Contract Dating (Pacaran Kontrak)

Contract Dating (Pacaran Kontrak)
21. MULAI TERBUKA


Didepan resort Irene menarik tangan Yohan dan berbisik.


"Yohan.. Aku gak bawa baju ganti.. Kamu sih tiba-tiba bawa aku ke Bali".


Yohan tersenyum gemas melihat Irene.


"Kamu tenang aja," jawab Yohan santai.


Kemudian seorang staf wanita menghampiri mereka.


"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" ucapnya dengan sopan.


"Tolong kamu temani tamu saya ini dan penuhi kebutuhan dia selama disini," perintah Yohan.


"Baik tuan muda.. Mari nona, saya akan menunjukkan kamar anda," staf itu mengajak Irene untuk mengikutinya.


Irene pun menurut saja dan berjalan mengikuti staf itu.


Setelah makan malam, Yohan dan Irene kembali menikmati suasana malam di pinggir pantai.


Yohan membawa beberapa cemilan dan kaleng bir. Mereka duduk menatap laut dan langit yang penuh bintang.


"Haaahh.. Sungguh pemandangan yang indah," ucap Irene.


"Pemandangan kayak gini gak bisa kita temui di Jakarta kan?" kata Yohan sependapat dengan Irene.


Irene mengangguk setuju.


"Bukannya sekarang kamu lagi sibuk ya? Kenapa kamu repot-repot bawa aku jalan? Ke Bali pula.." Irene menggerutu.


"Aku kan juga butuh refreshing.. Aku cukup meng impose tubuh dan pikiranku berlebihan akhir-akhir ini," Yohan menjelaskan.


Irene mengangguk mengerti sambil meneguk birnya.


"Kemarin itu aku kacau banget ya.. Haha.." ucap Irene.


Yohan memandang Irene. Irene pun memandang Yohan.


Yohan ingin bertanya tapi ia tahan. Dia akan menunggu Irene sendiri untuk bercerita.


"Kamu pengen denger ceritaku?" kata Yohan kemudian.


"Cerita tentang apa?" tanya Irene penasaran.


"Tentang aku.. Ceritaku," kata Yohan.


Irene memandang Yohan bersiap mendengar cerita Yohan.


"Aku udah sekolah di Amerika sejak SMA sampai kuliah.. Lalu setelah lulus kuliah aku mengambil alih cabang perusahaan yang ada disana sambil belajar tentang kemanajemenan lebih dalam," Yohan memulai ceritanya.


"Di Amerika aku tidak ada waktu untuk sekedar bersenang-senang apalagi menjalin hubungan. Pikiranku dipenuhi ambisi untuk lebih sukses dari papaku," Yohan tersenyum kecut.


"Aigoo.. Bukankah hidupmu sangat membosankan?" komentar Irene merasa kasihan.


"Gak juga. Tentu saja aku mencari hobi yang lain. Aku belajar golf dan berkuda," kata Yohan sembari meneguk birnya.


"Apa keluargamu yang menyuruhmu bekerja keras seperti itu? Sepertinya mereka bukan tipe strict parent.." Irene mengingat-ingat wajah orangtua Yohan.


Yohan tersenyum, "Itu kemauanku sendiri".


Irene tak lepas memandang Yohan. Angin laut berhembus menerpa rambutnya membuat Irene terpesona.


"Apa kamu sudah tau kalau mama Ayu bukan mama kandungku?" tanya Yohan.


"Aku sedikit tau dari berita dan kalian memang gak mirip saat bertemu waktu itu," jawab Irene dengan polosnya.


Yohan tertawa dan mulai bercerita lagi.


Irene mengangguk memahami cerita Yohan.


"Apa hubunganmu dengan mama kandungmu baik?" tanya Irene.


"Dulu aku sangat membenci mamaku dan juga papaku pastinya. Dulu aku masih kecil dan mereka slalu sibuk bekerja dan pulang hanya untuk bertengkar. Itu membuatku muak.. Haha.."


"Ya mungkin lebih baik mereka bercerai bukan?"


Irene hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.


"Sekarang hubunganku bisa dibilang baik bisa dibilang tidak juga," kata Yohan.


"Hhmm.. Kok bisa gitu?" Irene masih tak mengerti.


"Mungkin kami hanya saling bertanya kabar saja. Aku juga gak berniat menemuinya,"


"Are you happy now? " tanya Irene sambil menyodorkan kaleng birnya untuk melakukan tos.


" A little.. Maybe.. " Yohan membalas tosnya dan mereka meneguk bir masing-masing.


"Mama Ayu sepertinya mama yang baik. Bukankah begitu?" tanya Irene kemudian.


"Iya.. Dia mama yang baik. Dia tak hentinya mencoba mendekati aku lebih dulu dan slalu memberikan perhatian lebih meskipun kami tak sedarah," kata Yohan.


"Hey.. Hubungan keluarga itu tak harus sedarah," ucap Irene.


"Iya aku setuju," kata Yohan, "Saat aku di Amerika justru mama Ayu dan Yonna adikku yang sering mengunjungiku".


"Oh iya.. Bukannya Yonna adikmu minggu ini mau kompetisi dance?" ucap Irene teringat hal itu.


"Benarkah? Mungkin aku gak bisa datang karena cukup sibuk," jawab Yohan tanpa beban.


"Haiissh.. Pantesan kamu dapet julukan gunung es sama balok es. Hal simple kayak gini aja kamu cuek. Kasih perhatian dikit kek ke adikmu," gerutu Irene.


"Aku bisa memberi Yonna kartu untuk membeli hadiahnya sendiri nanti," ucap Yohan santai.


Irene hanya geleng-geleng sambil berdecak.


"Aigoo.. Aigoo.. Gak semua hadiah itu berupa uang atau barang mewah tau," ucap Irene mulai menasehati.


Yohan mendengarkan Irene.


"Kamu harus tau kesukaan adikmu apa. Dan hadiah itu bukan hanya berupa barang," kata Irene.


"Lalu apa?" tanya Yohan penasaran.


"Waktu!" Irene tersenyum dengan yakin.


Yohan hanya mengerutkan dahinya masih belum paham.


"Luangkan waktumu untuk orang-orang yang kamu sayangi juga termasuk hadiah loh," ucap Irene sambil memandang Yohan.


Mereka saling memandang satu sama lain.


"Apa semua wanita juga berpikir seperti itu?" tanya Yohan yang pandangannya tak lepas dari Irene.


Irene mengangguk, "Setahuku kebanyakan begitu".


"Kalau kamu? Apa kamu juga berpikir begitu?"


"I..iya," jawab Irene mengalihkan pandangannya dan meneguk birnya sampai tetes terakhir.


Wajah Irene memerah dan memanas hanya karena memandang Yohan.