
Sinar matahari pagi menyinari melewati dari balik jendela kamar Irene. Mata Irene terbuka karena silaunya cahaya mentari.
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian mendebarkan itu berlalu. Dan sejak saat itu pula, Irene tinggal dirumah orangtuanya.
Betapa terkejutnya mama Ayu setelah tahu apa yang terjadi. Kemudian sikapnya semakin overprotektif pada Irene.
Irene sudah mengira sikap mamanya akan seperti itu. Dan dia juga gak ambil pusing karena orangtuanya masih mengizinkan Yohan untuk datang mengunjunginya.
Tok.. Tok.. Pintu kamar Irene diketuk dari luar.
"Irene.. Sudah bangun belum? Ayo sarapan dulu.." ucap ayah Yanto dari pintu.
"Iya yah.. Irene udah bangun.." jawab Irene yang langsung bangun meninggalkan kasurnya yang empuk.
Jam dinding sudah menunjukkan hampir jam 10 pagi. Orangtua Irene tak pernah mempermasalahkan Irene yang bangun kesiangan dari dulu kecuali saat ia masih sekolah.
Irene duduk di meja makan setelah mencuci muka.
"Ma.. Nanti Yohan mau jemput Irene buat ambil gaun untuk dipakai besok.. Irene boleh keluar rumah kan?" Irene mencoba sedikit merayu mamanya.
"Hah.. Apa boleh buat.. Mama izinkan karena itu memang penting," jawab mama Ayu pasrah karena keadaan.
Irene tersenyum senang sambil memakan roti selai strawberry. Akhirnya setelah 2 minggu terkurung dirumah ia bisa keluar hari ini.
Setelah menghabiskan sarapannya, Irene bergegas mandi dan bersiap. Sesuai janjinya, Yohan datang tepat waktu menjemput Irene.
"Irene.. Yohan udah nungguin dibengkel itu," mama Ayu masuk ke kamar Irene.
"Iya ma.. Ini udah selesai kok," Irene merapikan peralatan make up nya dan berjalan keluar rumah.
Dibengkel Yohan dan ayah Yanto tengah asyik mengobrol membahas sejenis motor.
"Ayo berangkat sayang.." ucap Irene.
"Ayo.. Ma.. Ayah.. Saya bawa Irene pergi dulu ya," pamit Yohan dengan sopan.
"Iya.. Hati-hati dan jangan pulang malem-malem ya.." jawab mama Ayu yang masih mengkhawatirkan putrinya.
Yohan dan Irene pun berangkat menuju butik untuk mengambil gaun pesanan mereka.
***
Sesampainya dibutik Irene mencoba fitting bajunya sekiranya ada yang kurang.
"Bagaimana sayang? Cocok gak?" tanya Irene sekeluarnya dari ruang ganti.
Yohan menatap dengan wajah tersipu Irene dengan gaun warna sage yang cocok dengannya.
"Cantik.." jawab Yohan malu-malu.
"Beneran?" Irene menatap dirinya lagi dicermin, "Sayang.. Bukannya kamu juga mau beli setelan?"
"Iya.. Aku sudah mencocokkan ukurannya tadi.. Sayang.. Kenapa gak sekalian aja mencoba gaun putih itu.. Kelihatan cocok denganmu," ucap Yohan sambil matanya menunjuk gaun putih yang dipajang manekin.
"Ini gaun keluaran terbaru dari desainer kita tuan dan nona.. Apakah mau dicoba sekalian?" ucap karyawan butik yang mendampingi mereka.
"Hiishh.. Gak ah.. Yang nikah kan Shasha sama Kevin.. Kenapa jadinya aku yang malah fitting gaun pengantin," Irene menjawab setengah berbisik pada Yohan.
"Kan gak ada salahnya dicoba dulu.. Aku pengen liat," Yohan mencoba membujuk Irene.
"No.. No.. Udah aku mau ganti baju dulu," Irene berlalu meninggalkan Yohan yang sedikit kecewa.
***
Keesokan harinya di venue wedding Shasha dan Kevin melangsungkan pernikahan.
"Kenapa direktur hanya sendirian? Dimana nona Irene?" tanya Farhan yang menggendong putrinya didampingi istrinya.
"Dia sedang menemani pengantin wanitanya.. Dia kan jadi Bridesmaids hari ini.." jawab Yohan sedikit jutek.
