Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 42. Saya Ikhlaskan Kamu


Dirga terdiam, pertanyaan yang terlontar dari bibir Alma benar-benar membuatnya mati kutu, sedangkan Alma sudah tidak peduli sehabis ini dia akan dicap sebagai wanita yang ngebet untuk dinikahin, dia tidak peduli tentang ini.


Yang dia inginkan hanyalah kepastian dari sosok Dirga yang sudah memulai semua konflik ini.


"Kenapa harus pertanyaan itu Alma?" tanya Dirga menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Yang memulainya siapa?" tanya Alma balik yang membuat Dirga skatmat.


Rasanya Dirga sudah menyerah dengan perdebatan batinnya, kenapa begitu sulit rasanya.


Dirga menarik napas panjang. "Saya harus bagaimana?"


Pertanyaan bodoh yang dilontarkan dari mulutnya untuk situasi seperti ini. "Saya takut mengecewakan kamu Alma, maaf saya sudah membawamu dalam masalah seperti ini."


"Jadi?"


"Saya ikhlaskan kamu."


Deg!


Alma terdiam setelah mendengar itu, dirinya serasa tidak bisa lagi berkilah ataupun memberikan argumen dalam hal ini.


"Oh, oke."


Alma memang menginginkan kepastian tapi kenapa kepastian tentang penolakan itu melukai hatinya.


Alma berusaha menahan tangisnya, dia mencintai pria yang salah untuk kedua kalinya, mungkin?


Apalagi Dirga adalah cinta pertamanya dan dia mendapatkan penolakan di ungkapan kata pertama, baiklah untuk apa dia mengemis cinta dari Dirga, dia punya harga diri.


"Sebelum kita selesai, aku cuma mau bilang aku cinta sama Om, aku gak nuntut Om buat balas perasaanku, seenggaknya aku sudah jujur, makasih."


Alma meraih hendel mobil Dirga kemudian keluar dari mobil tersebut meninggalkan Dirga sendirian.


"Kenapa Dirga!" Dirga mengacak rambutnya sendiri dia tidak mengerti kenapa dia bisa berkata demikian.


Alma sendiri kini berjalan menjauh dari mobil Dirga, dirasa cukup jauh Alma langsung menangis saja dia tidak tahu bagaimana rasanya sekarang dirinya hancur mungkin.


"Alma?"


"Daren?"


"Kamu nangis, kenapa?" tanya Daren berjalan bersama seorang wanita yang menggendong anak.


"Eh, gapapa, mereka siapa Ren?" tanya Alma mengusap air matanya.


Pertanyaan mantan kekasih Alma itu seketika membuat Alma kikuk. "Dari ziarah juga, kalau begitu aku permisi yah."


"Assalamualaikum."


Alma berjalan meninggalkan mereka semua dan memilih ke jalan raya, Alma membuka ponsel kemudian memesan ojek online, bisa saja Alma memesan driver taksi tapi dia ingin ojek sekarang.


"Mbak Alma yah?"


Alma mengangguk saat ojek tersebut datang, Alma naik ke ojek tersebut dengan tujuan apartemen Dirga, yah dia tidak akan tinggal disana lagi, dia memilih mengemasi bajunya saja dan pergi.


Kan kontrak mereka sudah selesai duluan.


Alma masih menangis, entah kenapa angin sepoi-sepoi di jalanan membuat perasaan Alma semakin hancur, dia menangis perlahan sampai akhirnya dia tiba di apartemennya, Alma membayar lebih ojek tersebut karena membuat jaket sang ojek belepotan air mata.


Alma segera naik ke unit apartemennya, dengan langkah cepat dia masuk dan mendudukkan diri di sofa, dia menghela napas panjang sebelum beranjak ke kamarnya.


Alma memilih mengemasi baju-bajunya sekarang dan pergi hari itu juga, disaat tengah mengemasi bajunya Alma mendapati proposal kontrak mereka.


"Entah kenapa kita yang berawal dari kesepakatan harus berakhir perpisahan, dan kenapa harus ada perasaan?"


Srk!


Alma merobek proposal tersebut menjadi potongan kecil kemudian membuangnya di udara, frustrasi? Setidaknya itu kata yang tepat.


Haruskah Alma menangis sekarang.





TBC


Assalamualaikum


Jangan lupa like


Ngeselin banget Dirga~


Mampir ke Novel kakakku yah~