut sejak kapan Deno ada disana.


"Den?"


Alma tampak kecewa karena ternyata Deno yang memberitahu Dirga dimana dia berada, padahal setahu Alma, Deno adalah pria yang dapat memegang janji.


"Maafkan saya Bu Alma."


Deno menunduk penuh perasaan bersalah, sedangkan Dirga langsung mengode Deno.


Deno membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah proposal. "Dikontrak kerja Bu Alma, selagi Pak Dirga masih menjabat Bu Alma masih harus menjadi asistennya, dan kontrak kerja ini sudah berlaku sejak hari pertama."


Ah! Alma mendesah lemah, kenapa dia harus terikat begini dengan kontrak itu, Dirga melepaskan tangan Alma.


"Lagipula kamu yang tahu tender dengan Tuan Asgard jadi kami masih butuh kamu," jelas Dirga.


Alma tertawa kecut. "Jadi hanya karena tender ini?"


"Ehm-"


Dirga malu untuk mengatakan bahwa dia membutuhkan Alma sebagai sektetarisnya, apakah dia sudah candu dengan Alma sekarang.


"Saya kan sudah bilang, saya takut kehilangan kamu."


"Bullshit! Semua itu omong kosong Om!"


Untuk pertama kalinya Alma berkata kasar begini, dia berjalan meninggalkan Dirga yang membuat Dirga terdiam memaku.


"Mau kamu apasih?"


"Harusnya saya yang nanya, mau Om apa?" Alma membalikkan badannya.


"Mau saya yah kamu! Oke saya cinta sama kamu!" Andaikan kalimat ini keluar dari mulut Dirga sayangnya Dirga tidak punya keberanian untuk itu.


"Bawa Pak Dirga pulang Den, saya akan menyusul ke kantor nanti."


Deno yang membaca pesan itu langsung mengajak Dirga untuk pulang. "Pak sebaiknya kita pergi!"


Brak!


Dirga menendang pot bunga disekitarnya. "KENAPA DENO! KENAPA! KENAPA SAYA JADI PENGECUT?"


"Pak-"


"KENAPA SAYA TIDAK BISA MENGATAKANNYA!"


"Pak-"


"KENAPA?"


Bugh!


Deno memberi bogeman mentah kepada Dirga setidaknya agar atasannya itu bisa sedikit sadar, Dirga memegang pipinya kemudian menatap Deno.


"Sudah, kenapa, kenapa, kenapa, JAWABANNYA ADA PADA BAPAK SENDIRI!"


Deno kesal sendiri jadinya.


"Saya tidak punya keberanian Deno."


"Sekarang saya tanya, Pak, Bapak cinta sama Bu Alma?"


"Mungkin," jawab Dirga ragu.


"Bapak harus belajar romantis," tekan Deno yang membuat Dirga mengelak.


"Saran kamu tidak membantu, lebih baik kita pulang," jawab Dirga berjalan mendahului Deno.


Deno setres, setelah dibogem baru atasannya itu sadar atas kekeliruannya, kenapa percintaan atasannya begitu merepotkan.





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Masa sih kalian ga setuju visual om Dirga malah om Densu wkwkw sebelum novel ini rilis Visualnya memang Densu, tapi gini deh bayangin aja sendiri, visual dari author bukan patokan.



Kalau ini Deno.