Contract Dating (Pacaran Kontrak)

Contract Dating (Pacaran Kontrak)
44. AFTER DATING


"Hihihihi.. " Irene tak hentinya senyum dan tertawa cekikikan membalas pesan dari Yohan.


"Mulai membucin nih yee.." goda Shasha yang sedari tadi memperhatikan Irene sampai bete sendiri.


"Gimana dong Sha.. He's my destiny.. Hhmm..." ucap Irene sambil memeluk guling erat-erat.


Saat ini Irene menginap dirumah Shasha. Shasha tak bisa kemana-mana karena dipingit sebelum acara pernikahannya.


Sudah sebulan berlalu sejak Yohan dan Irene saling mengungkapkan perasaan mereka. Hubungan mereka pun semakin dekat. Yohan selalu menyempatkan bertemu dan berkencan dengan Irene. Si gila kerja yang dulu sudah bukan julukannya lagi sekarang.


"Anyways seriusan nih loe lagi dipingit dan gak boleh keluar rumah Sha..??" tanya Irene kepo.


"Iyee.. Loe tau kan keluarga Kevin masih percaya sama tradisi atau beginian.. Mau gak mau ya gue harus nurut lah.." jawab Shasha sedikit bete.


"Trus.. Gue sama Yohan nanti juga kayak kalian gini Sha??" Irene panik membayangkannya.


Shasha yang melihat sahabatnya bertingkah lebay seperti itu menatap dengan tatapan sinis dan melempar bantal ke Irene.


"Why? Why??" Irene yang masih bingung tambah makin dibuat kebingungan.


"Gak usah lebay.. Kalian baru aja jadian dan yang lebih penting nih.. Kalian harus lebih saling mengenal satu sama lain sebelum menikah.. Jadi gak usah buru-buru," Shasha menasehati Irene yang masih polos itu.


"Aah.. Jadi itu salah satu alasan loe sama Kevin pacaran sampek 5 tahun.. Hehehehehe.." Irene menggoda Shasha.


Shasha mengangguk setuju, "Yups.. Betul!! Meskipun kita udah tau perasaan suka, cinta dan sayang masing-masing.. Tapi untuk kejenjang pernikahan, hati dan mental kita juga harus matang.. Dan banyak yang harus dipersiapkan".


Irene mengangguk mengerti dengan penjelasan panjang Shasha.


Irene mendengarkan cerita Shasha tentang hubungannya dengan Kevin. Semalaman kedua sahabat itu kembali bernostalgia ke masa-masa dulu. Dan Shasha memberikan wejangan untuk Irene tentang hubungan percintaan dari pengalamannya.


*


*


*


"Jadi, semalam kalian begadang sampai lupa kencan kita hari ini?" Yohan fokus menyetir mobil dengan ekspresi wajah yang suram.


"Gak lupa sayang.. Cuma telat bangun aja kok.. Udah dong jangan ngambek lagi.. Huhm?" Irene membujuk Yohan yang mengambek karena sempat lupa waktu janjian mereka hari ini.


Mobil berhenti saat lampu merah, dan dengan cepat Irene mencium pipi Yohan.


Yohan kaget bukan main dan wajahnya memerah seperti mau meledak.


"Ka..kamu ini ya.." Yohan mencubit pipi Irene gemas.


"Aaww.. Udah donk.. Iya janji gak bakal telat lagi," Irene mengenggam tangan Yohan yang kemudian Yohan mencium tangan Irene.


"I love you sayang.." ucap Yohan dengan tangan Irene yang diberada dipipinya sekarang.


"I love.....


TIIINNNNN... TIIIIINNNN...


Hari ini Yohan mengajak Irene ke Dufan. Setelah membeli tiket mereka berdua memasuki arena taman bermain.


Yohan menatap Irene yang tampak begitu bersemangat sekarang.


"Kita mau naik wahana apa dulu sayang?" tanya Yohan.


"Hemm.. Aku bingung.. Aku udah lama gak ke Dufan.. Hehehehe.. Ayo kesana sayang.." Irene berlari kearah wahana zig-zag.


Yohan mengejar Irene lalu mengenggam erat tangan Irene.


"Jangan dilepas.. Kalo ilang kan bahaya.." ucap Yohan sambil menyeringai.


"Hei.. Aku bukan anak kecil pa.. Sayang.." hampir aja Irene mengucap paman karena udah terbiasa kalo kesal.


Kedua sejoli itu bergantian menaiki wahana satu persatu. Seakan waktu hanya milik mereka berdua.


Langit sudah mulai berganti senja. Irene dan Yohan beristirahat dibangku sambil menikmati churros yang mereka beli.


"Haa.. Hari ini seru banget deh.. Iya kan sayang.." ucap Irene yang masih bersemangat meskipun sedikit lelah.


Yohan yang sudah lesu dan kelelahan hanya mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya.


"Hhmm.. Perutnya masih mual kah?" Irene mengkhawatirkan Yohan yang muntah-muntah setelah menaiki wahana tornado tadi.


"Udah baikan kok sayang.. Kita begini dulu sebentar ya.." Yohan menyandarkan kepalanya dipundak Irene.


Irene tak menolak dan pengelus kepala Yohan.


"Sayang.." ucap Irene.


"Hhmm?" jawab Yohan.


"Soal pernikahan.. Aku gak mau buru-buru.. Kita jalani dulu dan saling mengenal satu sama lain.. Gimana menurutmu?"


Yohan kembali duduk dengan posisi benar dan menatap Irene. Yohan memegang tangan Irene lembut ke pipinya.


"Iya.. Kalo itu maumu kita jalani seperti sekarang.. Nanti aku akan jelaskan ke orangtua kita ya.. Sayang.." ucap Yohan mencoba memahami keinginan Irene.


"Makasih ya sayang.." Irene memeluk Yohan.


Yohan membalas pelukan Irene dan mengecup keningnya. Tapi Yohan tersadar kalau ia harus secepatnya jujur dengan rencana kedepannya. Rencana yang mungkin bisa membahayakan Irene.


"Sayang.." ucap Yohan sedikit ragu.


"Iya?" jawab Irene yang masih dalam pelukan Yohan.


"Aku mau jujur soal sesuatu.. Apa kamu mau dengerin??"


Irene melepaskan pelukannya dan menatap Yohan dengan mata yang penuh tanda tanya.