Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 36. Kebusukan Ishaya


"Ishaya?"


Pria tersebut mengangguk, Alma terdiam sejenak, dia meraih ponselnya yang ada di nakas kemudian menelepon pihak ke polisian.


"Halo, saya ingin melaporkan pembunuhan berencana, ke rumah sakit xxxx segera."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alma berjalan ke arah Deno untuk memberinya isyarat. "Den, polisi sebentar lagi akan datang, usahakan pria ini dalam kondisi sadar dan tidak kabur untuk memberi penjelasan."


"Bu Alma akan melakukan apa?" tanya Deno pada Alma.


Alma tidak menjawab melainkan berjalan ke arah Dirga, Alma meraih tangan Dirga dan menggenggamnya erat. "Saya akan memberikan apa yang Ishaya pantas dapatkan."


Tak lama setelah itu, pihak kepolisian yang di panggil Alma sudah datang di rumah sakit.


"Bu Alma, anda tidak apa-apa? Kami sudah menerima laporan yang anda berikan," ujar polisi tersebut.


Alma mengenal polisi ini, dia adalah Sean kakak dari sahabatnya Dikta. "Kak Sean, tidak usah formal begitu, aku tidak apa-apa, tapi maaf kami berdua membuat dua orang lainnya tidak sadarkan diri, tapi mereka sudah mengaku siapa dalang dari semua ini."


"Siapa?" tanya Sean pada Alma.


"Ikut saya, Kak."


"Baik, kalian berdua tolong amankan yang tidak sadarkan diri," perintah Sean pada dua orang yang datang bersamanya.


"Siap ndan!" jawab mereka berdua serempak.


Mereka kemudian mulai mengamankan dua pria yang tidak sadarkan diri, sementara pria yang membuat pengakuan tadi ikut bersama Alma dan Deno beserta Sean menuju ruangan Ishaya.


Ishaya sedang berada di ruangannya dalam kondisi menanti kabar dari para anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencelakai Dirga dan Alma.


Namun ibarat harapan tak sesuai kenyataan, anak buahnya memang datang namun tidak sendiri melainkan dengan sosok Alma dan Deno bersama seorang Polisi yang tidak Ishaya kenali.


"Mau apa kalian kesini?" tanya Ishaya pada mereka.


Deno mendelik kesal dia rasanya sudah benci, muak dan jika saja negara ini bukan negara hukum dia ingin memberikan hal setimpal yang dilakukan Ishaya kepada Dirga.


Hubungan Dirga dan Deno memang hanya sebatas asisten dan majikan tapi Deno sangat menghormati Dirga yang dia pikir sudah sangat berjasa bagi dirinya.


Deno menekan buku-buku jari pria suruhan Ishaya kemudian melemparnya kedepan. "Katakan sejujur-jujurnya sekarang, atau aku akan membuat dirimu hidup di negara tanpa hukum."


Alma dan Sean saja bisa meneguk ludah atas suara berat Deno yang mengancam apalagi pria yang di ancam.


"S-saya bersama dua teman saya disuruh oleh Bu Ishaya untuk mencelakai Bu Alma dan Pak Dirga."


"Bohong, pasti ini akal-akalan kalian berdua kan?" Ishaya menolak dengan menunjuk Alma dan Deno.


"Bohong?" Deno mendekat ke arah pria tadi kemudian menatapnya tajam. "Jelaskan lagi."


Pria tersebut mengeluarkan uang dari saku celananya dan memberikannya kepada Deno. "Ini adalah uang bayaran yang diberikan Bu Ishaya kepada kami."


Glek!


"Saya juga punya bukti percakapan melalui pesan dengan Bu Ishaya."


Deg!


Kali ini Ishaya benar-benar tidak bisa mengelak semua bukti dan saksi sudah tertuju kepadanya, Alma berjalan ke arahnya kemudian menatapnya tajam.


Plak!


"Ini untuk orang yang aku cintai."


Alma memberikan tamparan telak ke pipi Ishaya yang membuat Ishaya meringis karena tamparan tersebut, tak lama kemudian, dua polisi yang tadi mengamankan dua penjahat lainnya datang.


"Amankan dia, Pak!"


"Bu Ishaya, anda kami tahan atas tuduhan pembunuhan berencana, segera ikut kami ke kantor." Sean memerintahkan kedua polisi lainnya menahan Ishaya.





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Duh puas banget rasanya~


Update lagi gak nih hari ini?