ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
150. FOTO USANG.


Aldo tiba-tiba merasa panik melihat kearah istrinya. Ia benar-benar takut bila Gisel sampai stres mendengar berita yang baru saja mereka lihat dan dengar bersama dalam tivi.


Apalagi setelah melihat Gisel tersenyum-senyum sendiri membuatnya semakin panik dan takut kalau istrinya itu terpukul mendengar berita tadi, hingga bisa mempengaruhi kesehatan Gisel dan juga calon bayi mereka.


"Sayang! Apa kamu tidak apa-apa!" ucap Aldo sesaat sambil memegangi tangan istrinya dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kalau kamu mau membeli perusahaan milik keluargamu itu, Aku akan membelikanya untukmu! Tapi tolong jangan seperti ini sayang!. Kamu harus kuat jangan sampai Kamu stres sehingga membuat kesehatanmu drop dan mempengaruhi bayi yang ada dalam kandunganmu ini." ucap Aldo yang masih terus saja mengkhawatirkan keadaan Gisel dan mengelus lembut perutnya milik istrinya itu.


Gisel tiba-tiba memalingka wajahnya kearah Aldo dan mengeryitkan dahinya sesaat sebelum ia berbicara.


"Idiii....Siapa juga yang stres, ada-ada saja dhe! masalah seperti ini sudah biasa bagiku bahkan cobaan lebih parah dari ini sudah jadi makan keseharianku jadi, Kanda tidak usah terlalu mengkhawatirkanku. Aku akan selalu menjaga diri dan juga menjaga buah hati kita. Soal membeli perusahaan itu, Kanda tidak usah melakukanya karna Aku tidak mau orang-orang seperti mereka itu menikmati sepersen pun uang dari milik kita. Cukup sudah mereka menikmati keuntungan perusahaan milik Ibuku selama bertahun-tahun lamanya. Jadi aku akan mengambil semua hak yang sudah menjadi hakku selama ini." ucap Gisel masih dengan nada santai walau dalam suasana serumit itu.


"Bagaimana bisa Dinda mengambil perusahaan itu tanpa harus mengeluarkan uang sepersen pun!. Ini dunia bisnis sayang tak mungkinlah orang akan dengan muda memberikan perusahaan miliknya begitu saja tanpa mengeluarkan uang. Walau kita tahu dulunya itu memanglah perusahaan Nenekmu." balas Aldo masih heran dengan jalan pikiran Gisel.


"Ceo sekelas dan sehebat seperti Kanda saja buntu dengan jalan pikiranku, apa lagi Ceo macam Hambali. Ikut saja dalam permainanku maka, semua tanda tanya dalam pikiran kanda akan terjawab dengan sendirinya. Ayo antar Aku ke kantor pelelangan itu, dan akan ku perlihatkan cara meratakaan orang-orang sombong seperti mereka itu dengan tanah sehingga, mereka takkan sanggup lagi bangkit seperti sediakala." ucap Gisel menarik tangan Aldo untuk bangkit dari tempat duduknya.


"Tapi sayang! Kami lagi hamil besar takutnya terjadi apa-apa denganmu dan juga bayi kita disana." ucap Aldo sedikit menarik tanganya dan menghentikan langkah Gisel.


" Ini kesempatan terakhir sayangku. Bila Aku tidak merebut dan mempermalukan mereka hari ini. Maka perusahaan itu jatuh di tangan orang lain. Aku tidak mau lagi keluarga Hambali itu menikmati sepersen pun dari jeripaya Ibuku. Lagian Ada kamu bukan! tak mungkin sesuatu terjadi padaku jika ada Ceo tampan, terkenal tersohor dan terkaya berdiri di sampingku." ucap Gisel sedikit mengedipkan matanya kearah Aldo sehingga membuat Aldo menarik alis dan bibirnya sedikit keatas.


"Ah kamu ini, pandai sekali merayuku. Baiklah, kamu tunggu sebentar disini biar aku mengambil jaketku dulu lalu kita berangkat ke kantor pelelangan itu." ucap Aldo menuju kearah lemari pakaian dan mengambil sebuah jaket kulit dari dalam sana.


Gisel hanya tersenyum melihat tingkah laku suaminya itu.


Setelah merasa cukup keduanya pun bergegas keluar dari dalam kamar dan melangkah kearah pintu keluar.


Sementara itu di kediaman Hambali. Tampak sebuah mobil mewah memasuki halaman luas rumah mewah tersebut.


Mobil mewah itu berhenti tiba-tiba di depan pintu masuk.


