
"Turun disini Pak, Tunggu saya sebentar yah," Alma menghentikan taksi yang akan membawanya ke bandara di depan kantor Dirga.
Hari ini Alma akan berangkat meninggalkan kantor ini, tapi sebelum itu dia memilih untuk pamit kepada teman-teman kantornya.
"Bu Alma!" Resepsionis yang biasa bertugas di lobby segera berlari ke arah Alma yang baru masuk.
"Dinda," Alma memeluk Resepsionis itu, rasanya sudah seperti keluarga baginya.
"Bu Alma, beneran mau pindah?" tanya Dinda ~Resepsionis tersebut.
Alma mengangguk. "Iya ini mau pamitan sama kalian."
"Jadi sedih, Bu Alma baik banget sama kami semua walaupun cuma sebentar rasanya gak rela ngelepas Bu Alma."
Dinda menatap murung, Alma sedikit tersentuh tapi ini sudah keputusannya, tak lama kemudian dari lift keluar beberapa orang yang merupakan Divisi pemasaran, mereka semua sudah kenal baik dengan Alma.
"Bu Alma jangan pergi yah."
"Bu Alma disini aja. Jangan tinggalin kami."
"Bu Alma jahat."
Alma terdiam, mereka tersenyum kepada mereka kemudian memeluk mereka satu persatu, Alma juga berjalan ke arah Daren yang merupakan kepala divisi pemasaran.
"Ren, aku pamit yah."
"Dimanapun kamu. Aku bakal terus doain yang terbaik buat kamu Alma," jawab Daren memberikan jempol semangat.
Tak jauh dari sana Deno berjalan ke arah Alma dengan sedikit berlari setibanya di depan Alma dia menatap kesal Alma.
"Kenapa Den?"
"Bu Alma, jahat!" Deno melipat kedua tangannya.
"Maafin Kakak yah, Dek."
"Dek?" Mereka semua yang ada disana langsung menatap Alma dan Deno.
Mendengar itu membuat Deno langsung memeluk Alma, Alma membalas pelukan adek sepupunya itu, mereka memang sepakat menyembunyikan identitas mereka selama ini.
"Kak Alma kenapa sih mau pergi?" Deno sudah tidak bisa bersikap formal. "Aku gaada temen disini, Pak Dirga tuh ngeselin, aku gabisa sendiri."
"Kan selama ini kamu sendirian jadi asisten Om Dirga."
"Tapi sekarang rasanya beda," jawab Deno mengusap air matanya.
Alma menangkup pipi adiknya itu kemudian menatapnya dalam. "Kakak cuma mau pesan, kamu yang paling mengerti Om Dirga, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalin Om Dirga yah."
Deno bingung harus bereaksi apa sekarang, Deno hanya mengangguk, tak lama kemudian Alma segera pamit untuk menemui Dirga di ruangannya.
Dengan ditemani Deno, Alma segera berjalan ke arah ruangan Dirga setelah masuk ke dalam lift dan keluar dari lift.
Tok!
Tok!
Tok!
"Alma, Om."
"Masuk."
Alma membuka pintu ruangan Dirga, nampaknya Dirga masih malu dengan adegan mereka semalam sewaktu terjebak hujan, Alma berjalan ke arah Dirga yang kini menatapnya.
"Om, Alma mau pamit, makasih yah selama ini udah banyak bantuin Alma."
"Bantuin apa?" Dirga berdiri dan berjalan ke hadapan Alma yang tengah menatapnya serius.
"Intinya Makasih, Om!"
Grep!
Dirga memeluk Alma dalam yang membuat Alma terdiam. "Saya rasa ini adalah pelukan perpisahan."
"O-Om?"
Dirga melepas pelukan tersebut kemudian membalikkan badannya hendak membuang muka.
"Kalau gitu Alma, pamit yah Om," jawab Alma berjalan keluar dari ruangan Dirga.
Deno hendak menemani Alma tapi Alma mengode untuk menemani Dirga saja.
Setelah kepergian Alma, Dirga terjatuh di lantai dengan keadaan bersimpuh penuh penyesalan.
"Saya gagal, Deno."
"Bapak masih mau berjuang?"
"Saya gagal, Deno."
Deno ikut duduk disamping Dirga, dia paham bagaimana diposisi Dirga mengucapkan kata cinta itu memang mudah tapi melakukannya yang tidak semua orang bisa.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
Poor Dirga