
Irene duduk bersimpuh memuntahkan isi perutnya. Keadaannya tampak berantakan dan wajahnya pucat.
"Irene.. Kamu baik-baik aja.. Huh?" Yohan panik bukan kepalang.
Irene masih muntah-muntah dan menangis sesenggukan.
Tak berselang lama Irene pun pingsan tak sadarkan diri. Beruntung Yohan sigap menangkap tubuh Irene.
"Cepat telpon ambulance.. Kita bawa Irene kerumah sakit," suara Yohan bergetar ketakutan.
"Jangan bro.. Jangan bawa Irene kerumah sakit.." cegah Kevin.
"Apa maksud loe??! Irene kayak gini.. Dia harus kerumah sakit," ucap Yohan setengah berteriak.
"Irene punya trauma soal rumah sakit, jadi dia gak bisa dibawa kesana.. Aku akan hubungi Shasha dan dokter yang menangani Irene dulu.. Kamu bawa Irene kelantai 2 cafe.. Oke.." Kevin bergegas melakukan panggilan telepon menggunakan ponselnya.
"Loe hutang penjelasan soal ini bro.." ucap Yohan.
Kevin hanya mengangguk.
Yohan bergegas menggendong Irene menuju lantai 2 cafe Kevin.
Yohan menidurkan Irene di sofa. Raut wajahnya begitu cemas dengan kondisi Irene saat ini.
"Irene.. Apa yang terjadi sebenarnya?" Yohan mengelus pipi Irene dengan lembut.
Farhan yang baru tiba menemui Yohan juga tampak khawatir.
"Kenapa gak dibawa kerumah sakit?"
"Sepertinya Irene punya kenangan buruk dirumah sakit kita.." jawab Yohan lirih, "Farhan.. Tolong kamu awasi dokter Jerry itu!! Apa penyelidikannya masih belum ada hasilnya??!!!"
Setelah menunggu hampir setengah jam, dokter yang dipanggil Kevin datang. Dokter itu langsung memberikan penanganan. Dia memasang infus dan menyuntikkan obat penenang untuk Irene.
Tak berselang lama Shasha pun juga sampai.
"Irene.. Irene.. Semua baik-baik aja ya.. Semua baik-baik aja," Shasha tak kuasa menahan tangisnya sambil mengenggam tangan Irene.
"Aku udah kasih obat penenang.. Mungkin 2-3 jam lagi Irene baru bangun.. Aku akan meresepkan obat lagi buat Irene.." kata dokter tersebut.
"Bukankah Irene sudah stabil selama 2 tahun ini,, bahkan dia sudah berhenti minum obat,"
"Si br*ngs*k Jerry itu tiba-tiba muncul lagi," ucap Kevin mengepalkan tangannya dengan geram.
"Feeling gue udah gak enak pas dia tiba-tiba dateng ke acara lamaran gue kemaren.. Dan akhirnya jadi begini kan.." Shasha menatap Irene tak tega.
"Tapi sepertinya 2 orang ini gak tau situasi yang terjadi saat ini ya?" dokter itu menunjuk Yohan dan Farhan yang sedari tadi diam menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Saya Raditya.. Dokter psikiater yang menangani Irene dulu dan saat ini.." dokter Radit mengulurkan tangannya pada Yohan.
"Yohan.. Pacar Irene.." jawab Yohan penuh penekanan.
"Pacar? Haha.. Sudah 2 tahun Irene tidak konsultasi lagi dan aku hanya menanyakan kabarnya aja selama itu.. Gak ku sangka Irene punya pacar," ucap dokter Radit.
Yohan menatap Shasha dan Kevin. Seperti sudah mengerti Kevin merangkul pundak Shasha. Kevin mengajak mereka semua duduk dan mulai menjelaskan.
"Gue gak tau ini benar atau gak bro.. Sebenarnya bukan ranah gue untuk bercerita.. Tapi loe udah lihat Irene seperti itu 2 kali dan loe pasti makin penasaran sekarang kan.." Kevin mulai bercerita.
Yohan hanya diam saja menyimak.
"Kejadiannya 6 tahun lalu.. Saat aku dan Irene coass bareng di rumah sakit YS Group.." Shasha menyambung ceritanya.