Tanpa mematikan mesin mobilnya terlebih dulu, sang pengemudi keluar dari dalam sana dengan wajah begitu pucat.


Ya siapa lagi kalau bukan Hambali. Pria parubaya itu tampak begitu pucat. Ada kekhawatiran begitu mendalam pada raut wajahnya.


Hambali berlari kecil menuju kearah pintu masuk kemudian ia menuju kearah ruang tamu.


Para pelayan saat itu tidak berani menyapanya karna melihat raut wajah pria parubaya itu kurang bersahabat.


Mendiamkannya adalah cara satu-satu untuk mencari aman dari kemarahan majikanya itu.


"Tina, Dewi, Dimana kalian!" Teriak Hambali dengan nada yang cukup nyaring hingga membuat pelayan yang ada disana sontak kaget dibuatnya.


Karna tidak ada jawaban, kembali Hambali berteriak untuk yang kedua kalinya.


Karena Tidak ada jawaban, Hambali begitu geram. Pria itu mengambil kursi yang terbuat dariplastik yang ada dalam ruangan itu dan memukulkanya ke atas meja ruang tamu yang terbuat dari kaca trasfaran.


Sekitika itu juga meja ruang tamu itu becah. Serpihan kacanya berhamburan diatas lantai.


"Sial..." ucap Hambali membating kursi yang masih ada di tanganya kearah lantai hingga kursi plasti itu memantul jauh dan mengenai benda-benda yang ada di sekitaran sana.


"Hay ..kamu kemari." teriak Hambali memanggil seorang pelayan yang sedari tadi berdiri dan terdiam di tempat itu.


"Ba ..baik Tuan."balas Pelaya wanita tersebut sambil terbata-bata mendekat kearah Hambali.


"Dimana Tina dan Dewi?. Kenapa mereka tidak membalas panggilanku." bentak Hambali kepada pelayan wanita itu.


"Maaf Tuan! Nyonya Tina dan Nona Dewi tidak ada di sini. Mereka berdua sejak tadi pergi sambil membawa koper dan beberapa tas milik mereka.Kalau tujuan mereka pergi Saya tidak tahu Tuan karna Saya tidak berani bertanya pada Nyonya dan Nona kemana meraka akan pergi ." balas Pelayan wanita tersebut sambil menundukkan kepalanya sakin takutnya menatap wajah Hambali.


Hambali sedikit mengeryitkan dahinya mendengar penuturan pelayan tersebut.


"Apa? Pergi! Jangan- jangan apa yang Aku dengar tadi pagi benar adanya." ucap Hambali berlari menuju ke kamar miliknya.


Dan tidak lama kemudian, Tampak dalam kamar tersebut sudah acak-acakan. Beberapa pakaian berhamburan di atas lantai dan diatas tempat tidur.


Hambali berlari kearah brankas. Dengan cekatan tanganya menekan beberapa tombol untuk membuka kunci dari brankas tersebut.


Matanya tebelalak, jantungnya berdetak kencang setelah melihat isi dalam brangkas tersebut sudah dalam keadaan kosong.


"Sial perempuan itu sudah mengambil semua surat-surat penting serta saham yang Aku punya. Awas saja kalau dia sampai macam-macam denganku akan kupatahkan lehernya." ucap Hambali menendang berangkas besi tersebut hingga sedikit mengeluarkan bunyi.


Hambali bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat kearah lemari pakaian milik Tina. Ia berharap ada sesuatu atau petunjuk di mana perempuan itu sedang berada supaya mempermuda ia untuk menemukannya.


Hambali membuka lemari baju milik Tina dan lagi-lagi yang didapatkanya dalam keadaan kosong. Semua benda milik perempuan itu sudah tidak tersisa dalam sana.


Hanya selembar kain saja yang tersisa sebagai pengalas pakaian agar baju yang terletak di dalam lemari tersebut tidak bersentuhan langsung dengan lantai dalam lemari itu.


Hambali menarik lembaran kain itu dengan sangat kasar hingga beberapa Foto usang berhamburan diatas lantai.


Kembali untuk sekian kalinya Hambali mengeryitkan dahinya melihat beberapa lembar Foto berserakan diatas lantai.


Pria itu pelan-pelan membungkuk dan mengambil salah satu Foto yang tergeletak diatas lantai.


Kembali mata pria parubaya itu terbelalak melihat siapa dalam Foto tersebut.


👉tetap beri like, vote, coment, rate bintang lima ya ..makasih.