"Tampaknya suasana hati direktur kurang baik hari ini.. Hohohoho.." ucap Nita istri Farhan setengah menyindir.
"Hei.. Hei.. Apa-apaan ini.." Yohan setengah panik menggendong baby Fanny yang masih polos itu.
"Lihat papa sama mamamu meninggalkanmu tanpa rasa berdosa,, ckckck.." gerutu Yohan.
Untungnya baby Fanny begitu penurut digendongan Yohan. Sesekali orang-orang datang untuk memuji keimutannya.
"Loh.. Anak siapa dia?" ayah Yanto tampak kaget melihat calon menantunya menggendong bayi.
"Em.. Oh.. Ini anaknya Farhan yah.." Yohan gelagapan karena sedikit kaget dengan kehadiran orangtua Irene.
"Ya ampun.. Kawai ne.. Ayo ikut oma.." mama Ayu merebut baby Fanny dan menggendongnya.
"Nak Yohan.. Mama juga mau yang kayak gini.." ucap mama Ayu sambil menempelkan pipinya dipipi baby Fanny yang tertawa.
Seketika wajah Yohan dan ayah Yanto memerah.
Tak lama kemudian acara pernikahan Shasha dan Kevin berlangsung dengan khitmad dan lancar.
Setelah melalui semua prosesi pernikahan, satu persatu tamu undangan mengucapkan selamat untuk kedua mempelai diatas panggung.
Irene yang sedari tadi sibuk menemani Shasha dan melakukan tugasnya sebagai bridesmaid akhirnya selesai. Ia menghampiri Yohan dan mengajaknya mengucapkan selamat untuk kedua mempelai.
"Kekkon omedetou !! Selamat ya sahabat-sahabatku semoga ini menjadi awal kebahagiaan kalian," Irene memeluk Shasha dan Kevin bersamaan.
"Makasih ya Ren," ucap Shasha penuh haru dan juga Kevin yang kalah terharunya.
"Selamat ya buat kalian berdua," ucap Yohan menjabat tangan Shasha dan Kevin bergantian.
"Thanks ya pak bos udah datang," Kevin tersenyum lebar menyambut tangan Yohan.
Yohan dan Irene turun dari panggung.
"Sayang.. Maaf ya ninggalin kamu dari tadi.. Kamu pasti bete ya??" ucap Irene.
"Gak kok.. Ada Farhan dan juga istrinya.. Dan juga ada baby Fanny.." jawab Yohan menunjuk kearah Farhan.
"Aah.. Aku belum kenalan dengan istrinya pak Farhan," Irene menghampiri Farhan dan istrinya.
Mereka saling berkenalan dan mengakrabkan diri.
"Baik.. Tamu hadirin sekalian.. Sekarang kita dipenghujung acara yaitu melempar buket bunga.. Bagi teman-teman kedua mempelai yang masih jomblo nih.. Dapatkan keberuntungan kalian hari ini.." ucap pemandu acara pernikahan.
Sontak semua teman-teman Shasha dan Kevin saling merampatkan barisan dibelakang kedua pengantin yang bersiap melempar buket bunga. Termasuk Yohan dan Irene.
"Satu.. Dua.. Ti...ga..." pemandu acara dan semua yang hadir kompak memberikan isyarat.
Bukannya melempar justru Shasha berbalik dan menyerahkan buketnya pada Irene sahabat tersayangnya.
"Harus nyusul ya.. Secepatnya!!" ucap Shasha yang memutar badan Irene kebelakang.
Yohan sudah berlutut sambil membuka kotak cincin yang sudah disiapkannya.
"Irene Yamasaki.. Will you marry me?" ucap Yohan penuh harap.
Irene terkejut dan terharu dengan kejutan yang tak disangkanya itu. Semuanya terdiam menunggu jawaban dari Irene.
"Yes.. I do.." Irene menyerahkan tangan kanannya dan segera Yohan menyematkan cincin dijari manis Irene dan mengecup tangannya.
Sorak sorai tamu undangan memecah ketegangan Yohan dan Irene. Bukan hanya Shasha dan Kevin yang berbahagia akan tetapi Yohan dan Irene tak kalah bahagianya hari ini.
.
.
~my imagination of cast for Shasha and Kevin..
Aku bayangin Natasha Wilona sama Aliando yg pas main series ini kyk cocok aja mereka.. Hehe