
Setelah 2 malam menikmati kedamaian di Bali. Yohan dan Irene kembali ke Jakarta. Yohan yang harus menyibukkan diri kembali dikantor. Dan Irene yang juga harus mulai kembali bekerja di cafe.
Sekedar pemberitahuan, setelah kejadian di Taman Dedari itu kunjungan mereka ke destinasi wisata lain terasa hambar dan biasa saja. Irene yang tampak badmood dan Yohan yang tak mengerti dengan sikap Irene yang berubah.
"Nih! Oleh-oleh.." kata Irene menyodorkan paperbag pada Kevin dengan nada ketus.
"Apa nih?" Kevin melihat isinya yang ternyata pia khas Bali.
Irene berlalu mengerjakan tugasnya. Sesekali Irene berhenti untuk berteriak lalu bekerja lagi. Ada kalanya ia menghela nafas panjang bahkan bergumam sendiri.
Kevin yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Irene sambil menikmati pia keheranan sendiri dengan tingkah kawannya itu.
Kevin menelepon tunangannya Shasha dan berbicara setengah berbisik.
"Yank.. Si Irene kayaknya kesambet leak abis pulang dari Bali.. Kok gue takut ya." ucap Kevin sedikit merinding.
"Irene kenapa emang yank?" Shasha bertanya tak mengerti.
"Gak tau yank.. Dia jadi aneh.. Marah-marah gak jelas trus kadang ngomong sendiri.. Hhiiii..." Kevin semakin merinding.
"Lagi dapet mungkin.. Nanti sepulang dari klinik aku ke cafe.. Awas jangan dihabisin pia nya," Shasha mengakhiri teleponnya.
***
Dilain tempat dikantor Yohan. Yohan masih merenungkan dan galau memikirkan Irene.
Farhan yang sudah terbiasa dengan perubahan sikap Yohan ini pun tak kaget lagi.
"Kali ini ada apa lagi? Bukannya kemaren kalian abis liburan dari Bali?" tanya Farhan.
"Aku masih gak ngerti.. Kenapa Irene jadi tak banyak bicara dihari terakhir kita di Bali kemaren ya??" Yohan balik bertanya.
"Memangnya sejak kapan dia begitu? Coba loe ingat-ingat.." Farhan tampak santai menanggapi kawannya itu sambil melihat kertas-kertas file ditangannya.
Yohan mencoba mengingat-ingat.
"Dia berubah jadi tenang dan diam setelah makan siang di Taman Dedari... Oh.. Disana aku sempat bertemu nona Sarah," gumam Yohan mengingat-ingat.
"Iya.. Saat itu dia menyapaku dan memintaku lagi untuk datang ke konser solonya," Yohan menjawab tanpa beban.
Farhan hanya geleng-geleng mendengar fakta ceritanya. Farhan yang sudah beristri pasti tau perubahan sifat wanita dari hal yang sepele.
"Hah.. Intinya loe gak peka bro! Coba loe minta maaf ke Irene.. Aah.. Minta maaf juga pasti gak mempan," Farhan mulai memutar otaknya.
"Haah.. Weekend ini gue mau ketempat orangtuanya. Gue harap bisa merebut hati orangtuanya... Bokapnya keliatan nyeremin," ucap Yohan sedikit merinding teringat ayah Yanto yang mengancamnya diacara lamaran Shasha & Kevin.
"Oh ya.. Loe udah baca file tentang Irene kan? Ayahnya orang jepang bro.. Eheem.. Mantan yakuza.." kata Farhan menakut-nakuti.
Yohan bergidik dan dalam hatinya berkata, "Pantas aja ada aura nyeremin waktu bertemu saat itu".
Yohan membuka file lama hasil investigasi Irene. Dan mulai mempelajari silsilah keluarganya.
"Loe udah tau bro kalo orangtua Irene ada hubungan dengan keluarga gue?" tanya Yohan memastikan.
"Saat gue cari tau,, iya memang mereka berhubungan cukup dekat," jawab Farhan.
"Ibu Irene bernama Ayu Astuti kelahiran Bandung.. Dia satu angkatan dengan nyonya besar alias nyokap loe Ibu Adinda Ayu.. Dan sama-sama pernah bekerja sebagai perawat dirumah sakit YS Group. Ibunya Irene resign karena alasan menikah dan ingin fokus jadi ibu rumahtangga".
Yohan menyimak penjelasan Farhan.
"Lalu ayahnya Irene.. Pak Yanto.. Nama asli jepangnya Yamato Yamasaki... Salah satu anggota yakuza.. Emm.. Tepatnya dia salah satu anak pemimpin yakuza berpengaruh di jepang.. Tapi dia kabur saat waktunya suksesi pewaris. Dan entah detailnya seperti apa dia bertemu ibu Ayu dan menikah. Kalo tidak salah pak Yanto juga pernah jadi bodyguard presdir selama 2 tahun".
"Hemm.. Kenapa namanya udah keren Yamato diganti jadi Yanto.. Kampungan banget," komentar Yohan.
Farhan memicingkan matanya, "Hei.. Gitu-gitu calon mertua loe.. Bukannya hal ini lebih mudah buat loe deketin Irene".
"Betul bro.. Gue deketin orangtuanya sambil terus coba menarik hati Irene," Yohan tersenyum smirk.
"Jangan terlalu terburu-buru bro.. Kalo yang gue liat, Irene seperti trauma dengan sebuah hubungan.. Loe harus bantu sembuhin traumanya itu," Farhan memberi saran.
Yohan kembali termenung dan berpikir kira-kira apa yang membuat Irene trauma. Dan dia ingin mengenal Irene lebih dalam lagi.