Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 51. Mas Dirga?


Sudah dua jam semenjak kepergian Alma, Deno dan Dirga masih dalam posisi yang sama duduk dilantai dalam keadaan diam, Deno ingin meninggalkan Dirga tapi dia tidak tega, Bos-nya itu berada di fase titik terendah dari hidupnya.


"Apa yang harus saya perjuangkan lagi?"


"Kalau bapak ingin berjuang, masih ada kesempatan."


"Mungkin melepaskannya adalah cara membuat dia bahagia," jawab Dirga yang membuat Deno menatap Dirga dalam.


"Melepaskannya bukanlah cara membuat dia bahagia, tapi mempertahankannya adalah cara yang paling mudah membuat orang bahagia, apakah Bapak masih belum sadar, kesempatan gak datang dua kali."


Deno berdiri dan hendak meninggalkan Dirga. "Untuk pertama kalinya saya kecewa sama Bapak."


"Untuk apa?"


"Dimana Pak Dirga yang hebat! Dimana Pak Dirga yang pemberani dan dimana Pak Dirga yang tegas dalam mengambil keputusan!"


Dirga terdiam, Deno menatap penuh emosi. "Kalau Pak Dirga begini terus, jangankan salahkan nanti bila Pak Dirga menyesal."


Deno berjalan keluar, Dirga segera berdiri kemudian menatap Deno. "Saya mau Den!"


"Mau apa?"


"Mau berjuang!"


"Kita susul ke bandara?" Deno tersenyum lebar.


"Apakah sempat?"


Deno melirik arlojinya kemudian memberikan jempol kepada Dirga. "Kita punya lima belas menit untuk berjuang."


Mendengar itu Dirga segera berlari keluar dari ruangannya menuju parkiran disusul oleh Deno, setelah sampai di parkiran Deno dan Dirga segera menyalakan mesin mobil yang dikendarai oleh Dirga.


Semua karyawan menatap atasan dan asisten ini, tapi mereka berdua tidak peduli.


"Bandara mana Den?"


"Bandara xxx Pak," jawab Deno membuka maps.


Dirga melakukan kendaraannya dengan kecepatan penuh didalam kepalanya kini hanya ada Alma dan dia harus memperjuangkan Alma, ditengah mobil Dirga yang melaju. Dirga sudah memasuki area padat kendaraan dimana mereka berdua malah terjebak macet.


"Bagaimana ini Den?"


Deno juga bingung sendiri, Dirga merotasikan matanya mencari sekeliling kemudian mendapatkan ide. "Tunggu disini Den!"


Dirga keluar dari mobil menuju beberapa ojek di pangkalan sana, dengan negoisasi serta Deno sebagai jaminan akhirnya Dirga mendapat pinjaman motor.


"Deno, kamu bawa mobil susul saya ke Bandara!"


Dirga melajukan motornya bukan di jalan raya tapi ditrotoar pejalan kaki karena jalan raya sudah penuh, masa bodo jika nanti Dirga ditilang, dengan melewati jalan-jalan tikus Dirga akhirnya bisa terlepas dari kemacetan dan berada di area yang renggang, Bandara sudah tidak jauh dari sana, Dirga semakin mempercepat laju kendaraannya.


"Tunggu, saya Alma."


Dirga tersenyum positif. "Calon suami kamu bentar lagi datang, sayang."


Tak lama kemudian Dirga sudah tiba di bandara, Dirga langsung membuang motor miliknya begitu saja dan masuk mencari keberadaan Alma.


Sontak Dirga menjadi pusat perhatian, tapi masa bodo dengan itu, Dirga mencari Alma sampai dia menemukan sosok berhijab kren itu dihadapannya.


"Alma!"


"Om?"


Dirga berlari ke arah Alma kemudian memeluknya dalam. "Kata kamu kalau istikharah ku tidak bisa menemukan mu, biar tahajjudku yang menyapamu."


"Saya cinta sama kamu Alma!" Dirga berucap lantang.


Alma terdiam, dia menatap Dirga dari bawah yang menangis karena takut kehilangan Alma.


"Om serius?"


"Mas serius dek, sangat serius, apakah pernah Mas seserius ini?" Dirga mengubah bahasa formalnya.


"Aku juga cinta sama Om Dirga."


"Panggil aku, Mas."


"Alma juga cinta sama Mas Dirga."


Dirga melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah Alma, ia menyatukan kening mereka dan menggesekkan hidungnya ke hidung Alma.


"Apakah pertanyaan kamu masih berlaku?"


"Halalkan atau Ikhlaskan?"


"Mas halalkan, kamu!"


Alma menghambur ke pelukan Dirga segala penantian ini sudah tidak sia-sia. Semuanya berakhir manis, Alma merasa bahwa kini dia sudah bahagia dan rasa-rasanya dia sudah menemukan tempat untuk pulang.