
Irene menarik lengan Yohan dan membawanya menuju balkon yang sepi usai makan malam. Irene sudah menahan sedari tadi amarahnya.
"Yohan.. Apa ini semua??? Bukankah hubungan kita cuma kontrak? Kok jadi kayak gini sih??" Irene sedikit menekan nada bicaranya.
Wajah Irene cemas tak karuan. Entah itu bingung dan masih tak mengerti.
Yohan memengang tangan Irene mencoba menenangkannya.
"Calm down okay.. Aku akan jelasin.." Yohan menarik nafas dan menghembuskannya, "Sejujurnya aku beneran suka sama kamu Irene.."
"Ya?" Irene masih tak percaya dengan yang didengarnya.
"Jangan bercanda deh.. ha.ha..haha.." Irene mencoba melepas genggaman tangan Yohan.
Yohan semakin mengeratkan genggamannya dan menatap Irene serius.
"Aku gak pernah bercanda Ren.. Aku beneran suka sama kamu".
Irene melihat keseriusan dalam ucapan Yohan dan dari tatapan matanya.
"Se..sejak kapan?" tanya Irene ragu.
"Aku gak tau.. Semua mengalir begitu aja. Mungkin sejak kita bertemu.. Karena kamu menarik perhatianku saat itu," jawab Yohan sedikit malu.
Wajah keduanya memerah dan jantung mereka berdebar kencang.
"Lalu kontraknya.."
"Lupakan kontraknya Ren.. Aku mau menjalin hubungan lebih serius daripada kontrak sialan itu.." Yohan memotong ucapan Irene.
"Dan apa kamu ingat ini?" Yohan menyodorkan foto dua anak kecil yang didapatnya saat berkunjung dirumah Irene saat itu.
Irene tak asing dengan foto itu dan menatap Yohan lekat-lekat.
"I..ini.." Irene tak melanjutkan ucapannya karena masih tak percaya dengan apa yang diingatnya.
Ingatan masa kecil yang terlupakan olehnya. Saat itu Irene masih berumur 5 tahun. Dan hanya mengingat samar-samar.
Yohan tersenyum karena Irene sudah mulai mengingat kejadian itu dan ingin menggodanya.
"Bukankah sekarang kamu harus tanggungjawab.."
"Tanggungjawab apaan??" Irene tak mengerti.
"Aku kan udah dilamar duluan, dan aku udah memenuhi janjiku juga, jadi..." Yohan merangkul pinggang Irene dan posisi mereka berdekatan sekarang, "Apa tuan putri tak ingin memakai mahkota saat kita menikah nanti?"
"Apaan sih.. Itu kan ucapan bocil 5 tahun.. Masa' kamu anggap serius sekarang," Irene mencoba melepaskan diri. Yohan melepaskan tangannya dan duduk dibangku yang tersedia dibalkon itu.
"Kamu percaya yang kayak gitu?" sindir Irene.
"Hemm.. Percaya gak percaya sih.. Tapi aku ingin memastikan perasaanmu Ren.. Apa kamu gak suka sama aku?" tatapan mata Yohan tak lepas menatap Irene.
"A..aku.. Bukannya gak suka juga sih.." jawab Irene sedikit ragu.
Yohan tersenyum dan menarik tangan Irene dan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Irene.
Irene sedikit canggung tapi entah mengapa sekarang dia tak ingin menolak skinship dari Yohan.
"Jadi.. Apa Irene juga merasakan apa yang kurasakan? Rasa nyaman dan ingin selalu bersama," Yohan mencium tangan Irene.
Wajah Irene memerah dan panas.
"Hei.. Wajahmu merah kayak kepiting rebus sekarang.. Kamu tau itu?" Yohan menggoda Irene.
"Ih.. Enggak ya.." Irene mencoba melepaskan diri tapi ditahan oleh Yohan.
"So.. Jawabanmu apa Ren?"
"Aku.. Aku.. Ehmm.. Aku juga suka.." Irene memalingkan pandangannya karena merasa malu.
Setelah beberapa waktu yang dilaluinya bersama Yohan. Irene tak bisa memungkiri kalau dia juga merasa nyaman dengannya dan itu cukup menjelaskan kalau dia juga punya perasaan yang sama dengan Yohan. Apalagi mengingat fakta kalau mereka sudah pernah bertemu bahkan saling berjanji saat masih kecil.
Yohan menarik pelan wajah Irene untuk menatapnya.
"Ren.. Tatap aku sekarang.. Dan katakan lagi.. Please.." Yohan memohon dengan lembut dan mesra.
Irene memberanikan dirinya menatap wajah Yohan.
"Aku.. Aku juga suka sama ka.. Hhmmm.." Irene belum selesai dengan pernyataannya tapi Yohan sudah mengecup bibir Irene.
Irene tak menolak dan membalas ciuman Yohan.
Suara decapan bibir dan nafas yang panas dari dua insan yang baru saja menyatakan perasaan masing-masing.
Pikiran keduanya seakan kosong dan hanya fokus saling menikmati bibir dan lidah masing-masing.
Nafas mereka terengah-engah setelah ciuman panas itu selesai.
Dan saat pikiran mereka kembali, mereka tersenyum bahagia dengan perasaan lega.
Perasaan yang terbalas satu sama lain.