Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 53. Identitas Diandra


"Mau apa kau membawaku kesini?"


Arlan baru saja sadar dari pingsannya dan mendapati dirinya terikat di kursi kayu pada sebuah ruangan.


"Dan kenapa kau kembali lagi!?"


Diandra yang mendengar segala pertanyaan itu hanya tertawa sinis nan licik, dia tidak bisa menerima begitu saja kematian Ishaya.


"Orang tahu. Ishaya adalah anak tunggal, tapi kedua orang tuaku menutupi diriku dro umum dan memisahkan diriku, hanya Ishaya yang mengerti aku," jelas Diandra.


"Itu karena kau memiliki sikap temperamental makanya kedua orang tuamu mengasingkanmu!"


Prang!


Diandra melempar sebuah botol kaca ke lantai yang membuatnya seketika pecah berantakan.


"Apa yang kau mau sekarang?" tanya Arlan yang membuat Diandra berjalan ke arahnya.


Diandra meraih wajah Arlan kemudian mengelusnya perlahan. "Yang aku mau kau harus membantuku menghancurkan Alma dan Dirga."


Arlan meneguk ludah. "B-bagaimana caranya?"


"Pertanyaan yang bagus, Arlan," Diandra meraih sebuah cermin kemudian memperlihatkan wajah Arlan disana. "Coba tatap wajahnya untuk yang terakhir kalinya."


"Terakhir kalinya?"


"Iya, kau akan menjalani operasi plastik, mengubah wajahmu dan juga identitasmu, Arlan hm atau bisa aku sebut Albert?"


"Ah aku tidak mau."


"Kau tidak ada pilihan, namamu sekarang adalah Albert!" Diandra mencekik leher Arlan.


Seketika Arlan pingsan kembali, tampak dua orang suruhan Diandra membawa pergi Arlan ke sebuah rumah sakit untuk menjalani operasi plastik.


Sementara itu kini Diandra sudah siap dengan rencana berikutnya, menemui Alma dan Dirga.




"Kawasan cctv disekitar ruangan rawat Arlan sudah diretas jadi tidak jejak dimana Arlan pergi, tapi melihat kondisi kesehatannya, Arlan tidak mungkin pergi sendiri, dia pasti dibawa pergi oleh seseorang," ujar Sean menjelaskan.


Dirga dan Alma hanya menghela napas panjang, jika Arlan benar dibawa pergi, berarti mereka berdua harus waspada karena tidak menutup kemungkinan ada orang baru yang mengancam eksistensi mereka berdua.


"Pak, Kak, kayaknya kita harus kembali ke kantor klien baru kita sudah menunggu!" Suara Deno membuat Alma dan Dirga berbalik.


Mereka bertiga dengan mengendarai mobil Dirga pun segera bergegas menuju kantor Dirga.


"Bagaimana Deno, bahan presentasi hari ini sudah siap?" Dirga mencoba memastikan.


Deno membolak-balik dokumen tersebut kemudian mengacungkan jempol tanda bahwa semuanya aman-aman saja.


Alma sendiri sedang membuka lapton menyusun powerpoint seperti biasa dialah yang akan menjadi juru bicara.


Sesampainya di depan kantor, Dirga segera mememarkirkan mobilnya, Deno dan Alma turun duluan disusul oleh Dirga, mereka bertiga kini memasuki area lobby kantor.


"Klien sudah datang?"


"Iya, Bu Diandra sudah menunggu diatas," jawab Dinda yang ditanya oleh Dirga.


"Tunggu, Diandra?" Deno dan Alma saling menatap.


Mereka berdua teringat sesuatu, sosok yang pernah mereka temui sudah lama sekali, dan Dirga tidak tahu soal ini.


"Semoga, bukan dia," bisik Alma pada Deno.


Deno mengangguk, berharap yang sama, karena mereka berdua tahu siapa sosok Diandra itu, sewaktu mengecek profile data semenjak kematian Ishaya.


Alma dan Deno menemukan sebuah file berisi data tentang Diandra, kakak kandung Ishaya yang diasingkan karena catatan kriminalnya.


Jika ada sosok yang bisa mendukung Arlan, didalam pikiran Alma dan Deno, Diandralah orangnya.


Sesampainya di depan ruangan meeting, Dirga segera membuka pintu dan mendapati sosok Diandra yang merupakan kliennya.


"D-dia?"


Alma dan Deno gugup, itu adalah sosok Diandra yang mereka maksud.





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like