Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 44. Kenapa Tidak Datang


"Pas yah Bu, satu juta lima ratus untuk sebulan, soalnya mungkin saya gak akan sampai sebulan disini."


Alma memberikan sejumlah uang sewa kepada pemilik kost-kostan tempat Alma akan menginap sekarang, cukup mahal tapi melihat fasilitasnya membuat Alma merasa ini impas.


Alma tidak perlu membawa apa-apa, didalam sana ada Ranjang, Tv, sofa, kamar mandi pribadi dan juga dapur mini untuk ukuran sebuah kamar, ini sepadan.


Setelah melakukan urusan transaksi, Alma bergegas menemui Deno yang ada di teras. "Den, Makasih yah, saya gatau harus bilang apa, kamu baik banget sama saya."


Deno tersenyum. "Sama-sama, Bu, kalau Bu Alma perlu apa-apa telpon saya aja."


Alma mengangguk, Deno kemudian pamit pergi, tapi sebelum Deno pergi Alma menggenggam tangannya sejenak. "Den, kalau Pak Dirga tanya saya tinggal dimana sekarang, kamu jangan bilang yah."


Deno terdiam, dia tidak pernah membohongi Dirga selama lima tahun menjadi asisten Dirga.


"B-baik Bu."


Alma melepas kepergian Deno, setelah Deno pergi, Alma berjalan masuk ke kamar kost-kostan-nya dia butuh waktu untuk menenangkan diri, disaat tengah merebahkan badannya Alma meraih ponselnya.


Alma memijit layar ponsel tersebut mencari kontak seseorang kemudian menghubunginya.


"Halo, Daniah, aku butuh tiket untuk keluar kota, tujuanku xxxx sekarang, besok adalah sidang perceraian terakhir dan aku ingin meninggalkan kota ini."


Setelah mengucapkan kalimat itu Alma tampak membicarakan hal yang lain lagi, setelah selesai berbicara Alma mematikan sambungan tersebut dan mulai terlelap.




"Kenapa Alma tidak masuk kekantor Den?"


Pertanyaan dari Dirga membuat Deno terdiam, apa yang harus Deno katakan sekarang, Deno tampak gugup.


"S-saya tidak tahu Pak, Bu Alma hanya menitipkan kartu akses itu lalu pergi."


Deno berbohong sesuai janjinya kepada Alma, pagi ini Dirga sudah kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa tender sebelum dia meninggalkan perusahaan milik orang tua Ishaya.


Dirga menarik bahu Demo agar menatapnya lebih dalam, dia sadar ada kebohongan di wajah asistennya itu.


"Deno, ayo katakan yang sejujurnya."


"Sa-saya sudah jujur Pak."


"Yakin?"


Deno terdiam.


"Kita sudah lima tahun bersama Deno, saya hapal betul kamu tidak bisa membohongi saya, tapi kenapa raut wajah kamu mengatakan bahwa kamu sedang membohongi saya?"


Ah Deno tertebak, Atasannya itu memang pandai menebak raut wajah seseorang, Deno menunduk tidak berani menatap Dirga.


"Saya sudah berjanji, Pak."


"Katakan dimana Alma."


"Saya kekasihnya Deno, saya berhak tahu!"


"Kekasih? Setelah Pak Dirga melepasnya begitu saja?"


Untuk pertama kalinya Deno melawan ucapan Dirga, Deno agak kesal sendiri, bukankah Dirga yang melepas Alma kenapa dia masih menyebut dirinya kekasih.


"Dia masih se-kre-ta-ris saya, Den!" ujar Dirga penuh penekanan.


Deno menyerah, dia menarik napas panjang. "Ikut saya, Pak."




Alma tengah terduduk didalam kamar kost-an mencari info pekerjaan untuk dirinya ketika pergi nanti.


Dia sudah bulat, dia ingin meninggalkan kota ini beserta kenangannya, Alma menggulir ponselnya namun terhenti saat mendengar suara ketukan.


Alma berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Siapa?"


"Pak Dirga!"


Alma hendak menutupnya lagi, tapi kaki Dirga langsung menahannya, Alma gagal, Dirga masuk ke dalam dan mendorong Alma.


Dug.


Alma terjatuh ke lantai, Dirga segera mendekatkan badannya sehingga jarak mereka begitu dekat.


"Kenapa kamu tidak datang?"


Suara napas Dirga begitu berat.





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Visual Dirga dan Alma: