
Arlan terdiam sesaat, ucapan serta ancaman Alma terasa menikam dirinya yang kini dalam keadaan posisi benar-benar tersudut.
Kini Arlan terdiam ragu, namun rencana yang sudah ia atur dengan Ishaya untuk mencelakakan Alma membuat Arlan tak gentar.
"Aku tidak ingin, aku sudah membesarkan perusahaan ini dan kau ingin mengambilnya kembali, tidak akan semudah itu, kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang di antara kita berdua," jawab Arlan kekeuh dengan pendiriannya.
"Kau sangat keras, dek, baiklah akan kita lihat besok, siapa di antara kita yang akan menang," Daniah berdiri mengajak Alma juga berdiri.
"Assalamualaikum," Alma berjalan menyusul Daniah yang berjalan keluar dari rumah Arlan.
Sedangkan Arlan dan Ishaya sendiri hanya saling melempar tatapan setelah kepergian Daniah dan Alma.
"Kita harus menjalankan rencana kita sekarang," ujar Arlan tiba-tiba.
"Jangan gegabah, setelah pulang dari sini, pasti Alma akan bersama Dirga, selama bersama Dirga kita tidak akan bisa menyentuh Alma, lebih baik kita ke apartemen Alma sekarang dan memata-matainya secara langsung," jawab Ishaya yang membuat Arlan mengangguk.
Mereka berdua kemudian berdiri dan berjalan keluar dari rumah menuju mobil mereka dengan tujuan apartemen Alma.
•
•
Setelah di antar Daniah ke kantor, Alma segera berjalan masuk ke area lobby kantor menuju ruangan Dirga karena dia tadi pergi tanpa izin kepada Dirga.
"Bu, Pak Dirga sedang mencari Bu Alma, katanya beliau ingin menemui Ibu di ruangannya."
Suara Deno asisten Dirga membuat Alma berbalik, tampak pria oriental jepang campuran ambon itu menatap Alma, Alma mengangguk. "Makasih Den."
Deno tersenyum kemudian berjalan pergi meninggalkan Alma, sedangkan Alma sendiri mempercepat langkahnya menuju ruangan Dirga.
Sesampainya diruangan Dirga, Alma segera mengetuk pintunya yang membuat Dirga bersuara dari dalam. "Siapa?"
"Alma Om, eh maksud saya Pak."
Alma hampir saja keceplosan memanggil Dirga dengan sebutan Om karena di kantor dia harus terbiasa bersikap formal dengan memanggil dengan sebutan Pak kepada Dirga.
"Masuk."
Alma segera membuka pintu ruangan Dirga ketika mendapat lampu hijau dari atasan atau Alma bisa menyebutnya calon suaminya itu.
"Kita hanya berdua disini, tidak usah bersikap formal begitu, iya saya manggil kamu, kenapa kamu ngilang pas jam kerja?" tanya Dirga yang membuat Alma kikuk.
Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia habis bertemu dengan Arlan untuk urusan persidangan besok pagi.
"A-aku ada urusan Om."
Mendengar jawaban itu membuat Dirga berdiri kemudian berjalan ke arah Alma, setiap detak langkah Dirga membuat Alma kaku sendiri.
Sang singa betina berubah menjadi kucing manis di hadapan sang pawang, Dirga berdiri tepat di hadapan Alma menatap Alma dalam. "Kamu tidak berbohong kan?"
Alma menggeleng. "Untuk apa saya berbohong, Pak."
"Wajahnya tidak bisa membohongiku Alma, saya tinggal bersamamu sejak kecil dan saya hapal betul ekspresi ketika dirimu berbohong, jujur saja."
Jleb!
Alma lupa, dari kecil Dirga memang tinggal bersama orang tuanya dan mandiri ketika Dirga meraih gelar sarjananya.
"Ada beberapa hal yang tidak perlu Om tahu."
Dirga tersenyum smirk. "Katanya kamu mau menjadi istri saya apapun keadaannya, nah sekarang landasan utama dari sebuah hubungan adalah saling jujur, kau ingin menyembunyikan rahasia dari calon suamimu ini?"
Ah! Alma tertekan, depresi dan kaku segala macam dihadapan Dirga, biasanya dia yang akan mengskatmat si dominan namun kali ini Dirga yang membalikkan kalimat Alma sewaktu di mobil tadi.
Alma bergetar sendiri jadinya.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like