
Irene masih menggeliat diranjangnya yang empuk. Semalam dia sulit tidur karena teringat tingkah Yohan.
"Ada apa sama tuh cowok? Kenapa akhir-akhir ini dia jadi aneh ya?" gumam Irene.
"Gue lebih aneh.. Kenapa gue gak tidur mikirin tuh cowok.. Aneh kan anda wahai nona Yamasaki Irene," Irene seketika bangkit dari tidurnya.
Irene mengambil ponselnya dan takjub dengan notifikasi pesan dan panggilan masuk tak terjawab yang membludak.
Memang sejak kemarin dia tak terlalu peduli dengan ponselnya. Karena ia terlalu kaget tiba-tiba diajak ke Bali. Dan terlalu terbawa suasana dan asyik bermain di pantai.
Irene membalas pesan dari Shasha dan Kevin di grub chat. Dan kemudian menelpon mamanya.
"Halo ma!"
"Kamu lagi dimana sekarang? Udah makan? Jangan lupa bersihin kontrakannya lo ya.. Anak gadis jangan jorok-jorok.." ucap mama Ayu dari balik telepon dengan gaya cerewet ala emak-emak.
"Iye.. Iye.. Udah mamaku yang Ayu dan cantik.." jawab Irene yang sudah terbiasa dengan omelan mamanya itu.
"Mama mau ke kliniknya Shasha hari ini sekalian mampir ke kontrakan kamu. Mama bawain stok lauk juga," kata mama Ayu.
"Aku lagi gak dirumah ma. Mama nanti masuk aja trus taruh dikulkas ya,"
"Kamu lagi dimana emangnya sekarang?"
"Lagi di Bali sama Yohan.. hehehe.."
"Hati-hati anak prawan mama ya.. Trus kapan kamu ajak Yohan kerumah?"
"Yohan sibuk ma. Nanti kalau jadwalnya senggang kita kesana ya.."
"Haiish.. Bilangnya sibuk tapi bawa anak gadis orang sampai ke Bali," kata ayah Yanto yang ternyata ada disamping mamanya sedari tadi.
"Hehehe.. Iya.. Iya yah.. Akhir pekan ini kita kesana ya.. Aishiteru ayah.."
"Ya udah kalian hati-hati.. Kamu juga jaga diri lo ya Ren.. Mama tutup dulu telponnya.. Bye bye.."
"Bye.. Bye.. Eemmuuacchh"
Panggilan teleponnya berakhir.
Irene merasa beruntung mempunyai orangtua seperti mama Ayu dan ayah Yanto. Meskipun mama Ayu sedikit cerewet dan ayah Yanto yang sedikit overprotektif dulunya. Tapi Irene sangat menyayangi mereka dan tak ingin membuat mereka sedih.
Tok..tok..tok
"Siapa?"
"Ini aku Yohan," Yohan menjawab dari balik pintu.
Irene membuka pintunya. Yohan berdiri dengan gaya pakaian kasual saat ini.
"Kamu cocok pake baju kayak gini," goda Irene.
"Emang biasanya gak cocok?" Yohan mengerutkan dahinya.
"Cocok sih buat gaya kantoran. Tapi kan kita sekarang lagi healing..." ucap Irene dengan ceria.
"Ayo kita makan keluar. Sekarang sudah hampir jam makan siang," ajak Yohan.
Yohan memang sengaja tak membangunkan Irene untuk sarapan. Semalam Irene sudah berpesan akan tidur lebih lama karena terlalu kelelahan.
"Bagaimana kalo ke Taman Dedari?" usul Yohan.
Mata Irene berbinar-binar mendengarnya dan bergegas berangkat.
...****************...
"Waah.. Suasananya iconic banget ya," kata Irene bersemangat sesampainya mereka di Taman Dedari.
Patung-patung bidadari dari yang kecil sampai terbesar menghiasi setiap sudut restoran. Alunan musik khas Bali menambah damai suasana.
"Kita pesan menu apa?" ucap Yohan yang memandangi buku menu ditangannya.
"Terserah!" Irene tak begitu peduli dan masih asyik memandangi pemandangan yang memanjakan matanya. Beberapa kali juga dia memotret dengan ponselnya.
"Gak ada menu terserah disini," jawab Yohan dengan gaya tegasnya.
"Haiish.. Apa aja yang kamu pesan aku makan kok," Irene menjawab dengan ketus karena kesal Yohan mengganggu kesenangannya.
"Loh.. Kak Yohan kan?" kata seseorang wanita dengan paras anggun dan cantik menyapa.
Irene dan Yohan menengok hampir bersamaan.
Yohan menatap gadis itu dan teringat kalau dia adalah wanita yang ditemuinya pada salah satu kencan butanya. Sarah si pianis muda saat itu.
"Oh.. Nona Sarah, apa kabar?" Yohan balas menyapa.
"Kabarku baik kak.. Kakak sedang liburan ya?" ucap Sarah ramah.
"Iya.. Apa anda juga sedang berlibur?" Yohan terlihat tak nyaman tapi tetap harus menjaga kesopanannya.
"Iya kak.. Aku sedang mempersiapkan konser soloku.. Karena ini yang pertama aku sedikit stress dan terlalu gugup.. Mama menyarankanku untuk pergi ke Bali supaya pikiranku sedikit tenang," Sarah menjelaskan.
Irene yang sedari tadi memperhatikan mereka tampak sedikit badmood.
Siapa nih cewek? Masih muda, cantik, masa pak bos seleranya yang bening-bening polos kayak gini,
Batin Irene menggerutu. Ia berusaha mengatur ekspresinya.
"Kakak akan datang ke konserku kan?" tanya Sarah penuh harap, "Konsernya 3 hari lagi, aku berharap kakak menyempatkan waktu sibuk kakak untuk datang sebentar".
"Iya.. Akan ku usahakan," jawab Yohan seadanya.
"Syukurlah.. Kalau begitu aku permisi ya kak, teman-temanku sudah menunggu disana," Sarah berpamitan dan berlalu meninggalkan meja Yohan dan Irene.
Wait.. Wait.. Kayaknya dari tadi aku jadi manusia transparan ya..
Batin Irene sedikit kesal menerima kenyataan.
Yohan menatap Irene yang wajahnya terlihat kesal meskipun ia berusaha menutupinya.
"Setelah makan, kita pergi ke mana enaknya?" tanya Yohan mencoba mencairkan suasana kembali.
"Terserah!" jawab Irene cuek.
"Terserah lagi??!" Yohan sedikit jengkel.
Yohan mencoba menahan kesabarannya dan menghela nafas.