
Tidak lama kemudian, mobil yang di tumpangi oleh Tina dan Dewi sudah tiba di depan pintu gerbang kediaman mereka.
Pak Satpam yang bertugas saat itu segera berlari kecil ketika melihat kendaraan majikanya berhenti di depan pintu gerbang sambil membunyikan klakson lumayan nyaring.
"Kenapa lama sekali membukanya" ucap Tina sambil mengeluarkan sedikit kepalanya dan membentaki Pak Satpam yang saat itu sedang membuka gembok pintu tersebut.
"Maaf Saya Nyonya." ucap Pak Satpam sambil membuka lebar pintu pagar tersebut.
"Maaf-maaf, hanya itu saja yang bisa kamu ucapkan setiap kali kamu melakukan kesalahan. Sekali lagi kamu berbuat seperti ini maka, siap-siap saja Aku akan menendangmu keluar dari rumah ini." ucap Tina menjalankan kembali mobilnya lebih masuk kedalam sana.
"Benar-benar majikan yang menakutkan." ucap Pak Satpam menutup kembali pintu pagar tersebut dan tak lupa menguncinya kembali.
Setelah tiba di garasi mobil Tina mematikan mesin mobilnya dan keluar dari dalam sana di susul oleh Dewi.
"Dewi, Kamu jangan memberi tau Hambali kalau Gisel itu adalah istri Aldo. Biar ini jadi rahasia kita berdua. Kalau sampai tua bangka itu mengetahuinya, dia pasti akan takut untuk menyakiti anak sialan itu." ucap Tina mencegah langkah Dewi untuk sesaat sebelum mereka memasuki rumah.
"Baik ...mam! percaya saja padaku." balas Dewi.
Mereka berdua melangkah ke arah pintu masuk kemudian menuju ke arah ruang tamu untuk beristirahat sejenak, sebelum masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Dari arah sofa ruang tamu, tampak seorang pria parubaya duduk di sana dengan menyilang kedua kakinya berbentuk hurup x sambil membaca majalah bisnis. Ya siapa lagi kalau bukan sang penguasa rumah itu Hambali.
Tina dan Dewi langsung menuju kesana dan ikut duduk diatas sofa bersama dengan Hambali.
"Siang sayang! Kayaknya lagi sibuk ya!" ucap Tina mrngelayut mesrah di lengan Hambali.
Sebelum berbicara Hambali meletakkan majalah yang dibacanya tadi diatasnya meja yang terbuat dari kaca trasparan.
"Bagaimana! apa kalian berhasil mempengaruhi Nyonya Elin agar menikahkan Tuan Aldo dengan putrimu." ucap Hambali menatap kearah Tina.
"Kenapa Kamu tidak menjawab apa kamu Tuli Tina." bentak Hambali sehingga membuat Tina dan Dewi sontak memegangi dada mereka sakin kagetnya dengan suara bentakan Hambali.
"Sayang! Sebenarnya kami sudah berhasil membujuk Nyonya Elin untuk menikahkan Tuan Aldo dengan Dewi.Tapi sayang Gisel tiba-tiba muncul dan menceritakan semua peristiwa yang terjadi saat kamu mengusirnya dari rumah ini, sehingga Nyonya Elin begitu marah dan mengusir kami seperti anjing keluar dari dalam rumahnya. Kalau kamu tidak percaya tanya saja pada Dewi. Benarkan Dewi apa yang Mama ucapkan?." ucap Tina memandang kearah Dewi sambil mengedipkan satu matanya dengan tujuan memberi kode pada Dewi untuk membenarkan ucapannya itu.
"Benar Pa! semua yang diucapkan Mama barusan benar adanya. Gisel muncul dan memojokkan keluarga kita di depan Nyonya Elin dan Tuan Aldo. Sebenarnya sudah ada kode yang mereka berikan kepada kami tapi sayang, seperti yang mama ucapkan tadi muncul Gisel dan membocorkan semua rahasia keluarga kita pada Nyonya Elin dan Aldo." ucap Dewi dengan raut wajah sedih.
"Sial! Kalian berdua jangan coba-coba membohongiku dengan mengarang cerita yang tidak masuk diakal. Aku tahu siapa Tuan Aldo dan Nyonya Elin. Mereka berdua tidak bakalan cepat percaya dengan orang yang baru mereka kenal.Kalian berdua dengarkan baik baik, kalau sampai kalian tidak bisa menaklukkan hati Nyonya Elin dan Tuan Aldo maka, bersiap-siaplah untuk henkang dari rumahku ini." ucap Hambali berdiri dan melangkah menuju arah pintu keluar.
"Tapi sayang! Kami sudah melakukan yang terbaik tapi sayang, Gisel membatalkan semua rencana kita dengan cara menjatuhkan martabat keluarga kita di depan Nyonya Elin dan Tuan Aldo." ucap Tina sedikit berteriak kearah Hambali yang sudah sedikit jauh meninggalkan tempat itu.
"Sial! kenapa semua rencana kita bisa gagal seperti ini." ucap Tina sambil membanting tas kecil miliknya keatas lantai, sehingga isi dalam tas tersebut berhamburan entah kemana.
Dewi yang melihat Ibunya begitu stres mendekat dan mengusap-usap punggungnya.
"Mama tenanglah! dalam kondisi seperti ini kita harus berpikir jernih. Satu rencana kita gagal masih banyak rencana lain terbentang di depan mata." ucap Dewi memberi semangat pada Tina agar tidak cepat putus asa.
Mendengar ucapan Dewi, Tina bagai diberi suatu kekuatan besar. Perempuan parubaya tersebut tersenyum indah dan menatap kearah Dewi.
"Betul ucapanmu Dewi! Aku akan melakukan permainan kotor seperti yang di lakukan Hambali dulu pada Diana. Akan ku balik namakan semua harta Hambali menjadi milikku. Hambali-hambali apa kamu lupa siapa yang mengerjakan semua itu kalau bukan Aku sehingga orang- orang tidak mencurigaimu kalau sebenarnya semua surat-surat yang kamu miliki itu adalah palsu. Baiklah, kalau itu keinginanmu, kita lihat saja nanti siapa yang pertama akan terdepak dari rumah ini. Kamu atau Aku." ucap Tina dengan wajah memerah.
"Bagus Mam, akhirnya Mama bisa bangkit. Jangan biarkan Hambali dan Gisel mengambil haknya yang nyata-nyatanya sudah di depan mata kita." ucap Dewi terus saja memberikan semangat pada Ibunya walau dengan cara yang salah.
Benarlah kata pepatah buah tidak akan jatuh jauh dari pohonya kecuali terbawa oleh kelelawar atau burung.
👉tetap beri like, coment, vote dan rate bintang lima ya trimah kasih.