
Yohan menatap layar laptopnya menonton video rekaman cctv rumah sakit.
"Hah.. Ini tidak bisa jadi bukti yang kuat," keluh Yohan dengan kesal.
"Dibangsal VIP memang sedikit dipasang cctv demi menjaga privasi pasien naratama, jadi kita tak akan menemukan bukti apapun. Kurasa Jerry cukup cerdas mengetahui situasi dan kondisi saat itu," ucap Farhan.
"Kalian tenang aja.. Gue nemuin sesuatu yang menarik," ucap Koji anggota tim IT perusahaan yang juga hacker terbaik yang dimiliki YS Group.
Koji melihatkan layar laptopnya pada Yohan dan Farhan.
Ekspresi Yohan berubah senyum penuh kemenangan.
"Bagus!! Aku akan tambahin bonus buat kamu nanti.. Minta ke Farhan.. Oke!" Yohan menepuk pundak Koji penuh bangga.
"Anda sangat tau yang paling saya suka direktur Yohan.. Money.. Money.. Money.. Hehehheehe" Koji senang bukan main.
"Orang kalo udah busuk mau punya segudang prestasi dan pencapaian tetep busuk juga," Farhan tak habis fikir dengan Jerry.
"Dia itu psychopath sekretaris Farhan.. Dari informan ini dia udah terkenal suka gonta ganti cewek sejak kuliah.. Cuma ketutup aja sama image dia," Koji menjelaskan informasi yang ia dapat.
"Ah.. Gue punya ide.. Loe Koji.. Cari informasi tentang cewek-cewek yang pernah tidur sama dia.. Setahuku dia udah punya tunangan sekarang.. Korek informasi juga soal itu," perintah Yohan.
"Siap bos!" Koji dengan semangat menerima perintah Yohan. Karena dia sudah tau pasti akan dapat bonus besar.
Yohan sedikit lega dengan kekuatan dan posisinya bisa membantu Irene.
"Tapi.. Apa Irene akan senang kalau aku nglakuin ini tanpa persetujuan darinya? Kalau dia malah menganggapku terlalu ikut campur gimana ya??"
Batin Yohan sedikit bimbang dengan rencananya ini.
"Apa aku harus kasih tau Irene soal ini bro?" Yohan meminta pendapat Farhan.
"Saran gue sih.. Iya," jawab Farhan, "Kan loe juga mau lebih dekat sama Irene bro.. Loe harus mulai terbuka juga".
"Dalam hubungan itu yang terpenting komunikasi bro.. Kayak loe udah menjalankan perusahaan ini.. Bukankah komunikasi yang baik dengan klien juga penting.. Begitu juga dengan hubungan pasangan bro," lanjut Farhan memulai pidatonya.
Yohan mengangguk mengerti mendengarkan nasehat dari kawannya itu.
"Bro.. Loe mau bonus juga? Atau mau libur sehari?" Yohan dengan santainya berucap.
"Gue orang yang serakah.. Gue mau dua-duanya!!" jawab Farhan tegas.
Yohan tak bisa berkutik dan akan menurutinya demi mempertahankan kinerja Farhan.
Ponsel Yohan berdering. Yohan melihat nama Irene dilayar ponselnya.
"Irene.. Ada apa menelpon?" gumam Yohan.
"Ehemm.." Yohan berdehem sebelum mengangkat teleponnya, "Halo.."
"Halo.. Yohan ya.. Kamu lagi kerja ya?" suara Irene dibalik telepon.
"Iya.. Ada apa Irene? Kamu udah baik-baik aja?" tanya Yohan memastikan keadaan Irene.
"Aku baik-baik aja.. Kok kayak tau aku abis sakit? Kamu stalking aku ya? Katamu udah gak ada spy lagi.."
"Enggak.. Kan wajar aku tanya keadaanmu kan.. Aku tadi salah ngomong aja.. Kamu baik-baik aja ya udah.." Yohan lupa kalau ia harus merahasiakan kedatangannya dicafe kemarin.
"Weekend ini kita ketemu kan?"
Yohan tersipu, "Iya.. Atau hari ini juga kita bisa ketemu".
"Kita dinner bareng nanti, gimana?"
"Oh.. Ehm.. Ya boleh aja sih,"
"Nanti aku jemput.. Ya udah kamu hati-hati kerjanya.. Bye.." Yohan mengakhiri teleponnya.
Dicafe Irene keheranan dengan ajakan Yohan.
"Kok wajahku panas ya.." gumam Irene mengkipas-kipaskan tangannya kewajah, "Jakarta panas uuy.."
Malam harinya sesuai kata Yohan menjemput Irene.
"Kamu pengen makan dimana?" Yohan tengah fokus menyetir mobilnya.
"Gak masalah kalo aku yang pilih?" Irene menatap Yohan.
"Gak masalah. Dimana aja aku mau," jawab Yohan santai.
"Ituuuu.. Aku mau makan disana," tunjuk Irene ke warung pecel lele dipinggir jalan.
"Ka.. Kamu yakin mau makan disana?" Yohan sedikit ragu.
"Yakin lah.. Aku sering makan diwarung pinggir jalan.. Kenapa? Bos gak pernah makan disana ya?" goda Irene.
"Jujur aja.. Aku belum pernah," jawab Yohan sedikit malu mengakuinya.
Irene tak begitu terkejut karena wajar saja anak bos besar seperti Yohan mana mungkin makan makanan pinggir jalan.
Yohan memarkirkan mobilnya dipinggir jalan dekat warung. Mereka berdua berjalan beriringan masuk kewarung.
"Mas.. Saya pesen pecel lele nya satu.. Gorengnya yang krispi ya.. Ehm.. Kamu mau lele juga?" Irene menatap Yohan yang sedari tadi wajahnya agak tegang.
"No.. No lele!!" ekspresi Yohan ketakutan.
Irene tersenyum smirk.
"Kamu gak suka lele atauuu takut lele?" Irene semakin ingin menggoda Yohan.
Yohan yang tak bisa berkutik lagi hanya bisa memahan malu sekaligus rasa takutnya.
"Actually.. Aku pobhia sama lele," Yohan memalingkan wajahnya karena malu.
Irene dan mas-mas penjaga warung tak kuasa menahan tawanya.
"Pfft.. Trus kenapa kamu iya iya aja aku ajak makan kesini?" Irene terus saja menggoda Yohan.
"Kamu kan mau makan kesini. Lagi pula menunya juga gak cuma lele kan.." Yohan membela diri.
"Hehehehe.. Ya udah.. Mas pecel lele nya 1 ayamnya 1 ya.. Minumnya es teh 2," Irene memesan makanannya.
"Siap neng!" jawab mas penjaga warung kemudian dengan gercep menggoreng dan menyiapkan pesanan.
Irene masih gak menyangka aja Yohan mau menurutinya makan makanan di warung pinggir jalan. Irene menatap Yohan dan memperhatikan gaya pakaiannya. Setelan jasnya sungguh gak cocok dengan suasana warung.
Yohan menarik dasinya karena tak nyaman. Dan melepas jasnya.
Irene terpesona melihat Yohan dengan gerakan seperti itu. Mata mereka bertemu dan dengan sigap Irene memalingkan pandangannya.